Tuesday, August 1, 2017

Kisah Batu Mulia dan Para Manusia Rakus

Pada suatu hari yang cerah saat sedang melintas di area yang jarang dilalui orang banyak seorang pria menyadari sebuah kilatan muncul dari sebuah tempat di dalam tanah, ia segera mendekati dan membongkar tanah yang menutupi kilatan tersebut dan menemukan sebongkah besar batu mulia. Demikian besar batu tersebut hingga ia perlu mengeluarkan upaya cukup besar untuk mengangkatnya dari dalam tanah. Namun, saat sang pria itu hendak mengangkat batu mulia itu dari tanah, tiba terdengar sang batu berkata-kata, "Wahai manusia, sesungguhnya aku bersembunyi di sini untuk mencegah orang tersakiti. Kalau engkau mengangkatku dari dalam tanah maka ketahuilah bahwa bahaya akan mendatangimu dan kedamaian tidak akan pernah bertahan di hatimu selama engkau masih memilikiku. Maka tolong sebelum terlambat, tinggalkanlah aku disini!"

Namun sang pria yang sudah dipenuhi hasrat kekayaan, kemahsyuran dan kekuasaan tidak mau mendengar sepatahpun kata sang batu mulia, sebaliknya ia menjawab ketus, "Kamu batu tidak tahu untung! Justru aku membawamu untuk menaikkan derajatmu daripada tertimbun dalam kegelapan tanah." Dan ya, dalam hatinya sang pria tahu ia pun menginginkan kemahsyuran dan derajat tinggi di mata masyarakat. Ia pun bergegas membawa pulang sang batu mulia.

Dalam hitungan hari kabar besar tentang penemuan batu mulia itu mulai tersebar, orang mulai mengambil antrian panjang untuk melihatnya, tak kurang petinggi kerajaan dan orang-orang tersohor mulai berdatangan ingin menemui sang pria pemilik batu mulia terbesar yang mereka pernah lihat itu. Hingga di hari ketujuh, empat orang perampok bayaran mendatangi rumah sang pemegang batu mulia saat tengah malam, ketika sebagian besar orang terlelap dalam tidur. Malang tak dapat dihindari, dalam upayanya menyelamatkan batu mulia yang demikian ia cintai ia tidak hanya kehilangan tangannya namun juga kepalanya dipenggal tanpa kenal belas kasih oleh sang perampok.

Ketika batu mulia dibawa lari oleh sekelompok perampok itu, ia mulai lagi berkata-kata, "Sudah cukup korban yang jatuh, tolong buang aku sekarang juga karena keberadaanku di tangan kalian hanya akan membawa bahaya bagi diri kalian sendiri!" Lagi-lagi para manusia yang telah dirasuki hawa tamak ini tidak mau mendengar saran batu yang dapat berbicara itu. Di tengah perjalanan, saat mereka beristirahat satu persatu berkesempatan memegang dan memerhatikan keindahan sang batu mulia dari dekat, dan tak ayal lagi gelora kerakusan dalam diri makin menyala, masing-masing membayangkan bagaimana jika dirinya sendiri yang memiliki batu itu dan tidak usah dibagi dengan kawannya yang lain. Maka diam-diam masing-masing menyusun siasat licik dalam diamnya. Menjelang pagi rencana busuk itu mulai dieksekusi yang pada akhirnya mendatangkan kematian bagi mereka semua.

***

Begitulah jika kekayaan yang dikejar hanya sebatas kekayaan material dan dunia, maka orang hanya akan jungkir balik, berkeringat dan bersusah payah untuk suatu perlombaan yang tidak ada garis akhirnya. Manusia bahkan rela menyakiti sesama untuk sekadar meraih ambisinya. Ibarat diberi emas segunung, maka orang akan menginginkan gunung kedua - demikian Sang Nabi sudah mewanti-wanti. Meraup kekayaan dunia itu bagaikan minum air laut, semakin banyak diminum akan semakin bertambah haus, hingga satu-satunya yang dapat memenuhi mulut manusia adalah segumpal tanah kubur.

Bukan berarti tidak boleh memiliki dunia, yang dilarang adalah mencintainya. Genggam dunia dalam tanganmu dan jangan masukkan ia ke dalam hatimu, demikian pesan Sayyidina Ali kw. Rasulullah saw bersabda :

Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi)

Adapun seorang mukmin dilatih untuk melihat harta yang lebih berharga dibanding sesuatu yang bersifat fisik, harta-harta itu berupa akhlak yang baik berupa kesabaran, kesyukuran, mulai tidak mengeluh, diberi kecergasan badan untuk beribadah, memaafkan, semuanya merupakan rezeki yang tak ternilai yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya yang bersyukur. 

(Adaptasi dari "The Gem and The Greedy Man", 101 stories for children of all ages. M.R. Bawa Muhaiyyaddeen. Fellowship Press, Philadelphia, 2006)

Saturday, July 8, 2017

Mengenal Miryam: Kakak Perempuan Nabi Musa as.

Mengenal Miryam : Kakak Perempuan Musa as.
Kisah kelam ihwal pembantaian para bayi laki-laki itu berawal dari mimpi yang dialami Firaun dalam tidurnya ia melihat seakan-akan ada kobaran api dari Baitul Maqdis yang bergejolak mendekat kepadanya. Api itu membakar dan bangunan kerajaan dan menghanguskan komunitas Qibthi di Mesir, tetapi kobaran api itu sama sekali tidak membakar komunitas Bani Israil di negeri itu. Ketika Firaun terbangun dari tidurnya, ia sangat terkejut dengan mimpi yang baru saja dialaminya. Setelah itu, ia segera mengumpulkan para dukun, tunag sihir, dan tukang tenung untuk menafsirkan arti mimpinya itu. Ia meminta petunjuk dari mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mereka pun berkata, "Akan lahir anak laki-laki dari kalangan Bani Israil yang menjadi penyebab hancurnya negeri Mesir di bawah kekuasaannya." Oleh sebab itu, Firaun memerintahkan para prajuritnya untuk membunuh setiap anak laki-laki sedangkan anak-anak perempuan dibiarkan hidup.

Kekejaman ini berlangsung selama bertahun-tahun. Setiap pasangan Bani Israil yang baru menikah akan dicatat dan dipantau sembilan bulan kemudian untuk diperiksa apakah pernikahan itu membuahkan anak atau tidak, dan dalam salah satu riwayat dikisahkan para bidan kerajaan yang bertugas membantu kelahiran diperintahkan untuk langsung membuang bayi yang baru lahir itu ke Sungai Nil untuk dibiarkan tenggelam jika yang terlahir adalah seorang bayi laki-laki.

Dalam suasana yang mencekam itu Imran, yang merupakan keturunan imam di garis keluarga Levi memutuskan untuk bercerai dari istrinya Yokhebed, khawatir dalam penyatuan mereka akan melahirkan anak lelaki lain, saat itu mereka sudah memiliki satu anak perempuan bernama Miryam dan anak laki-laki bernama Harun yang sudah berusia sekitar dua tahun ketika perintah Firaun diluncurkan, sehingga ia terbebas dari perintah pembunuhan yang ditujukan hanya untuk semua bayi laki-laki yang baru dilahirkan.

Miryam, sang anak berkata lantang menentang rencana ayahnya untuk bercerai, "Keputusan ayah ini lebih buruk dibanding titah Firaun. Adapun perintah Firaun hanya akan memutuskan orang tua dari anak laki-lakinya akan tetapi keputusan ayah akan membuat anak perempuan terputus juga dari orang tuanya." Imran, sang lelaki bijak membatalkan keputusannya untuk bercerai yang kemudian diikuti juga oleh keluarga Bani Israil lain, maklum saja keluarga Imran adalah panutan mereka. Bahkan Miryam pun pada usianya yang muda (sekitar 5 tahun) sudah diakui sebagai orang terang. Adalah Miryam juga yang mengatakan kalimat nubuwah, "Ibuku akan melahirkan anak laki-laki yang akan menyelamatkan Bani Israil."

Tercatat dalam sejarah bahwa Yokhebed sebenarnya sudah mengandung selama tiga bulan saat Imran menikahinya kembali. Oleh karenanya Musa lahir lebih awal dibandingkan perkiraan para petugas pencatat yang biasanya kembali pada bulan kesembilan setelah pernikahan. Saat Musa dilahirkan cahaya bersinar di rumah itu, Imran kemudian memanggil Miryam dan berkata "Nak, ramalanmu telah menjadi kenyataan." Kemudian bayi Musa sempat diasuh dalam balutan kasih sayang keluarga itu dalam kurun waktu tiga bulan lamanya, dan ia berhasil disembunyikan dari pantauan para pegawai kerajaan. Hingga kemudian Yokhebed, menerima wahyu dari Allah Ta'ala - untuk mengalirkan bayi Musa ke dalam sungai Nil. Peristiwa yang menunjukkan martabat ketaqwaan yang tinggi dari seorang perempuan yang juga berasal dari garis keturunan para imam dari keluarga Levi di Bani Israil. Petunjuk yang diturunkan kepada Yokhebed diabadikan dalam Al Quran, surat Al Qashash:7,

"Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; 'Susuilah ia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke dalam sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul."

Dengan hati yang dipenuhi tawakal kepada Allah Ta’ala sang ibu mengalirkan bayi Musa yang baru berusia beberapa bulan itu ke dalam sungai Nil di dalam tabut, kemudian atas perintah ibu Miryam mengikuti sejauh mana sang adik terbawa mengikuti aliran sungai. Hingga akhirnya saat sungai melintasi daerah istana tampaklah bahwa para dayang memungut Musa yang masih ada di dalam tabut yang tertutup dari tepi sungai Nil, tetapi saat itu mereka tidak berani membukanya. Akhirnya, mereka meletakkan peti itu di hadapan istri Firaun yang bernama Asiyah binti Muzahim. Berkat Asiyah-lah maka Firaun akhirnya mau menerima bayi Musa untuk dirawat dalam lingkungan kerajaan.
Lalu Allah Ta’ala membuat bayi Musa tidak mau disusui oleh perempuan manapun yang berusaha menyusuinya. Disini peran Miryam sang kakak perempuan Musa kembali muncul, dikisahkan bahwa Miryam saat itu merupakan salah satu bidan kerajaan di usianya yang muda belia ia sudah dipercayai melakukan aktivitas dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Miryam-lah yang memberi saran kepada siapa sang bayi hendak dicoba disusui.

"Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya, hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa seandainya tidak Kami teguhkan hatinya supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).
Ibu Musa berkata kepada saudara Musa yang perempuan: 'Ikutilah ia,' maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh sementara mereka tidak mengetahuinya.
Kami cegah Musa dari menyusui kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu. Lalu berkatalah saudara Musa: 'Maukah aku tunjukkan kepada kalian keluarga yang akan memeliharanya untuk kalian dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?
'Kami kembalikan Musa kepada ibunya supaya senang hatinya dan tidak berdukacita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS Al Qashash:10-13)

Selain itu Miryam yang salah satu arti namanya berasal dari kata “mar” (מר) dalam bahasa Ibrani yang berarti "air", kehidupannya memiliki asosiasi yang kuat dengan kejadian di air, yaitu saat memantau bayi Musa di sungai Nil, saat memimpin kaum perempuan menyebrangi Laut Merah beserta Musa dan umatnya sambil melantunkan puji-pujian bagi Tuhan dan diabadikan dalam Perjanjian Lama pasal Keluaran 15:1  ; dan juga dalam tradisi Bani Israil dikenal istilah "Sumur Miryam", yaitu mukjizat sumber air yang keluar di dataran kering saat Bani Israil berkelana pasca penyeberangan di Laut Merah. Dikisahkan bahwa kekeringan melanda Bani Israil setelah Miryam tiada yang akhirnya membuat Musa as memecah batu dan darinya mengalir dua belas mata air.

"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.
Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan." (QS al-Baqarah [2]: 60).

Ihwal wafatnya Miryam tertulis di dalam Taurat, "Seluruh rombongan Bani Israil tiba di Gurun Tzin pada bulan pertama, dan orang-orang berkumpul di Kadesh. Miryam menghembuskan nafas terakhirnya di sana dan dimakamkan di tempat yang sama" (Bilangan 20:1). Dikabarkan kepergian Miryam adalah sebuah kematian yang indah dan tidak menyakitkan yang diungkapkan sebagai dijemput oleh ciuman kematian "kiss of death". Keagungan dan keberkahan kiranya terlimpah kepada mereka yang menolong para utusan-Nya.[]

Referensi:
1.       Wikipedia. Miriam. https://en.wikipedia.org/wiki/Miriam. 5 Juli 2017.
2.       Andrews, M. Miriam: A Treasure of the Nile. Waterbrook Press, 2016. Colorado.
3.       Crawford, SW. Traditions about Miriam in the Qumran Scrolls. University of Nebraska - Lincoln, 2003.

4.       Katsir I. Kisah Para Nabi. Qisthi Press, Jakarta, 2015.

Thursday, May 25, 2017

Kedahsyatan Dzikir 'Laa Hawla Walaa Quwwata

Seorang sahabat Nabi yang bernama 'Auf bin Malik Al Asyja'i pergi menemui Rasulullah Saw dan bertanya, "Ya Rasulullah sesungguhnya anakku Malik pergi bersamamu berperang di jalan Allah dan ia belum pulang, apa yang harus saya perbuat? Padahal seluruh pasukan sudah pulang."

Rasulullah Saw bersabda, "Ya 'Auf perbanyaklah bagi kamu dan istrimu berdzikir 'laa hawla wa laa quwwata illa billah' - tiada daya dan upaya selain dari Allah'"

Auf kemudian pulang dan menemui sang istri yang tengah menanti kabar tentang kepulangan anaknya juga. Melihat suaminya datang sang istri sholihah bertanya, "Wahai 'Auf, apa yang diberitakan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam?"
'Auf menjawab, "Beliau mewasiatkan bagi kita agar banyak berdzikir laa hawla wa laa quwwata illabillah'".  Kemudian suami istri itu melaksanakan pesan Rasulullah.

Sampai saat malam yang gelap tiba, seketika ada yang mengetuk pintu, ketika 'Auf membuka pintu ternyata anaknya Malik datang sambil membawa banyak sekali domba sebagai ghonimah (harta rampasan perang).

Melihat ayahnya yang terkejut Malik mencoba menjelaskan, "Sesungguhnya musuh telah menangkapku dan mengikat dengan rantai besi pada kedua tangan dan kakiku. Ketika malam tiba saya berusaha keras untuk kabur tapi tidak bisa karena kuatnya ikatan rantai besi tersebut. Namun tiba-tiba rantai itu menjadi longgar sehingga kaki dan tangan saya bisa lepas. Kemudian ada malaikat yang membawa saya hingga saya bisa pulang secepat kilat menempuh perjalanan jauh malam ini."

Subhanallahi al 'adzim

Wednesday, May 24, 2017

Pengabdian At Tirmidzi Kepada Sang Bunda

Suatu hari, ketika cahaya surya yang terik melecut bumi seorang anak lelaki bernama Abu Abdullah Hakim Al-Tirmidzi memutuskan untuk mengembara bersama dengan dua sahabatnya, menuntut ilmu. Namun niat luhur itu kandas, lantaran sang ibu tidak menyetujui keberangkatannya.
“Wahai buah hatiku, mengapa Ananda tega meninggalkan wanita yang sudah renta tak berdaya ini? Bila engkau pergi, tidak ada lagi seorang pun yang Ibunda miliki. Sebab selama ini engkaulah tempat sandaranku. Lalu kepada siapa Ananda akan menitipkan Ibunda yang sebatang kara dan lemah ini? Kata Ibundanya bercucuran air mata.
Apa boleh buat, ia terpaksa mengurungkan niatnya, sementara kedua sahabatnya berangkat. Keberangkatan kedua sahabatnya itu sering membuat Tirmidzi termenung. Suatu hari ia duduk termenung di sebuah makam, membayangkan kedua sahabatnya yang akan pulang. “Oh sedihnya aku, tiada seorangpun memperdulikan orang bodoh seperti aku. Sedangkan kedua sahabatku akan kembali sebagai orang terpelajar dan berpendidikan,” katanya, dalam hati sangat sedih.
Tanpa disadari, muncul seorang kakek dengan wajah teduh. “Mengapa engkau menangis, anakku?” tanya si kakek. Maka Tirmidzi pun menceritakan perihal kegundahan hatinya. Mendengar itu si kakek menawarkan kepada Tirmidzi untuk belajar kepadanya. “Maukah engkau belajar kepada saya setiap hari, sehingga engkau dapat melampaui kedua sahabatmu itu dalam waktu singkat?” kata sang kakek. Tentu saja Tirmidzi sangat senang. “Baik aku bersedia,” katanya berseri-seri.
Hari demi hari, kakek tua itu mengajar Tirmidzi. Sekitar tiga tahun kemudian, barulah Tirmidzi menyadari bahwa si kakek itu sesungguhnya adalah Nabi Khidir. “Rupanya inilah keberuntungan yang kuperoleh karena telah berbakti kepada Ibuku dengan penuh ketulusan hati,” katanya dalam hati.[]

Wednesday, February 8, 2017

Kisah Tentang Kebersyukuran

Beberapa kali ia menatap kosong ke arah layar komputer yang berada di hadapannya. Pikirannya tengah digelayuti oleh ide bahwa dirinya gagal dan tidak sesukses teman-temannya dalam ukuran pencapaian dunia. Pekerjaan sebagai petugas administrasi di sebuah kantor tata kota yang pada awalnya dia sambut gembira kini bagaikan daun tumbuhan yang lapuk dan membusuk di ujung jalanan, hanya menunggu untuk dibuang ke tempat sampah. Istrinya yang setia mendampinginya selama lebih dari 8 tahun dan menjadi anak ibu dari dua anaknya kini rasanya tampak biasa saja, bahkan kerap kali tidak seseksi rekan barunya yang duduk di seberang dengan dandanan genit dan minyak wangi yang bertebaran wanginya setiap kali ia lewat di depannya.
Kenapa hidupku rasanya jadi tidak menyenangkan begini?
Kenapa aku tidak merasa bahagia?
Kenapa...(tiba-tiba suara adzan memecah semua imajinasi kelamnya)
Sang pemuda, dalam sendunya masih ingat Sang Pencipta. Kiranya pesan almarhumah ibunda masih selalu terngiang di telinganya. "Kalau kamu punya kesulitan, sujud sama Gusti Allah, minta pertolongan-Nya."
Ia pun menyambut panggilan sang muadzin dan beranjak ke masjid yang terletak di sebelah kantornya.
Seusai sholat berjamaah, sang pemuda mengambil tempat menyepi di ujung mesjid untuk berdzikir. Tak lama kemudian telefon bergetar, suara panik dari seberang menusuk-nusuk telinganya, "Rumah kebakaran pak! Ibu! Ibu!...." suara Bi Imas, sang asisten rumah tangga setengah berteriak. Bagaikan petir di siang bolong, kabar itu membuat sang pemuda terkejut dan tak berpikir dua kali untuk langsung menuju rumahnya.
Bangunan di perumahan yang masih dicicil itu sudah tak berbentuk lagi, tinggal puing-puing semata. Semua harta benda yang ia tinggal di rumah termasuk kendaraan hitam legam. Dan...sang istri dan anak-anaknya yang terperangkap di dalam rumah sudah dalam keadaan tidak bernyawa...
Tiba-tiba sekeliling mendadak menjadi gelap dan kakinya tidak dapat lagi dirasakan. Sang pemuda terjatuh pingsan.
"Pak..pak...maaf!" ia kemudian dibangunkan oleh suara seorang bapak tua yang memakai peci putih. Sang pemuda mengenali wajahnya, ia adalah bapak sang penjaga mesjid yang terletak di sebelah kantornya itu.
"Itu handphone-nya tampaknya nyala" lanjut sang bapak tua sambil mengarahkan telunjuknya pada hp sang pemuda yang tergeletak tak jauh dari saku bajunya.
Rupanya ia tertidur sekejap dalam upayanya untuk berdzikir selepas sholat dhuhur.
Ia meraba jantungnya, masih berdegup kencang karena mimpi buruk yang telah dialaminya. Tanpa menanti sang pemuda langsung mengambil handphone dan menghubungi istrinya yang baru saja pulang menjemput kedua buah hatinya dari sekolah.
"Sayang, malam ini papa pulang lebih cepat, tidak usah masak ya kita dan anak-anak akan makan di restoran favorit kita!"
Selepas 'pengalaman tidur siang'itu sang pemuda tiba-tiba menjadi jauh lebih bahagia. Ternyata kebahagiaan yang ia cari tidak jauh, ia selalu ada. Ia ada dalam tubuhnya yang sehat dan masih bisa digunakan untuk mencari nafkah, ia ada dalam sambutan hangat istri dan anak-anaknya di rumah, ia ada dalam pekerjaan biasa yang mampu menyediakan kebutuhan istri dan anak-anaknya Ternyata sekadar bayangan kehilangan apa-apa yang tengah kita miliki bisa jadi obat mujarab untuk membasuh hati yang kurang bersyukur. Sungguh Allah Maha Cepat menyambut pencarian sang hamba♥

Thursday, November 3, 2016

Kisah Imam Ghazali Berguru Kepada Tukang Daging

Suatu hari Imam Ghazali melakukan shalat berjamaah bersama adiknya. Sang kakak menjadi imam ketika di tengah-tengah shalat adik Imam Ghazali tiba-tiba memisahkan diri dan membatalkan bermakmum kepadanya. Setelah selesai shalat bertanyalah Imam Ghazali kepada adiknya perihal mengapa ia memisahkan diri dari shalat berjamaah. Lantas sang adik menjawab, "Bagaimana aku hendak bermakmum denganmu, aku melihat tubuhmu penuh bersimbah darah, oleh karena itulah maka aku memisahkan diri dari berjamaah shalat denganmu."

Mendengar jawaban itu, Imam Ghazali menjadi merenung, perihal darah yang dilihat adiknya itu bukanlah darah secara fisik, ia kemudian teringat bahwa ketika itu beliau sedang menulis tentang permasalahan haidh dan memang benar saat shalat pemikiran tentang isi tulisan itu terbawa-bawa, tampaknya Allah telah menzahirkan apa yang sedang beliau pikirkan itu ke penglihatan batin adiknya.

Imam Ghazali kemudian terkesan dengan hal ini lantas bertanya kembali kepada sang adik, "Bagaimana kamu bisa mendapatkan derajat penglihatan batin seperti ini, sudilah kiranya engkau memberitahukanku dari siapa kau mempelajari hal ini?"
Adiknya kemudian menjawab, "Duhai kakak, engkau sungguh tidak layak belajar kepadanya bukankah engkau orang yang mahsyur sedangkan guruku ini tukang daging biasa di pasar." Namun Imam Ghazali terus mendesak hingga akhirnya sang adik setuju untuk membawanya berjumpa dengan sang guru.

Di pasar, mereka mendatangi seorang penjual daging. Lalu adiknya memberitahu itulah gurunya. Imam Ghazali lalu berkata kepada sang penjual daging, "Tuan saya mohon untuk belajar ilmu dengan Tuan."
Sang penjual daging menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Aku tidak mempunyai ilmu untuk diajarkan kepadamu."
Imam Ghazali merayu sekali lagi, "Tolong tuan, ajarilah saya. Ajarkanlah saya ilmu yang Tuan miliki itu." Namun sang penjual daging tetap tidak mau memenuhi keinginan Imam Ghazali. Sehingga akhirnya Imam Ghazali berkata kepada penjual daging tersebut, "Ajarilah saya. Saya serahkan diri saya kepada Tuan bagaikan mayat menyerahkan diri kepada yang memandikannya."

Sang penjual daging mulai meliriknya dan berkata, "Baiklah, lepaskan jubah kebesaranmu itu (jubah yang dipakai Imam Ghazali karena beliau merupakan orang tertinggi di Universitas Nizamiyyah). Lalu bersihkan meja tempat aku memotong daging dengan jubahmu itu!"
Tanpa berpikir panjang Imam Ghazali lalu memenuhi keinginan sang tukang daging itu. Setelah selesai Imam Ghazali berkata kepada sang penjual daging, "Sekarang ajarilah aku ilmumu." Lalu sang penjual daging berkata, "Baiklah, esok pagi datanglah ke rumahku selepas Subuh."

Keesokan harinya tepat selepas subuh Imam Ghazali telah menanti sang penjual daging di depan rumahnya. Saat melihat kehadiran Imam Ghazali segera sang tukang daging menyuruhnya untuk memotong rumput di halaman rumahnya. Imam Ghazali pun dengan sigap melakukan apa yang diminta dan ketika pekerjaannya selesai dan ia meminta diajari ilmu olehnya maka jawaban sang tukang daging sama dengan hari sebelumnya, "Datanglah kembali selepas subuh esok hari."

Hari kedua Imam Ghazali kembali menepati janjinnya datang tepat selepas subuh dan sang tukang daging sudah menantinya dengan memberikan tugas lain, setiap hari semakin berat dan semakin menjijikkan. Kali ini sang tukang daging menyuruh Imam Ghazali untuk membersihkan selokan yang kotor di sekitar rumahnya. Saat pekerjaan selesai di akhir hari dan Imam Ghazali bertanya mengenai ilmu yang akan diajarkan kepadanya kembali sang tukang daging memintanya untuk kembali ke rumahnya selepas subuh.

Hari ketiga Imam Ghazali dengan tekun datang tepat sebelum subuh dan seperti biasa sang tukang daging telah menantinya seraya memberikan tugas untuk membersihkan saluran tinja yang ada di rumahnya. Tanpa perasaan terhina dalam hati sang Imam menimba ember yang berisi kotoran manusia dan melaksanakan pekerjaannya seharian penuh. Di akhir hari sang penjual daging berkata, "Sekarang pulanglah, segala ilmu yang ingin kamu ketahui telah engkau dapatkan."

Dalam perjalanan pulang Imam Ghazali terkejut karena apa yang dikatakan oleh gurunya sang tukang daging itu benar adanya, pandangannya tersingkap dan ia dapat melihat dan mengerti tentang ilmu yang lebih tinggi.

*****

Seringkali kita mengeluh merasa terdampar mengerjakan sesuatu yang 'remeh -temeh' dan jauh dari penghargaan orang, padahal Allah Ta'ala telah menetapkan segala sesuatu yang terbaik untuk kita dengan presisi.

Untuk mereka yang merasa pekerjaannya begitu-begitu saja dan ngga begitu keren,
untuk para ibu yang berjibaku mengurus anak-anak di rumah dan jauh dari glamor 'kenaikan pangkat, gaji dan penghargaan masyarakat'
untuk mereka yang kehidupannya dianggap 'kurang sukses'di mata kebanyakan orang.
Jangan terkecoh dengan cemoohan orang dan tetaplah tegak berjalan karena Anda telah menjaga kemuliaan diri dan keluarga dengan tidak meminta-minta atau mendapatkan rezeki dengan jalan yang baik (tidak menipu, korupsi atau mengais harta riba).

Belajar dari kisah Imam Ghazali di atas, bisa jadi cahaya ilmu yang menyinari hati justru didapatkan bukan dari penelaahan yang canggih di perpustakaan atau di pusat-pusat ilmu, tapi sesimpel mengerjakan apa yang ditugaskan per hari ini yang Ia letakkan di tangan kita, apapun itu.

Carpe diem!

Friday, August 26, 2016

Saat Ismail as Diperintahkan Mengganti Istrinya

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi Ismail semakin dewasa, ia pun menikah dengan seorang wanita yang tinggal di sekitar sumur Zamzam. Tidak lama kemudian ibu Ismail; Hajar meninggal dunia.
Di kemudian hari Ibrahim datang setelah Ismail menikah untuk mengetahui kabarnya, namun dia tidak menemukan Ismail. Ibrahim bertanya tentang Ismail kepada istri Ismail. Istrinya menjawab, “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.” Lalu Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Ismail menjawab, “Kami mengalami banyak keburukan, hidup kami sempit dan penuh penderitaan yang berat.” Istri Ismail mengadukan kehidupan yang dijalaninya bersama suaminya kepada Ibrahim. Ibrahim berkata, “Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengubah palang pintu rumahnya.”
Ketika Ismail datang dia merasakan sesuatu lalu dia bertanya kepada istrinya; “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ada orang tua begini dan begitu keadaannya datang kepada kami dan dia menanyakan kamu lalu aku terangkan dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahwa aku hidup dalam kepayahan dan penderitaan.” Ismail bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?” Istrinya menjawab, “Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mengubah palang pintu rumahmu.” Ismail berkata, “Dialah ayahku dan sungguh dia telah memerintahkan aku untuk menceraikan kamu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu.” Maka Ismail menceraikan istrinya.
Kemudian Ismail menikah lagi dengan seorang wanita lain dari kalangan penduduk yang tinggal di sekitar itu lalu Ibrahim pergi lagi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yang dikehendaki Allah. Setelah itu, Ibrahim datang kembali untuk menemui mereka namun dia tidak mendapatkan Ismail hingga akhirnya dia mendatangi istri Ismail lalu bertanya kepadanya tentang Ismail. Istrinya menjawab, “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.” Lalu Ibrahim bertanya lagi, “Bagaimana keadaan kalian?” Dia bertanya kepada istrinya Ismail tentang kehidupan dan keadaan hidup mereka. Istrinya menjawab, “Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan cukup.” Istri Ismail juga memuji Allah. Ibrahim bertanya, “Apa makanan kalian?” Istri Ismail menjawab, “Daging.” Ibrahim bertanya lagi, “Apa minuman kalian? Istri Ismail menjawab, “Air.” Maka Ibrahim berdoa, “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka.”
Ibrahim selanjutnya berkata, “Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah dia agar memperkokoh palang pintu rumahnya.”
Ketika Ismail datang, dia berkata, “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ada orang tua dengan penampilan sangat baik datang kepada kita dan istrinya memuji Ibrahim. Dia bertanya kepadaku tentang kamu, maka aku terangkan lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita, maka aku jawab bahwa aku dalam keadaan baik.” Ismail bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?” Istrinya menjawab, “Ya.” Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mempertahankan palang pintu rumahmu.” Ismail berkata, “Dialah ayahku dan palang pintu yang dimaksud adalah kamu. Dia memerintahkanku untuk mempertahankan kamu.”[]