Wednesday, February 8, 2017

Kisah Tentang Kebersyukuran

Beberapa kali ia menatap kosong ke arah layar komputer yang berada di hadapannya. Pikirannya tengah digelayuti oleh ide bahwa dirinya gagal dan tidak sesukses teman-temannya dalam ukuran pencapaian dunia. Pekerjaan sebagai petugas administrasi di sebuah kantor tata kota yang pada awalnya dia sambut gembira kini bagaikan daun tumbuhan yang lapuk dan membusuk di ujung jalanan, hanya menunggu untuk dibuang ke tempat sampah. Istrinya yang setia mendampinginya selama lebih dari 8 tahun dan menjadi anak ibu dari dua anaknya kini rasanya tampak biasa saja, bahkan kerap kali tidak seseksi rekan barunya yang duduk di seberang dengan dandanan genit dan minyak wangi yang bertebaran wanginya setiap kali ia lewat di depannya.
Kenapa hidupku rasanya jadi tidak menyenangkan begini?
Kenapa aku tidak merasa bahagia?
Kenapa...(tiba-tiba suara adzan memecah semua imajinasi kelamnya)
Sang pemuda, dalam sendunya masih ingat Sang Pencipta. Kiranya pesan almarhumah ibunda masih selalu terngiang di telinganya. "Kalau kamu punya kesulitan, sujud sama Gusti Allah, minta pertolongan-Nya."
Ia pun menyambut panggilan sang muadzin dan beranjak ke masjid yang terletak di sebelah kantornya.
Seusai sholat berjamaah, sang pemuda mengambil tempat menyepi di ujung mesjid untuk berdzikir. Tak lama kemudian telefon bergetar, suara panik dari seberang menusuk-nusuk telinganya, "Rumah kebakaran pak! Ibu! Ibu!...." suara Bi Imas, sang asisten rumah tangga setengah berteriak. Bagaikan petir di siang bolong, kabar itu membuat sang pemuda terkejut dan tak berpikir dua kali untuk langsung menuju rumahnya.
Bangunan di perumahan yang masih dicicil itu sudah tak berbentuk lagi, tinggal puing-puing semata. Semua harta benda yang ia tinggal di rumah termasuk kendaraan hitam legam. Dan...sang istri dan anak-anaknya yang terperangkap di dalam rumah sudah dalam keadaan tidak bernyawa...
Tiba-tiba sekeliling mendadak menjadi gelap dan kakinya tidak dapat lagi dirasakan. Sang pemuda terjatuh pingsan.
"Pak..pak...maaf!" ia kemudian dibangunkan oleh suara seorang bapak tua yang memakai peci putih. Sang pemuda mengenali wajahnya, ia adalah bapak sang penjaga mesjid yang terletak di sebelah kantornya itu.
"Itu handphone-nya tampaknya nyala" lanjut sang bapak tua sambil mengarahkan telunjuknya pada hp sang pemuda yang tergeletak tak jauh dari saku bajunya.
Rupanya ia tertidur sekejap dalam upayanya untuk berdzikir selepas sholat dhuhur.
Ia meraba jantungnya, masih berdegup kencang karena mimpi buruk yang telah dialaminya. Tanpa menanti sang pemuda langsung mengambil handphone dan menghubungi istrinya yang baru saja pulang menjemput kedua buah hatinya dari sekolah.
"Sayang, malam ini papa pulang lebih cepat, tidak usah masak ya kita dan anak-anak akan makan di restoran favorit kita!"
Selepas 'pengalaman tidur siang'itu sang pemuda tiba-tiba menjadi jauh lebih bahagia. Ternyata kebahagiaan yang ia cari tidak jauh, ia selalu ada. Ia ada dalam tubuhnya yang sehat dan masih bisa digunakan untuk mencari nafkah, ia ada dalam sambutan hangat istri dan anak-anaknya di rumah, ia ada dalam pekerjaan biasa yang mampu menyediakan kebutuhan istri dan anak-anaknya Ternyata sekadar bayangan kehilangan apa-apa yang tengah kita miliki bisa jadi obat mujarab untuk membasuh hati yang kurang bersyukur. Sungguh Allah Maha Cepat menyambut pencarian sang hamba♥

Thursday, November 3, 2016

Kisah Imam Ghazali Berguru Kepada Tukang Daging

Suatu hari Imam Ghazali melakukan shalat berjamaah bersama adiknya. Sang kakak menjadi imam ketika di tengah-tengah shalat adik Imam Ghazali tiba-tiba memisahkan diri dan membatalkan bermakmum kepadanya. Setelah selesai shalat bertanyalah Imam Ghazali kepada adiknya perihal mengapa ia memisahkan diri dari shalat berjamaah. Lantas sang adik menjawab, "Bagaimana aku hendak bermakmum denganmu, aku melihat tubuhmu penuh bersimbah darah, oleh karena itulah maka aku memisahkan diri dari berjamaah shalat denganmu."

Mendengar jawaban itu, Imam Ghazali menjadi merenung, perihal darah yang dilihat adiknya itu bukanlah darah secara fisik, ia kemudian teringat bahwa ketika itu beliau sedang menulis tentang permasalahan haidh dan memang benar saat shalat pemikiran tentang isi tulisan itu terbawa-bawa, tampaknya Allah telah menzahirkan apa yang sedang beliau pikirkan itu ke penglihatan batin adiknya.

Imam Ghazali kemudian terkesan dengan hal ini lantas bertanya kembali kepada sang adik, "Bagaimana kamu bisa mendapatkan derajat penglihatan batin seperti ini, sudilah kiranya engkau memberitahukanku dari siapa kau mempelajari hal ini?"
Adiknya kemudian menjawab, "Duhai kakak, engkau sungguh tidak layak belajar kepadanya bukankah engkau orang yang mahsyur sedangkan guruku ini tukang daging biasa di pasar." Namun Imam Ghazali terus mendesak hingga akhirnya sang adik setuju untuk membawanya berjumpa dengan sang guru.

Di pasar, mereka mendatangi seorang penjual daging. Lalu adiknya memberitahu itulah gurunya. Imam Ghazali lalu berkata kepada sang penjual daging, "Tuan saya mohon untuk belajar ilmu dengan Tuan."
Sang penjual daging menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Aku tidak mempunyai ilmu untuk diajarkan kepadamu."
Imam Ghazali merayu sekali lagi, "Tolong tuan, ajarilah saya. Ajarkanlah saya ilmu yang Tuan miliki itu." Namun sang penjual daging tetap tidak mau memenuhi keinginan Imam Ghazali. Sehingga akhirnya Imam Ghazali berkata kepada penjual daging tersebut, "Ajarilah saya. Saya serahkan diri saya kepada Tuan bagaikan mayat menyerahkan diri kepada yang memandikannya."

Sang penjual daging mulai meliriknya dan berkata, "Baiklah, lepaskan jubah kebesaranmu itu (jubah yang dipakai Imam Ghazali karena beliau merupakan orang tertinggi di Universitas Nizamiyyah). Lalu bersihkan meja tempat aku memotong daging dengan jubahmu itu!"
Tanpa berpikir panjang Imam Ghazali lalu memenuhi keinginan sang tukang daging itu. Setelah selesai Imam Ghazali berkata kepada sang penjual daging, "Sekarang ajarilah aku ilmumu." Lalu sang penjual daging berkata, "Baiklah, esok pagi datanglah ke rumahku selepas Subuh."

Keesokan harinya tepat selepas subuh Imam Ghazali telah menanti sang penjual daging di depan rumahnya. Saat melihat kehadiran Imam Ghazali segera sang tukang daging menyuruhnya untuk memotong rumput di halaman rumahnya. Imam Ghazali pun dengan sigap melakukan apa yang diminta dan ketika pekerjaannya selesai dan ia meminta diajari ilmu olehnya maka jawaban sang tukang daging sama dengan hari sebelumnya, "Datanglah kembali selepas subuh esok hari."

Hari kedua Imam Ghazali kembali menepati janjinnya datang tepat selepas subuh dan sang tukang daging sudah menantinya dengan memberikan tugas lain, setiap hari semakin berat dan semakin menjijikkan. Kali ini sang tukang daging menyuruh Imam Ghazali untuk membersihkan selokan yang kotor di sekitar rumahnya. Saat pekerjaan selesai di akhir hari dan Imam Ghazali bertanya mengenai ilmu yang akan diajarkan kepadanya kembali sang tukang daging memintanya untuk kembali ke rumahnya selepas subuh.

Hari ketiga Imam Ghazali dengan tekun datang tepat sebelum subuh dan seperti biasa sang tukang daging telah menantinya seraya memberikan tugas untuk membersihkan saluran tinja yang ada di rumahnya. Tanpa perasaan terhina dalam hati sang Imam menimba ember yang berisi kotoran manusia dan melaksanakan pekerjaannya seharian penuh. Di akhir hari sang penjual daging berkata, "Sekarang pulanglah, segala ilmu yang ingin kamu ketahui telah engkau dapatkan."

Dalam perjalanan pulang Imam Ghazali terkejut karena apa yang dikatakan oleh gurunya sang tukang daging itu benar adanya, pandangannya tersingkap dan ia dapat melihat dan mengerti tentang ilmu yang lebih tinggi.

*****

Seringkali kita mengeluh merasa terdampar mengerjakan sesuatu yang 'remeh -temeh' dan jauh dari penghargaan orang, padahal Allah Ta'ala telah menetapkan segala sesuatu yang terbaik untuk kita dengan presisi.

Untuk mereka yang merasa pekerjaannya begitu-begitu saja dan ngga begitu keren,
untuk para ibu yang berjibaku mengurus anak-anak di rumah dan jauh dari glamor 'kenaikan pangkat, gaji dan penghargaan masyarakat'
untuk mereka yang kehidupannya dianggap 'kurang sukses'di mata kebanyakan orang.
Jangan terkecoh dengan cemoohan orang dan tetaplah tegak berjalan karena Anda telah menjaga kemuliaan diri dan keluarga dengan tidak meminta-minta atau mendapatkan rezeki dengan jalan yang baik (tidak menipu, korupsi atau mengais harta riba).

Belajar dari kisah Imam Ghazali di atas, bisa jadi cahaya ilmu yang menyinari hati justru didapatkan bukan dari penelaahan yang canggih di perpustakaan atau di pusat-pusat ilmu, tapi sesimpel mengerjakan apa yang ditugaskan per hari ini yang Ia letakkan di tangan kita, apapun itu.

Carpe diem!

Friday, August 26, 2016

Saat Ismail as Diperintahkan Mengganti Istrinya

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi Ismail semakin dewasa, ia pun menikah dengan seorang wanita yang tinggal di sekitar sumur Zamzam. Tidak lama kemudian ibu Ismail; Hajar meninggal dunia.
Di kemudian hari Ibrahim datang setelah Ismail menikah untuk mengetahui kabarnya, namun dia tidak menemukan Ismail. Ibrahim bertanya tentang Ismail kepada istri Ismail. Istrinya menjawab, “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.” Lalu Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Ismail menjawab, “Kami mengalami banyak keburukan, hidup kami sempit dan penuh penderitaan yang berat.” Istri Ismail mengadukan kehidupan yang dijalaninya bersama suaminya kepada Ibrahim. Ibrahim berkata, “Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengubah palang pintu rumahnya.”
Ketika Ismail datang dia merasakan sesuatu lalu dia bertanya kepada istrinya; “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ada orang tua begini dan begitu keadaannya datang kepada kami dan dia menanyakan kamu lalu aku terangkan dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahwa aku hidup dalam kepayahan dan penderitaan.” Ismail bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?” Istrinya menjawab, “Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mengubah palang pintu rumahmu.” Ismail berkata, “Dialah ayahku dan sungguh dia telah memerintahkan aku untuk menceraikan kamu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu.” Maka Ismail menceraikan istrinya.
Kemudian Ismail menikah lagi dengan seorang wanita lain dari kalangan penduduk yang tinggal di sekitar itu lalu Ibrahim pergi lagi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yang dikehendaki Allah. Setelah itu, Ibrahim datang kembali untuk menemui mereka namun dia tidak mendapatkan Ismail hingga akhirnya dia mendatangi istri Ismail lalu bertanya kepadanya tentang Ismail. Istrinya menjawab, “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.” Lalu Ibrahim bertanya lagi, “Bagaimana keadaan kalian?” Dia bertanya kepada istrinya Ismail tentang kehidupan dan keadaan hidup mereka. Istrinya menjawab, “Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan cukup.” Istri Ismail juga memuji Allah. Ibrahim bertanya, “Apa makanan kalian?” Istri Ismail menjawab, “Daging.” Ibrahim bertanya lagi, “Apa minuman kalian? Istri Ismail menjawab, “Air.” Maka Ibrahim berdoa, “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka.”
Ibrahim selanjutnya berkata, “Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah dia agar memperkokoh palang pintu rumahnya.”
Ketika Ismail datang, dia berkata, “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ada orang tua dengan penampilan sangat baik datang kepada kita dan istrinya memuji Ibrahim. Dia bertanya kepadaku tentang kamu, maka aku terangkan lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita, maka aku jawab bahwa aku dalam keadaan baik.” Ismail bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?” Istrinya menjawab, “Ya.” Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mempertahankan palang pintu rumahmu.” Ismail berkata, “Dialah ayahku dan palang pintu yang dimaksud adalah kamu. Dia memerintahkanku untuk mempertahankan kamu.”[]

Thursday, May 19, 2016

Rasulullah SAW Pun Menanggung Rasa Lapar

"Assalaamu'alaikum wahai putriku, bagaimana kabarmu di pagi ini?" Sapa Rasulullah SAW saat memasuki rumah anak perempuannya Fatimah r.a.

"Saya pada waktu pagi ini dalam keadaan sakit dan bertambah sakit, karena sesungguhnya saya tidak mampu untuk memperoleh makanan yang akan saya makan. Maka saya menjadi lemah karena kelaparan."

Maka menangislah Rasulullah SAW, seraya berkata:
"Jangan kamu berkeluh kesah, wahai putriku. Demi Allah, saya pun tidak merasakan makan sejak tiga hari. Dan sesungguhnya saya lebih mulia di sisi Allah daripadamu. Dan seandainya saya meminta kepada Tuhanku, niscaya Dia akan menganugerahiku makanan. Akan tetapi saya lebih mengutamakan akhirat dari dunia."

Kemudian Rasulullah menepuk bahu Fatimah dengan tangannya, seraya berkata:
"Bergembiralah kamu (hai Fatimah)! sesungguhnya kamu adalah penghulu wanita penduduk syurga."

(Dari Kitab Ihya 'Ulumuddin)

Wednesday, April 13, 2016

Semua Karena Rahmat-Nya Semata

Dalam sebuah Hadits Riwayat Shahih Muslim yang cukup panjang, Diriwayatkan dari Muhammad Bin Mukadir, dan juga diriwayatkan oleh Jabir, Rasulullah datang kepada kami, lalu Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

”Baru saja Jibril datang kepadaku tadi, Jibril berkata:

”Hai Muhammad, Demi Allah: ”Bahwasanya ada seseorang melakukan ibadah kira-kira lima ratus tahun diatas puncak sebuah gugung yang luas, panjangnya 30 X 30 hasta, dan lautan yang melingkar di sekitarnya seluas 4000 farsakh dari setiap penjuru, di bawah gunung tersebut terdapat sumber air jernih kira-kira satu jari lebarnya, dan terdapat pula pohon buah delima yang sengaja disediakan oleh ALLAH untuknya dimana setiap hari mengeluarkan buahnya satu biji.

Setiap sore sesudah berwudlu, buah tersebut diambil dan dimakan, kemudian dia melakukan shalat seraya berdo’a mohon diambil nyawanya ditengah tengah melakukan sujud, agar tubuhnya tidak tersentuh Bumi atau yang lainnya, hingga ia bangkit di hari kiamat tengah bersujud kepada ALLAH. Maka permohonannya dikabulkan ALLAH, karena itu setiap kami lewat (naik-turun Langit) pasti dia tengah bersujud.”

Lanjut Jibril:”Kami temukan tulisnya (ceritanya) di lauhil mahfudz, bahwa: ia akan dibangkitkan kelak dihari kiamat dalam keadaan masih tetap bersujud dan diajukan kepada ALLAH, FirmanNya:”Masukkanlah hamba-Ku ini ke sorga karena Rahmat-Ku.” Tetapi hamba itu menjawab: ”Melainkan karena amalku semata.”

Lalu ALLAH menyuruh Malaikat untuk menghitung semua amalnya dibanding nikmat pemberianNya, dan ternyata setelah penotalan amal keseluruhan selesai, dan dimulai dengan menghitung nikmatnya mata saja sudah melebihi pahala ibadahnya sepanjang 500 tahun, padahal nikmat-nikmat yang lain-lainnya jauh lebih besar dan berharga.

Lalu ALLAH berFirman: ”Lemparkan ia ke dalam Neraka.” Kemudian Malaikat membawanya dan akan dilemparkan ke dalam Neraka, tetapi di tengah perjalanan menuju Neraka, ia menyadari kekeliruannya dan menyesal seraya berkata:”Ya ALLAH, masukkanlah aku ke surga karena Rahmat-Mu.”

Akhirnya Firman-Nya kepada Malaikat:”Kembalikanlah ia.”

Lalu ditanya ia:”Siapakah yang menciptakan kamu dari asalnya (tiada)?.”

Jawabnya:”Engkau ya ALLAH.”

Lalu hal itu dikarenakan amalmu ataukah Rahmat-Ku?.”

Jawabnya:”Karena Rahmat-Mu.”

Siapakah yang menguatkanmu beribadah selama lima ratus tahun?.”

Jawabnya lagi:”Engkau ya ALLAH.”

“Dan siapakah yang menempatkan kamu diatas Gunung dikelilingi lautan di sekitarnya, dikaki Gunung tersebut memancar sumber air tawar, dan tumbuh pohon delima yang buahnya kau petik setiap sore, padahal menurut hukum adat, delima hanya berbuah sekali dalam setahun, lalu kau minta mati dalam keadaan bersujud, siapa yang melakukan itu semua?.”

Jawabnya:” Engkau ya ALLAH.” FirmanNya:”Maka sadarlah kamu, bahwa itu semua adalah semata karena Rahmat-Ku, dan sekarang Aku masukkan kamu ke surga semata karena Rahmat-Ku.”

Kemudian Jibril berkata:”Segala-galanya dia alam ini bisa terjadi/ada, semua hanya karena rahmat ALLAH semata.”

Friday, April 8, 2016

Batu Berukir Pengingat Kematian

“Tatkala Sulaiman bin Abdul Malik berada di Masjidil Haram, tiba-tiba ada yang menyodorkan selembar batu yang berukir. Lalu dia meminta orang yang dapat membacanya. Ternyata di batu itu tertulis:
Wahai anak Adam, andaikan engkau tahu sisa umurmu, tentu engkau tidak akan berangan-angan yang muluk-muluk, engkau akan beramal lebih banyak lagi dan engkau tidak akan terlalu berambisi.
Penyesalanmu akan muncul jika kakimu sudah tergelincir dan keluargamu sudah pasrah terhadap keadaan dirimu, dan engkau akan menigngalkan anak serta keturunan.
Saat itu engkau tidak bisa kembali lagi ke dunia dan tidak bisa lagi menambah amalmu. Berbuatlah untuk menghadapi hari kiamat, hari yang diwarnai penyesalan dan kerugian.”

Friday, March 25, 2016

Kisah Orang Yang Marah Kepada Tuhan

Pada suatu hari seorang ulama berkelana dan melintasi sebuah desa. Di sekat sebuah pohon rindang ia melihat seorang laki-laki sedang bersimpuh dan menangis tersedu-sedu. Sang ulama mendekati orang itu dan terdengarlah sang laki-laki sedang berkata dalam tangisannya, "Oh Tuhan, Engaku sungguh ada? Apakah Engkau sungguh Tuhan Yang Maha Kuasa? Lalu kenapa doaku tidak juga dikabulkan? Semua tetangga dan temanku hidupnya sudah makmur, mereka memiliki tanah dan harta sedangkan aku tidak punya semua itu dan hidup miskin. Engkau sungguh tidak adil Tuhan!"

Sang ulama kemudian menyapanya dan berkata, "Wahai anakku, kenapa engkau meratap seperti ini?"
"Hey orang tua, apa urusanmu? Aku hanya berdoa itu saja."Jawab si laki-laki itu dengan ketus, kemudian ia berkata "Aku telah berdoa berpuluh tahun lamanya tapi mana jawaban Tuhan? Siang dan malam aku beribadah kepada-Nya sesuai yang Ia inginkan tapi mana balasan untukku? Adapun Ia telah menjadikan teman dan tetanggaku kaya dan sukses tapi aku? Aku bukan siapa-siapa, aku seorang pecundang!"

Sang ulama yang bijak kemudian berkata dengan lembut, "Wahai anakku, coba ingat-ingat pada saat temanmu lahir ke muka bumi ini, apakah ia membawa sesuatu dengannya? Begitu juga dengan tetanggamu apakah ia lahir dengan membawa emas dan harta? Adapun temanmu, engkau tentu tumbuh bersama dengannya, apakah ia kaya sejak dahulu kala?"

"Tidak, orang tuanya bercocok tanam dan kemudian meraih sukses dari usahanya, itulah kenapa mereka menjadi kaya raya sekarang."

"Ya, kamu benar."Jawab sang ulama dengan tersenyum. "Sekarang, lihatlah dirimu sendiri, badanmu masih kuat, matamu masih tajam melihat, Tuhanlah yang memberikan kepadamu semua kekuatan badan ini bukan? Sama seperti yang diberikan kepada tetangga dan temanmu, hanya kemudian mereka menggunakan pemberian Tuhan tersebut untuk bekerja keras, ia memerah keringat untuk menggarap lahannya, suatu pekerjaan yang tidak mudah. Bumi ini luas dan akan membuahkan hasil bagi siapapun yang mau bekerja keras."

"Apakah kamu pernah perhatikan ayam kampung? Tidak ada yang memberinya makan namun ia rajin mematuk-matuk makanan di tanah. Juga sapi, ia mencari makanannya di lapangan rumput. Juga burung bangun di pagi hari dengan perut kosong namun mereka senantiasa pulang dalam keadaan kenyang. Anakku, sadarilah bahwa ketika Tuhan menciptakan ciptaan-Nya maka Ia juga telah menyediakan makanan dan segala kebutuhannya. Namun semua harus berusaha dan mencarinya."

"Tuhan tidak pernah dusta, ia selalu menjawab doa hamba-Nya, rezeki yang kau minta itu ada di sekitarmu tapi kamu harus bangkit dan menyingsingkan lengan baju untuk meraihnya, itulah aturan main di dunia ini. Sekarang bangkitlah dan jelang rezekimu!"

Sang laki-laki tersadar bahwa selama ini ia terlalu berleha-leha dalam hidup dan kurang bekerja keras. Maka ia bertekad untuk merubah perilakunya mulai saat itu.

Tahun demi tahun telah berlalu, sang ulama kemudian lewat kembali ke desa tersebut dan menemukan sang laki-laki itu telah hidup makmur, ia memiliki tanah dan keluarga bahagia.
Sang lelaki masih mengenali sang ulama dan berkata, "Wahai pak tua, terima kasih atas saranmu dulu, aku kemudian mencari kerja di sebuah pertanian dan bertahun-tahun aku bekerja keras sehingga aku memiliki tanah sendiri dan kini aku telah berkeluarga dan memiliki anak, kebahagiaanku semakin lengkap."

Sang ulama menjawab, "Aku ikut berbahagia anakku, sekarang apakah engkau masih menyalahkan Tuhan?"

"Oh pak tua, aku sungguh malu dengan tabiatku dulu. Aku menyadari bahwa itu bukan salah-Nya, adalah aku yang malas dan kurang bekerja keras. Engkau benar, bahwa untuk setiap ciptaan telah ada kantung rezekinya masing-masing dan aku telah memperolehnya."

Demikianlah anakku, apapun yang terjadi dalam kehidupan jangan salahkan Tuhan, namun introspeksi kenapa kita belum mampu melihat cahaya kebenaran-Nya. Surga dan neraka ada dalam diri masing-masing, kita yang menentukan apakah ingin hidup dalam kebahagiaan surga atau kesengsaraan neraka, oleh karenanya kendalikan pikiran dan keinginanmu yang liar, tundukkan jiwa dengan mengerjakan apa-apa yang Tuhan dan para rasul-Nya ajarkan, sesungguhnya semua itu adalah obat bagi jiwa yang cenderung gelisah dalam ketidakpuasan. Hartamu ada di dalam dirimu, ada di dalam takdirmu, dalam hari-harimu, di sekitarmu , sangat dekat denganmu, maka raihlah dengan cara-cara yang mulia...

(Adaptasi dan terjemahan dari "The Man Who Blamed God. 101 stories for children all ages."Muhammad Raheem Bawa Muhaiyyaddeen. Guru sufi di Philadephia Amerika. The Fellowship Press, 1981)