Saturday, November 22, 2014

Cerita Konfusius dan Yan Hui Muridnya


Yan Hui adalah murid kesayangan Konfusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat. Pembeli berteriak : “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata : “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi.”
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Konfusius. Benar atau salah Konfusius yang berhak mengatakan.”
Yan Hui : “Baik, jika Konfusius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain : “Kalau Konfusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”
Yan Hui : “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.”
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Konfusius. Setelah Konfusius tahu duduk persoalannya, Konfusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia.”
Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Konfusius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas. Walaupun Yan Hui menerima penilaian Konfusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Konfusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan
keluarga. Konfusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Konfusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasihat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.”
Yan Hui menjawab, “Baiklah,” lalu berangkat pulang.
Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat Konfusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.
“Apakah saya akan membunuh orang?”
Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Konfusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.
Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Konfusius, berlutut dan berkata : “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”
Konfusius berkata : “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.
Yan Hui berkata : “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”
Jawab Konfusius : “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar-benar malu.” Sejak itu, kemanapun Konfusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Tuesday, October 7, 2014

Menyembunyikan Kepahitan

Di riwayatkan suatu ketika ada seorang lelaki Fakir dari Ahli suffah mendatangi Rasulullah dengan membawa cawan yang di penuhi oleh buah Anggur, di hadiahkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Rasulullah mengambil cawan itu kemudian memulai memakannya
Rasulullah memakan Anggur pertama kemudian beliau tersenyum....
Rasulullah memakan buah anggur kedua beliaupun tersenyum lagi.
Lelaki Fakir tersebut serasa Hampir terbang karena saking gembiranya.
Sedangkan Para sahabat menunggu, sebab sudah merupakan kebiasaan Rasulullah akan mengajak para sahabat bergabung bersama Rasulullah dalam setiap hadiah yang di berikan kepada beliau.
Rasulullah memakan Anggur satu persatu sambil tersenyum, demi Ayah dan ibu ku sampai Habislah buah anggur yang ada dalam cawan itu.
Para Sahabat memandangnya Keheranan.
Giranglah si lelaki fakir tersebut dengan kegirangan tak terhingga. kemudian ia pergi.
Lalu bertanyalah salah seorang Sahabat. "Wahai Rasulullah, Kenapa engkau tidak mengajak kami bergabung makan bersama mu?
Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam tersenyum, lalu menjawab :
Sungguh kalian telah melihat si lelaki fakir sangat kegirangan dengan cawan yang berisi buah Anggur itu.
Sesungguhnya manakala aku mencicipi buah Anggur tersebut, Aku rasakan Pahit rasanya.
Jadi aku tidak mengajak kalian untuk makan bersama, sebab aku khawatir kalian akan menampakkan rasa pahit di wajah kalian sehingga dapat merusak kegembiraan si lelaki fakir tersebut.
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظيم
Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang mulia.
Pelajaran yg berharga...

Thursday, June 12, 2014

Kekuatan Memaafkan (Kisah Rasulullah saw Menghadapi Tsumamah)

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala Tsumamah datang, Sayyidinaa Umar bin Khattab ra, yang melihat gelagat buruk pada penampilannya menghadang.
Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?”
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”.
Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah SAW,
Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”.
Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya: “Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah saw? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!”
Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau saw berkata: “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”. Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah,
Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaaha illallaah” (Tiada ilah selain Allah).”
Tsumamah menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”. Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.”
Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!”
Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muahammad Rasul Allah.”
Rasulullah tersenyum dan bertanya: “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?”
Tsumamah menjawab: “Aku tidak mengucapkannya ketika belum engkau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keredhaan “Allah, tuhan semesta Alam”.
Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal ra berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu (dan msuk islam) tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain sayyidinaa Muhammad saw.”

Bersabar Menghadapi Cacian dan Hinaan

Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertandang ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq, yang tiada lain adalah mertua sekaligus sahabat rasul. Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.
Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.
Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut. Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.
Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, janganlah engkau biarkan aku dalam keadaan yang sangat bingung. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!”
Rasulullah menjawab, “Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnahan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas, aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.
Hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.”
Setelah itu menangislah Abu Bakar ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang terselubung.
SubhanAllah…
“Maka bersabarlah engkau dengan kesabaran yang baik.” (QS.Al-Ma’arij : 5)

Tuesday, April 8, 2014

Ujub Yang Tersembunyi

Pada hari Perang Uhud, Thalhah bin Ubaidillah menjaga keselamatan Rasulullah saw dengan jiwanya. Ia lindungi Rasulullah saw dengan badannya sehingga ia terkena panah tapak tangannya.
Maka jadilah Thalhah seakan-akan terkena sifat ujub dengan perbuatan yang besar itu, karena ia telah menebus dari Rasulullah dengan nyawanya itu sehingga ia berdarah.
Maka senantiasa Umar memperhatikan perbuatan Thalhah yang demikian itu lalu berkata, “Maka senantiasa Thalhah dikenal dengan sifat “na’wun”, yaitu semenjak anak jarinya terkena panah bersama Rasulullah saw.
(HR Al Bukhari)

Na’wun menurut arti bahasa adalah ujub. Hanya bahwasanya tidak diriwayatkan pada Thalhah ia menampakkan rasa ujubnya dan tidak pula meremehkan orang muslim.
Pada waktu bermusyawarah, Ibnu Abbas bertanya kepada Umar ra, “Bagaimana pendapatmu tentang Thalhah?” Umar ra menjawab, “Dia itu seorang lelaki yang ada padanya rasa megah diri.”
Maka apabila tidak terlepas orang-orang yang seperti mereka dari ujub, maka bagaimanakah orang-orang yang lemah jikalau mereka tidak menjaga diri!

(Ihya Ulumuddin, Bab Sombong dan Ujub)

Friday, April 4, 2014

Rasulullah saw Menentang Rasialisme

Abu Dzar berkata, “Saya bertengkar hebat dengan seorang lelaki di sisi Nabi saw, lalu saya berkata kepada lelaki itu,’ Hai anak lelaki wanita hitam!’

Maka Nabi saw bersabda:
“Hai Abu Dzar! Sha’ adalah meninggi, sha’ telah meninggi! Tidak ada kelebihan bagi anak lelaki wanita putih atas anak lelaki wanita hitam.”

(HR Ibnu Mubarak)

Kesombongan Hati Seseorang Terlihat Dari Wajahnya

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki disebut-sebut baik di hadapan Nabi saw. Maka pada suatu hari lelaki itu datang kepada Nabi saw, lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah! Inilah orang yang kami sebut-sebut baik padamu.”

Lalu Nabi bersabda,
“Sesungguhnya saya melihat pada wajahnya ada noda hitam dari syetan.”

Kemudian lelaki itu sampai kepada Nabi dan mengucapkan salam kepadanya.
Maka Nabi saw berkata kepadanya,
“Saya bertanya kepadamu dengan nama Allah apakah kiranya benar dirimu membisikkan kepadamu bahwasanya tidak ada dalam golonganmu orang yang lebih baik daripada kamu.”

Lelaki itu terus berkata, “Ya Allah, ya memang benar.”

Maka Rasulullah telah melihatnya dengan cahaya kenabian, sesuatu yang yang ada dalam hatinya dari noda hitam pada muka lelaki itu.


(HR Ahmad)