Wednesday, February 21, 2018

Akhir Indah Sang Ahli Maksiat

Suatu ketika Allah Ta'ala memerintahkan pada Nabi Musa, "Wahai Musa, datanglah engkau ke satu desa dimana ada wali-Ku disana, uruslah dan layani dia".
Maka Nabi Musa segera mendatangi desa yang dimaksud. Namun alangkah kagetnya Nabi Musa tatkala menjumpai orang tersebut telah meninggal tergeletak di tempat pembuangan sampah. Lebih kaget lagi, karena ketika jenazah tersebut mau diurus oleh Nabi Musa, penduduk sekitar melarang dan malah marah dengan Nabi Musa. Ternyata menurut penuturan penduduk, orang tersebut adalah ahli maksiat dan sering meresahkan warga.
Akhirnya Nabi Musa melaporkan kondisi orang yang Allah Ta'ala sebut sebagai wali tersebut.
Lantas kemudian Allah Ta'ala menjawab,"Wahai Musa, memang benar dia adalah ahli maksiat sepanjang hidupnya, akan tetapi ketika mendekati waktu ajal nya, dia dengan tulus memohon ampunan pada-Ku, dia merasa tidak punya siapapun kecuali Aku, dan dia tidak menggantungkan nasibnya nanti kecuali hanya pada-Ku. Sebab ridhanya pada-Ku, maka Aku pun ridha padanya". []

Friday, January 26, 2018

Kisah Musa as Saat Menerima Sepuluh Perintah Allah


Ketika Allah memberikan Sepuluh Perintah kepada Musa as, tiba-tiba pikirannya tertuju kepada istrinya, Safura’ ia memikirkan keadaannya. Karena pikirannya sempat melayang, Musa as tidak dapat mendengar suara Allah ketika Allah tengah menurunkan perintahNya yang ketiga.
Allah lalu memanggil Musa as, “Dimanakah engkau? Musa! Kemana engkau pergi?” Allah menyeru Musa as sekali, dua kali bahkan tiga kali, akan tetapi Musa as tidak mendengar-Nya. Untuk keempat kalinya Allah berseru lebih lantang, “Musa! Dimana engkau?”

Barulah Musa as tersadar dan berkata, “Oh, ya Allah, terpujilah diriMu, aku disini, aku disini.”

Allah kemudian berkata, “Tendanglah batu yang engkau sedang berdiri di atasnya itu.”

Ketika Musa as menendangnya, sang batu terbelah dua. Di dalamnya ada genangan air dan ada katak kecil sedang mengulum daun di mulutnya. Sang katak lalu lompat menjauh.

Allah bertanya, “Apa yang engkau lihat Musa?”
“Wahai Allah, di dalam batu itu terdapat katak kecil dengan daun hijau berada di mulutnya dan ada genangan air di dalam batu itu.”

Allah bertanya kembali, “Musa, apakah engkau melihat katak itu sebelumnya?”

“Tidak,”jawabnya, “Tidak, wahai Allah, aku tidak melihatnya.”

“Engkau sekarang tahu tentang katak itu, bukankah demikian? Siapa kiranya yang menyediakan air bagi sang katak? Siapa yang memberinya daun hijau? Siapa yang menyimpannya di dalam batu? Apakah Dia yang tidak lupa memberi makan katak itu akan lupa memberi makan istrimu Safura’?”

Lalu Musa as memanjatkan pujian kepada Allah dalam sebuah syair seperti ini: “Wahai Engkau yang memberi makan katak di dalam batu, yang memelihara seluruh kehidupan, memelihara daun-daun dan rerumputan. Siapa lagi yang dapat melakukan hal ini, wahai Allah?”
---
Demikianlah anakku, Allah Maha Kuasa. Dia tidak akan mungkin melupakanmu. Dia yang tidak pernah lupa akan seekor katak yang tersembunyi di dalam batu. Dia tidak akan melupakan satu pun ciptaan-Nya. Allah tidak akan meninggalkanmu. Allah tidak akan pernah lupa memerhatikan bahkan semut yang kecil seperti itu. Maka milikilah keyakinan kepada Allah. Engkau harus memiliki keyakinan kepada Dia yang tidak pernah melupakan dirimu. Jika engkau memiliki pikiran seperti itu, memiliki iman, keyakinan dan keteguhan hati seperti itu, engkau akan selalu menyadari bahwa Dia selalu menyaksikan dirimu. Dia hadir dalam semua kehidupan. Dia yang memelihara matahari, bulan dan bintang-bintang. Renungkanlah hal ini wahai anakku. Engkau dapat mengambil hikmah dari kisah Musa as.

(Dikutip dari "The Story of Moses as on Mount Sinai". Muhammad Raheem Bawa Muhaiyyaddeen. 101 Stories for Children. The Fellowship Press, Philadelphia, 1981)

Thursday, January 25, 2018

Kisah Nabi Muhammad dan Sang Nelayan

Suatu ketika Muhammad Mustafa-Rasul Saw diangkat ke langit untuk bertemu dan berbicara dengan Allah. Perjalanan itu disebut dengan mi’raj. Muhammad Saw menembus tujuh langit dan bertemu dengan para nabi: Idris, Ishak, Ayyub, Ya’qub, Yusuf, Adam, Ibrahim, Yunus, Musa dan lainnya, shalawat dan salam bagi mereka semua. Adalah sang malaikat Jibril as yang memperkenalkan setiap nabi kepada Muhammad saw di tujuh langit tersebut.

Saat Muhammad Saw kembali dari mi’raj, ia menceritakan perjalanannya kepada para sahabat, tentang tujuh surga, tujuh neraka dan tentang keagungan dan kebesaran Allah. Beliau juga menceritakan ihwal para rasul yang ia temui dan keindahannya masing-masing. Ia bercerita tentang keberadaan banyak murid yang ada di hadapan Nabi Yusuf as, tentang Nabi Musa as di langit keenam, Nabi Ibrahim di langit ketujuh, dan Nabi Isa as di langit kedua. Beliau pun menceritakan anugerah yang Allah limpahkan kepada setiap rasul.

Ketika Sang Nabi Saw tengah menuturkan kisahnya, seorang nelayan melintas, ia tengah berbicara kepada dirinya sendiri. Sang nelayan baru saja pulang dari menangkap ikan di laut dan dalam perjalanan pulang dengan membawa hasil tangkapan. Ia bergumam, “Kedatangan Muhammad ke negeri ini hanya membawa musibah. Orang-orang berubah. Negeri ini hancur. Sejak Muhammad datang ke Mekkah, kehidupan dunia menjadi rusak. Dasar engkau tukang sihir, pendusta dan sekarang engkau menyebarkan berita bahwa dirimu telah bertemu Tuhan. Oh engkau sungguh pembohong yang nyata!” Sang nelayan itu mengomel sepanjang jalan hingga ia sampai ke rumah dan menyerahkan ikan hasil tangkapan kepada istrinya sambil berkata, “Masaklah, aku akan mandi di danau dan kembali untuk makan.”

Ketika ia berjalan ke arah danau, lagi-lagi ia mengomel mengutuk Muhammad Saw. Lalu ia menanggalkan seluruh pakaiannya kecuali pakaian dalam dan membenamkan dirinya di dalam air danau. Ketika tubuhnya masuk ke dalam air, hal yang aneh terjadi, badannya berpindah ke sebuah danau yang terletak lebih dari 2000 km. Danau ini terletak di tengah hutan, dan badan sang nelayan sekarang berubah menjadi seorang perempuan cantik.

Pada saat yang sama sang raja di daerah itu sedang mendekat ke danau untuk mengambil air. Ia baru saja berburu dan dalam keadaan lelah. Akan tetapi ketika ia melihat keindahan sang perempuan yang ada di danau - yang bagaikan bulan purnama - wajahnya menjadi riang, “aku harus menikahimu,”kata sang raja. Singkat cerita ia menikahinya dan membawanya pulang ke istana.

Tahun demi tahun berlalu, sang perempuan telah melahirkan tujuh anak. Saat itu anak yang paling besar berusia tujuh tahun dan yang bungsu berusia satu tahun, mereka semua dibawa ke danau untuk dimandikan. Saat sang ibu menginjakkan kaki ke dalam danau untuk memandikan anak-anaknya, ia kemudian berubah ke wujud semula dan kembali di danau dekat rumahnya. Lalu ia keluar dari danau kembali sebagai seorang laki-laki.

Sang nelayan itu masih menemukan bajunya di tempat ia terakhir kali melepaskannya, lalu ia pun bergegas mengenakannya dan pulang untuk bertemu istrinya. Sang istri baru saja membersihkan ikan yang baru diperolehnya dan masih harus dimasak. Sang nelayan lalu langsung memukulnya dan berteriak, “Apakah engkau tidak menungguku selama tujuh tahun ini? Kamu masak untuk siapa?”
Istrinya menangis, “Oh engkau pendosa! Dirimu yang memberi ikan ini barusan, kenapa engkau memukulku? Aku sedang memasak untukmu.”
“Selama bertahun-tahun aku telah pergi,”ia berkata. “Anakku yang sulung sudah berusia tujuh tahun, aku telah melahirkan tujuh anak. Aku sekarang kembali kepadamu dan menceritakan apa yang telah aku alami!” sang nelayan kembali melampiaskan kemarahan dengan memukul istrinya.
Saat itu seorang laki-laki tengah melintas dekat rumah dan ketika mendengar keributan ini ia pun lari ke dalam rumah untuk membantu, “Mengapa engkau memukuli perempuan ini?”tanyanya.
Sang nelayan malah berteriak , “Engkau pasti kekasih istriku,” “Kamu pasti orang yang sedang dimasakkan makanan oleh istriku!” lalu sang nelayan itu langsung memukuli lelaki yang berusaha menolong itu.

Kemudian terjadilah keributan yang besar hingga seluruh penduduk datang, mereka berkata “Ada apa ini? Sang nelayan itu mengaku telah melahirkan tujuh anak selama bertahun-tahun. Dia pasti gila!”

“Aku baru saja melihat dirimu keluar dari rumah dalam waktu yang tak lama,” kata seorang laki-laki.

“Tidak, tidak, tidak, kalian berbohong kepadaku!” sang nelayan masih berteriak. “Kamu pasti telah menjadi kekasih istriku selama ini.”

Akhirnya orang-orang memutuskan sesuatu, “Mari kita bawa perkara ini kepada seseorang bernama Muhammad yang mengetahui semua rahasia. Apa yang sang nelayan dan istrinya katakan adalah dua hal yang jauh berbeda. Tidak ada di antara kita yang dapat memutuskan mana yang benar. Kita pergi ke Muhammad dan menanyakan permasalah ini kepadanya.”

Saat itu Nabi Muhammad Saw masih tengah menceritakan perjalanan mi’rajnya kepada para sahabat. Ketika melihat ada sekumpulan orang mendekat kepadanya, ia bertanya “Ada apa gerangan? Apakah ada masalah di sini?”

Maka mereka pun menceritakan apa yang terjadi kepada sang Nabi. Istri sang nelayan mulai angkat bicara, “Baru saja suamiku memberiku ikan hasil tangkapannya untuk dimasak, aku sedang membersihkan kulitnya dan hendak memasukkan ke dalam panci ketika ia datang dan berkata bahwa dirinya telah pergi ke suatu tempat selama beberapa tahun dan memiliki tujuh orang anak. Ia lalu memukulku dan menuduh lelaki ini sebagai kekasihku selama tujuh tahun. Wahai Rasulullah beritahukanlah kepada kami, apakah kejadian ia baru saja memberiku ikan itu tidak benar? Engkau adalah orang yang dirahmati Allah. Tolong beritahukan kepada kami, apakah ceritaku tidak benar?”

“Ya, itu adalah benar,”jawab Muhammad Saw. “Yang engkau katakan adalah benar, suamimu baru saja memberikan kepadamu ikan itu.”

“Apa katamu?”teriak sang nelayan. “Muhammad, kamu pembohong ulung, tukang sihir! Apakah pengalamanku memiliki tujuh anak dan anak tertuaku berusia tujuh tahun adalah sebuah kebohongan?”

“Tidak,”jawab Muhammad Saw. “Yang engkau katakan juga benar.”

Semua orang lalu menjadi bingung. “Engkau katakan bahwa keduanya mengatakan yang benar. Apa maksudnya? Bagaimana mungkin? Sang istri mengatakan bahwa suaminya pergi dalam waktu yang tidak lama sedangkan sang suami berkata ia telah pergi tujuh tahun lamanya.”

“Mari,”kata Muhammad Saw, dan ia menuntun semuanya untuk berjalan ke arah danau. Ketika mereka semua tiba di danau, Muhammad Saw meminta setiap orang untuk memerhatikan baik-baik. “Sekarang,”katanya kepada sang nelayan. “Bukalah pakaianmu dan masuklah lagi ke dalam danau.” Dan hal yang sama terjadi lagi, begitu sang nelayan membenamkan badannya ke dalam danau ia kemudian berada di danau lain yang berjarak lebih dari 2000 km. Saat itu sang raja dan anak-anaknya sedang berada di sana, menangis dan menyisir tepian danau untuk mencari istri dan ibu mereka. Saat itu Rasulullah Saw juga berada di sana, ia berdiri di tepian kedua danau.

Sang nelayan berseru, “Ya Rasulullah, engkau juga ada disini? Bagaimana bisa engkau tadi ada di danau yang satu dan sekarang engkau juga berada disini?”

“Ya, aku ada disini.”Lalu Muhammad Saw menjelaskan kepada sang raja. “Perempuan ini sesungguhnya adalah seorang laki-laki. Istrinya tengah menantinya di tempat lain. Ambillah ketujuh anak ini dan lepaskan laki-laki ini. Biarkan ia tinggal bersama istrinya.”

Sang nelayan masih diselimuti oleh ketakjuban, ia melihat Rasulullah Saw hadir di sana, “Engkau hadir di kedua tempat, keajaiban apa gerangan ini wahai Rasulullah?” ia bertanya.

“Ini adalah sebuah keajaiban, tapi kita akan membincangkan hal ini nanti,”jawab Muhammad Saw, lalu ia berbalik menuju sang raja, “Wahai Raja, ambillah ketujuh anak-anak ini dan kirim laki-laki ini kembali.” Kemudian Rasulullah berkata kepada sang nelayan, “Berikan anak-anak itu kepada sang raja, sesungguhnya mereka bukanlah milikmu.”

Sang raja setuju, “Wahai Rasulullah, aku menerima apa yang engkau katakan, aku akan mengirimnya kembali.”

Maka sang nelayan yang berada dalam wujud perempuan itu kembali ke dalam danau. Tak berapa lama ia pun kembali ke danau di desa tempat ia tinggal, disana ia melihat istrinya ada bersama Rasulullah Saw dan para sahabat. “Wahai Rasulullah,”kata sang nelayan., “Engkau ada di tempat lain barusan dan sekarang engkau pun ada di sini.”

“Mari, kenakanlah pakaianmu,”kata Muhammad Saw, beliau lalu menjelaskan: “Semua ini terjadi dalam waktu lima belas menit. Pernikahanmu dengan sang raja, melahirkan tujuh anak dan membesarkan mereka hingga yang sulung berusia tujuh tahun, lalu engkau kembali ke sana dan menyerahkan anak-anak itu kepada sang raja – semua hal ini terjadi hanya dalam waktu lima belas menit.

Engkau mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang penipu, tukang sihir, dan pembohong yang mengaku telah berbicara dengan Allah Subhanallahu wata’ala. Dua kali engkau berkata bahwa Muhammad adalah seorang pendusta. Tapi lihatlah apa yang terjadi kepada dirimu sendiri! Engkau melahirkan tujuh anak dan membesarkannya dalam waktu lima belas menit. Engkau telah menghabiskan tujuh tahun yang berlalu hanya dalam lima belas menit. Sesungguhnya tujuh anak itu adalah tujuh hawa nafsumu, dan yang akan ada di kedua tepi danau adalah Allah. Ia yang telah mengambil tujuh hawa nafsumu. Bukankah engkau bertemu Allah disana? Itulah kerajaannya, sekitar 2000 km dari sini. Semuanya terjadi hanya dalam waktu lima belas menit. Apakah orang-orang di dunia ini mempercayainya? Apakah mereka mengakui kisahmu? Adakah yang percaya bahwa engkau telah memiliki dan membesarkan tujuh anak selama tujuh tahun dalam waktu lima belas menit?

Seperti itulah, apakah aku berbohong jika aku mengatakan telah bertemu Allah di langit lalu kembali ke sini dalam waktu sekejap?
Siapa yang berdiri bersamamu di kedua tepian tadi? Siapa yang akan memahami kebenaran? Apakah orang yang belum pernah mengalami itu semua akan menaruh kepercayaan kepadamu.

Camkanlah, engkau baru saja memberikan ikan itu kepada istrimu lima belas menit yang lalu. Kemudian engkau mandi dan mendapatkan pengalaman membesarkan tujuh orang anak selama tujuh tahun dalam waktu lima belas menit. Apakah ada yang mempercayai hal ini? Inilah rahasia Allah.

Oleh karena, sadarilah bahwa Allah ada dimana-mana, ia ada dalam setiap kehidupan. Untuk bertemu dengan Allah amatlah mudah, akan tetapi engkau tidak bisa menghadap kepada-Nya dengan membawa tujuh hawa nafsu dalam dirimu. Engkau harus membuang tujuh hawa nafsu itu. Jika hawa nafsu itu masih memegang kendali dirimu maka sampai kapan pun engkau tidak akan dapat memahami hal ini, karena dirimu diliputi oleh kesombongan, karma dan ilusi.”

Sang nelayan seketika itu juga tersungkur di kaki Muhammad Saw, “Oh Rasulullah, terimalah kesaksianku. Ajarilah kepadaku Kalimah” Lalu sang nelayan dan istrinya mengucapkan kalimah syahadah dan memeluk Islam.

“Sekarang hiduplah dalam damai,”kata Rasulullah Saw kepada sang nelayan dan istrinya.


(Dikutip dan diterjemahkan dari "Prophet Muhammad Saw and the Fisherman". Muhammad Raheem Bawa Muhaiyyaddeen. 101 Stories for Children. The Fellowship Press, Philadephia, 1981.)

Thursday, September 28, 2017

Kisah Utsman bin Affan Yang Menangis Di Pekuburan

Sayyidina Utsman bin Affan kerap menangis ketika berada di pemakaman. Lalu salah seorang Sahabat bertanya,"Mengapa Anda menangis?"
Sayyidina Utsman ra mrnjawab, "Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bertutur, "Sesungguhnya alam kubur adalah persinggahan pertama dari beberapa persinggahan di alam akhirat. Apabila seseorang selamat di alam kubur, maka alam sesudahnya akan lebih mudah; dan apabila seseorang tidak selamat di alam kubur, maka alam setelahnya akan lebih buruk dari alam sebelumnya."
Sayyidina Utsman pun selalu teringat perkataan Nabi SAW,“Aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih menakutkan melebihi alam kubur."

Thursday, August 31, 2017

Kisah Keteguhan Iman Ismail Pada Detik Penyembelihan

Ketika Hajar Berucap, “Allah Tidak Akan Mengabaikan Kami.”
Ketika Hajar tepat di pertengahan jalan menuju negeri Mesir, maka Malaikat Jibril as menampakkan diri di depan Hajar seraya berkata, "Wahai Hajar, hamba Sarah, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?"
Hajar menjawab, "Aku pergi meninggalkan Sarah."
Lalu kata Jibril berkata, "Kembalilah, karena sesungguhnya Allah memiliki rencana atas dirimu."
Sejenak Hajar terdiam, lalu Hajar mengikuti nasihat Jibril as. pergi kembali kepada Ibrahim dan Sarah.
Lalu Jibril berkata kepada Hajar, "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismail, sebab Engkau telah mendengarkan Allah; dan Allah pun telah mendengarkan (deritamu)."
Ketika Ibrahim mendapat perintah Allah utk membawa Hajar dan bayi Ismail Siti ke suatu tempat yg kering dan gersang dan meninggalkannya di lembah Bakkah (Mekah), Hajar bertanya untuk yg terakhir kalinya kpd Ibrahim, “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?”
Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.”
Hajar pun berucap, “Allah tidak akan mengabaikan kami.”
Sepeninggal Ibrahim as, manakala air susu Hajar telah mengering dan persediasn air pun telah habis, Ismail kecil kemudian menangis karena kehausan. Naluri seorang Ibu, Hajar kemudian berlari menuruni 2 bukit Shafa dan Marwa. Setelah berlari tujuh putaran, saat Hajar berada di Bukit Marwah dan mendengar suara. Ia lalu terdiap dan berkata, “Diam!”
Setelah diperhatikan betul-betul bahwa ia memang mendengar ada suara, ia pun lalu berkata, “Aku mendengar suaramu. Tolonglah aku jika Engkau memiliki kebaikan.”
Malaikat Jibril pun lalu menampakan diri dan melalui hentakan kaki Ismail, memancarlah air dari dalam bumi. Hajar lalu membendung air itu dan karena begitu melimpahnya, ia berkata, “zam....zam....zam....” (berkumpulah, berkumpulah).
Kelak kisah heroik Hajar berlari kecil menyusuri bukit Shafa dan Marwa menjadi salah satu prosesi rukun haji yaitu Sai.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
"Hai anakku! Aku telah bermimpi, di dalam tidur seolah-olah Aku menyembelihmu, maka bagaimanakah pendapatmu?" tanya Nabi Ibrahim.
Nabi Ismail menjawab, "Wahai Ayahku, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Semoga Engkau akan menemuiku insya Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah-Nya."
Lalu Ismail berkata lirih kepada ayahnya, "Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu agar Ayah mengikatku kuat kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan Ayah; kedua, agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku ketika Ibuku melihatnya; ketiga, tajamkanlah pedangmu dan percepatlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaaan dan rasa pendihku; keempat, dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dantanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya."
Penyembilan itu dilakukan. Tangan dan kaki Nabi Ismail diikat dan dibaringkan. Pedang yang sudah dipertajam diambil dan memulai menyembelih putranya. Dalam keadaan sedih dan berlinang air mata, pedang tersebut sudah menyentuh leher Nabi Ismail dan parang tersebut menjadi tumpul dan Nabi Ibrahim tidak dapat menyembelih Nabi Ismail. Setelah berbagai usaha dilakukan, penyembelihan tidak dapat dilakukan. Dalam putus asa, lalu Allah SWT berfirman.
"Hai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar."
Bbrp saat sebelum eksekusi penyembelihan Ismail, maka syaithan datang menggoda Ibrahim utk mengurungkan niatnya. Ibrahim tdk menggubris, lalu syaithan dilempari batu tujuh kali. Pperistiwa ini terjadi di sekitar Jumrah Aqabah. Syetan rupanya tak mau kehilangan akal, maka setan datang merayu Hajar, isteri Ibrahim, untuk membujuk suaminya agar tidak menyembelih Ismail. Tapi, Hajar tak peduli, malah ia melempari setan dengan batu sebanyak tujuh kali di Jumrah Wustha. Namun, syetan belum menyerah, kini giliran Ismail yang dibujuknya agar tidak mau dikorbankan ayahnya. Ismail pun begitu teguh pada pendiriannya, bahkan ia melempar syetan dengan batu sebanyak tujuh kali di Jumrah Ula.
Peristiwa ini kemudian mjd dikenal dalam prosesi haji yaitu melempar tujuh buah batu di Jumrah Aqabah, Jumrah Wustha dan Jumrah Ula. Sebuah simbolisasi permusuhan abadi antara Bani Adam dan Syaithan.
Salam Takzim Untuk Ibunda Siti Hajar.
Kala tetesan air mata Ibrahim jatuh menyaksikan keteguhan iman anaknya Ismail, kala itulah sejarah agung tercipta. 

Tuesday, August 1, 2017

Kisah Batu Mulia dan Para Manusia Rakus

Pada suatu hari yang cerah saat sedang melintas di area yang jarang dilalui orang banyak seorang pria menyadari sebuah kilatan muncul dari sebuah tempat di dalam tanah, ia segera mendekati dan membongkar tanah yang menutupi kilatan tersebut dan menemukan sebongkah besar batu mulia. Demikian besar batu tersebut hingga ia perlu mengeluarkan upaya cukup besar untuk mengangkatnya dari dalam tanah. Namun, saat sang pria itu hendak mengangkat batu mulia itu dari tanah, tiba terdengar sang batu berkata-kata, "Wahai manusia, sesungguhnya aku bersembunyi di sini untuk mencegah orang tersakiti. Kalau engkau mengangkatku dari dalam tanah maka ketahuilah bahwa bahaya akan mendatangimu dan kedamaian tidak akan pernah bertahan di hatimu selama engkau masih memilikiku. Maka tolong sebelum terlambat, tinggalkanlah aku disini!"

Namun sang pria yang sudah dipenuhi hasrat kekayaan, kemahsyuran dan kekuasaan tidak mau mendengar sepatahpun kata sang batu mulia, sebaliknya ia menjawab ketus, "Kamu batu tidak tahu untung! Justru aku membawamu untuk menaikkan derajatmu daripada tertimbun dalam kegelapan tanah." Dan ya, dalam hatinya sang pria tahu ia pun menginginkan kemahsyuran dan derajat tinggi di mata masyarakat. Ia pun bergegas membawa pulang sang batu mulia.

Dalam hitungan hari kabar besar tentang penemuan batu mulia itu mulai tersebar, orang mulai mengambil antrian panjang untuk melihatnya, tak kurang petinggi kerajaan dan orang-orang tersohor mulai berdatangan ingin menemui sang pria pemilik batu mulia terbesar yang mereka pernah lihat itu. Hingga di hari ketujuh, empat orang perampok bayaran mendatangi rumah sang pemegang batu mulia saat tengah malam, ketika sebagian besar orang terlelap dalam tidur. Malang tak dapat dihindari, dalam upayanya menyelamatkan batu mulia yang demikian ia cintai ia tidak hanya kehilangan tangannya namun juga kepalanya dipenggal tanpa kenal belas kasih oleh sang perampok.

Ketika batu mulia dibawa lari oleh sekelompok perampok itu, ia mulai lagi berkata-kata, "Sudah cukup korban yang jatuh, tolong buang aku sekarang juga karena keberadaanku di tangan kalian hanya akan membawa bahaya bagi diri kalian sendiri!" Lagi-lagi para manusia yang telah dirasuki hawa tamak ini tidak mau mendengar saran batu yang dapat berbicara itu. Di tengah perjalanan, saat mereka beristirahat satu persatu berkesempatan memegang dan memerhatikan keindahan sang batu mulia dari dekat, dan tak ayal lagi gelora kerakusan dalam diri makin menyala, masing-masing membayangkan bagaimana jika dirinya sendiri yang memiliki batu itu dan tidak usah dibagi dengan kawannya yang lain. Maka diam-diam masing-masing menyusun siasat licik dalam diamnya. Menjelang pagi rencana busuk itu mulai dieksekusi yang pada akhirnya mendatangkan kematian bagi mereka semua.

***

Begitulah jika kekayaan yang dikejar hanya sebatas kekayaan material dan dunia, maka orang hanya akan jungkir balik, berkeringat dan bersusah payah untuk suatu perlombaan yang tidak ada garis akhirnya. Manusia bahkan rela menyakiti sesama untuk sekadar meraih ambisinya. Ibarat diberi emas segunung, maka orang akan menginginkan gunung kedua - demikian Sang Nabi sudah mewanti-wanti. Meraup kekayaan dunia itu bagaikan minum air laut, semakin banyak diminum akan semakin bertambah haus, hingga satu-satunya yang dapat memenuhi mulut manusia adalah segumpal tanah kubur.

Bukan berarti tidak boleh memiliki dunia, yang dilarang adalah mencintainya. Genggam dunia dalam tanganmu dan jangan masukkan ia ke dalam hatimu, demikian pesan Sayyidina Ali kw. Rasulullah saw bersabda :

Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi)

Adapun seorang mukmin dilatih untuk melihat harta yang lebih berharga dibanding sesuatu yang bersifat fisik, harta-harta itu berupa akhlak yang baik berupa kesabaran, kesyukuran, mulai tidak mengeluh, diberi kecergasan badan untuk beribadah, memaafkan, semuanya merupakan rezeki yang tak ternilai yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya yang bersyukur. 

(Adaptasi dari "The Gem and The Greedy Man", 101 stories for children of all ages. M.R. Bawa Muhaiyyaddeen. Fellowship Press, Philadelphia, 2006)

Saturday, July 8, 2017

Mengenal Miryam: Kakak Perempuan Nabi Musa as.

Mengenal Miryam : Kakak Perempuan Musa as.
Kisah kelam ihwal pembantaian para bayi laki-laki itu berawal dari mimpi yang dialami Firaun dalam tidurnya ia melihat seakan-akan ada kobaran api dari Baitul Maqdis yang bergejolak mendekat kepadanya. Api itu membakar dan bangunan kerajaan dan menghanguskan komunitas Qibthi di Mesir, tetapi kobaran api itu sama sekali tidak membakar komunitas Bani Israil di negeri itu. Ketika Firaun terbangun dari tidurnya, ia sangat terkejut dengan mimpi yang baru saja dialaminya. Setelah itu, ia segera mengumpulkan para dukun, tunag sihir, dan tukang tenung untuk menafsirkan arti mimpinya itu. Ia meminta petunjuk dari mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mereka pun berkata, "Akan lahir anak laki-laki dari kalangan Bani Israil yang menjadi penyebab hancurnya negeri Mesir di bawah kekuasaannya." Oleh sebab itu, Firaun memerintahkan para prajuritnya untuk membunuh setiap anak laki-laki sedangkan anak-anak perempuan dibiarkan hidup.

Kekejaman ini berlangsung selama bertahun-tahun. Setiap pasangan Bani Israil yang baru menikah akan dicatat dan dipantau sembilan bulan kemudian untuk diperiksa apakah pernikahan itu membuahkan anak atau tidak, dan dalam salah satu riwayat dikisahkan para bidan kerajaan yang bertugas membantu kelahiran diperintahkan untuk langsung membuang bayi yang baru lahir itu ke Sungai Nil untuk dibiarkan tenggelam jika yang terlahir adalah seorang bayi laki-laki.

Dalam suasana yang mencekam itu Imran, yang merupakan keturunan imam di garis keluarga Levi memutuskan untuk bercerai dari istrinya Yokhebed, khawatir dalam penyatuan mereka akan melahirkan anak lelaki lain, saat itu mereka sudah memiliki satu anak perempuan bernama Miryam dan anak laki-laki bernama Harun yang sudah berusia sekitar dua tahun ketika perintah Firaun diluncurkan, sehingga ia terbebas dari perintah pembunuhan yang ditujukan hanya untuk semua bayi laki-laki yang baru dilahirkan.

Miryam, sang anak berkata lantang menentang rencana ayahnya untuk bercerai, "Keputusan ayah ini lebih buruk dibanding titah Firaun. Adapun perintah Firaun hanya akan memutuskan orang tua dari anak laki-lakinya akan tetapi keputusan ayah akan membuat anak perempuan terputus juga dari orang tuanya." Imran, sang lelaki bijak membatalkan keputusannya untuk bercerai yang kemudian diikuti juga oleh keluarga Bani Israil lain, maklum saja keluarga Imran adalah panutan mereka. Bahkan Miryam pun pada usianya yang muda (sekitar 5 tahun) sudah diakui sebagai orang terang. Adalah Miryam juga yang mengatakan kalimat nubuwah, "Ibuku akan melahirkan anak laki-laki yang akan menyelamatkan Bani Israil."

Tercatat dalam sejarah bahwa Yokhebed sebenarnya sudah mengandung selama tiga bulan saat Imran menikahinya kembali. Oleh karenanya Musa lahir lebih awal dibandingkan perkiraan para petugas pencatat yang biasanya kembali pada bulan kesembilan setelah pernikahan. Saat Musa dilahirkan cahaya bersinar di rumah itu, Imran kemudian memanggil Miryam dan berkata "Nak, ramalanmu telah menjadi kenyataan." Kemudian bayi Musa sempat diasuh dalam balutan kasih sayang keluarga itu dalam kurun waktu tiga bulan lamanya, dan ia berhasil disembunyikan dari pantauan para pegawai kerajaan. Hingga kemudian Yokhebed, menerima wahyu dari Allah Ta'ala - untuk mengalirkan bayi Musa ke dalam sungai Nil. Peristiwa yang menunjukkan martabat ketaqwaan yang tinggi dari seorang perempuan yang juga berasal dari garis keturunan para imam dari keluarga Levi di Bani Israil. Petunjuk yang diturunkan kepada Yokhebed diabadikan dalam Al Quran, surat Al Qashash:7,

"Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; 'Susuilah ia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke dalam sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul."

Dengan hati yang dipenuhi tawakal kepada Allah Ta’ala sang ibu mengalirkan bayi Musa yang baru berusia beberapa bulan itu ke dalam sungai Nil di dalam tabut, kemudian atas perintah ibu Miryam mengikuti sejauh mana sang adik terbawa mengikuti aliran sungai. Hingga akhirnya saat sungai melintasi daerah istana tampaklah bahwa para dayang memungut Musa yang masih ada di dalam tabut yang tertutup dari tepi sungai Nil, tetapi saat itu mereka tidak berani membukanya. Akhirnya, mereka meletakkan peti itu di hadapan istri Firaun yang bernama Asiyah binti Muzahim. Berkat Asiyah-lah maka Firaun akhirnya mau menerima bayi Musa untuk dirawat dalam lingkungan kerajaan.
Lalu Allah Ta’ala membuat bayi Musa tidak mau disusui oleh perempuan manapun yang berusaha menyusuinya. Disini peran Miryam sang kakak perempuan Musa kembali muncul, dikisahkan bahwa Miryam saat itu merupakan salah satu bidan kerajaan di usianya yang muda belia ia sudah dipercayai melakukan aktivitas dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Miryam-lah yang memberi saran kepada siapa sang bayi hendak dicoba disusui.

"Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya, hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa seandainya tidak Kami teguhkan hatinya supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).
Ibu Musa berkata kepada saudara Musa yang perempuan: 'Ikutilah ia,' maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh sementara mereka tidak mengetahuinya.
Kami cegah Musa dari menyusui kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu. Lalu berkatalah saudara Musa: 'Maukah aku tunjukkan kepada kalian keluarga yang akan memeliharanya untuk kalian dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?
'Kami kembalikan Musa kepada ibunya supaya senang hatinya dan tidak berdukacita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS Al Qashash:10-13)

Selain itu Miryam yang salah satu arti namanya berasal dari kata “mar” (מר) dalam bahasa Ibrani yang berarti "air", kehidupannya memiliki asosiasi yang kuat dengan kejadian di air, yaitu saat memantau bayi Musa di sungai Nil, saat memimpin kaum perempuan menyebrangi Laut Merah beserta Musa dan umatnya sambil melantunkan puji-pujian bagi Tuhan dan diabadikan dalam Perjanjian Lama pasal Keluaran 15:1  ; dan juga dalam tradisi Bani Israil dikenal istilah "Sumur Miryam", yaitu mukjizat sumber air yang keluar di dataran kering saat Bani Israil berkelana pasca penyeberangan di Laut Merah. Dikisahkan bahwa kekeringan melanda Bani Israil setelah Miryam tiada yang akhirnya membuat Musa as memecah batu dan darinya mengalir dua belas mata air.

"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.
Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan." (QS al-Baqarah [2]: 60).

Ihwal wafatnya Miryam tertulis di dalam Taurat, "Seluruh rombongan Bani Israil tiba di Gurun Tzin pada bulan pertama, dan orang-orang berkumpul di Kadesh. Miryam menghembuskan nafas terakhirnya di sana dan dimakamkan di tempat yang sama" (Bilangan 20:1). Dikabarkan kepergian Miryam adalah sebuah kematian yang indah dan tidak menyakitkan yang diungkapkan sebagai dijemput oleh ciuman kematian "kiss of death". Keagungan dan keberkahan kiranya terlimpah kepada mereka yang menolong para utusan-Nya.[]

Referensi:
1.       Wikipedia. Miriam. https://en.wikipedia.org/wiki/Miriam. 5 Juli 2017.
2.       Andrews, M. Miriam: A Treasure of the Nile. Waterbrook Press, 2016. Colorado.
3.       Crawford, SW. Traditions about Miriam in the Qumran Scrolls. University of Nebraska - Lincoln, 2003.

4.       Katsir I. Kisah Para Nabi. Qisthi Press, Jakarta, 2015.