Friday, April 8, 2016

Batu Berukir Pengingat Kematian

“Tatkala Sulaiman bin Abdul Malik berada di Masjidil Haram, tiba-tiba ada yang menyodorkan selembar batu yang berukir. Lalu dia meminta orang yang dapat membacanya. Ternyata di batu itu tertulis:
Wahai anak Adam, andaikan engkau tahu sisa umurmu, tentu engkau tidak akan berangan-angan yang muluk-muluk, engkau akan beramal lebih banyak lagi dan engkau tidak akan terlalu berambisi.
Penyesalanmu akan muncul jika kakimu sudah tergelincir dan keluargamu sudah pasrah terhadap keadaan dirimu, dan engkau akan menigngalkan anak serta keturunan.
Saat itu engkau tidak bisa kembali lagi ke dunia dan tidak bisa lagi menambah amalmu. Berbuatlah untuk menghadapi hari kiamat, hari yang diwarnai penyesalan dan kerugian.”

Friday, March 25, 2016

Kisah Orang Yang Marah Kepada Tuhan

Pada suatu hari seorang ulama berkelana dan melintasi sebuah desa. Di sekat sebuah pohon rindang ia melihat seorang laki-laki sedang bersimpuh dan menangis tersedu-sedu. Sang ulama mendekati orang itu dan terdengarlah sang laki-laki sedang berkata dalam tangisannya, "Oh Tuhan, Engkau sungguh ada? Apakah Engkau sungguh Tuhan Yang Maha Kuasa? Lalu kenapa doaku tidak juga dikabulkan? Semua tetangga dan temanku hidupnya sudah makmur, mereka memiliki tanah dan harta sedangkan aku tidak punya semua itu dan hidup miskin. Engkau sungguh tidak adil Tuhan!"

Sang ulama kemudian menyapanya dan berkata, "Wahai anakku, kenapa engkau meratap seperti ini?"
"Hey orang tua, apa urusanmu? Aku hanya berdoa itu saja."Jawab si laki-laki itu dengan ketus, kemudian ia berkata "Aku telah berdoa berpuluh tahun lamanya tapi mana jawaban Tuhan? Siang dan malam aku beribadah kepada-Nya sesuai yang Ia inginkan tapi mana balasan untukku? Adapun Ia telah menjadikan teman dan tetanggaku kaya dan sukses tapi aku? Aku bukan siapa-siapa, aku seorang pecundang!"

Sang ulama yang bijak kemudian berkata dengan lembut, "Wahai anakku, coba ingat-ingat pada saat temanmu lahir ke muka bumi ini, apakah ia membawa sesuatu dengannya? Begitu juga dengan tetanggamu apakah ia lahir dengan membawa emas dan harta? Adapun temanmu, engkau tentu tumbuh bersama dengannya, apakah ia kaya sejak dahulu kala?"

"Tidak, orang tuanya bercocok tanam dan kemudian meraih sukses dari usahanya, itulah kenapa mereka menjadi kaya raya sekarang."

"Ya, kamu benar."Jawab sang ulama dengan tersenyum. "Sekarang, lihatlah dirimu sendiri, badanmu masih kuat, matamu masih tajam melihat, Tuhanlah yang memberikan kepadamu semua kekuatan badan ini bukan? Sama seperti yang diberikan kepada tetangga dan temanmu, hanya kemudian mereka menggunakan pemberian Tuhan tersebut untuk bekerja keras, ia memerah keringat untuk menggarap lahannya, suatu pekerjaan yang tidak mudah. Bumi ini luas dan akan membuahkan hasil bagi siapapun yang mau bekerja keras."

"Apakah kamu pernah perhatikan ayam kampung? Tidak ada yang memberinya makan namun ia rajin mematuk-matuk makanan di tanah. Juga sapi, ia mencari makanannya di lapangan rumput. Juga burung bangun di pagi hari dengan perut kosong namun mereka senantiasa pulang dalam keadaan kenyang. Anakku, sadarilah bahwa ketika Tuhan menciptakan ciptaan-Nya maka Ia juga telah menyediakan makanan dan segala kebutuhannya. Namun semua harus berusaha dan mencarinya."

"Tuhan tidak pernah dusta, ia selalu menjawab doa hamba-Nya, rezeki yang kau minta itu ada di sekitarmu tapi kamu harus bangkit dan menyingsingkan lengan baju untuk meraihnya, itulah aturan main di dunia ini. Sekarang bangkitlah dan jelang rezekimu!"

Sang laki-laki tersadar bahwa selama ini ia terlalu berleha-leha dalam hidup dan kurang bekerja keras. Maka ia bertekad untuk mengubah perilakunya mulai saat itu.

Tahun demi tahun telah berlalu, sang ulama kemudian lewat kembali ke desa tersebut dan menemukan sang laki-laki itu telah hidup makmur, ia memiliki tanah dan keluarga bahagia.
Sang lelaki masih mengenali sang ulama dan berkata, "Wahai pak tua, terima kasih atas saranmu dulu, aku kemudian mencari kerja di sebuah pertanian dan bertahun-tahun aku bekerja keras sehingga aku memiliki tanah sendiri dan kini aku telah berkeluarga dan memiliki anak, kebahagiaanku semakin lengkap."

Sang ulama menjawab, "Aku ikut berbahagia anakku, sekarang apakah engkau masih menyalahkan Tuhan?"

"Oh pak tua, aku sungguh malu dengan tabiatku dulu. Aku menyadari bahwa itu bukan salah-Nya, adalah aku yang malas dan kurang bekerja keras. Engkau benar, bahwa untuk setiap ciptaan telah ada kantung rezekinya masing-masing dan aku telah memperolehnya."

Demikianlah anakku, apapun yang terjadi dalam kehidupan jangan salahkan Tuhan, namun introspeksi kenapa kita belum mampu melihat cahaya kebenaran-Nya. Surga dan neraka ada dalam diri masing-masing, kita yang menentukan apakah ingin hidup dalam kebahagiaan surga atau kesengsaraan neraka, oleh karenanya kendalikan pikiran dan keinginanmu yang liar, tundukkan jiwa dengan mengerjakan apa-apa yang Tuhan dan para rasul-Nya ajarkan, sesungguhnya semua itu adalah obat bagi jiwa yang cenderung gelisah dalam ketidakpuasan. Hartamu ada di dalam dirimu, ada di dalam takdirmu, dalam hari-harimu, di sekitarmu , sangat dekat denganmu, maka raihlah dengan cara-cara yang mulia...

(Adaptasi dan terjemahan dari "The Man Who Blamed God. 101 stories for children all ages."Muhammad Raheem Bawa Muhaiyyaddeen. Guru sufi di Philadephia Amerika. The Fellowship Press, 1981)

Monday, March 14, 2016

Menemukan Harta Karun Diri

Tersebutlah sebuah keluarga kecil yang hidup sederhana baru saja mengalami musibah, sang ayah meninggal dunia karena penyakit jantung. Ia meninggalkan istri dan seorang anak yang baru berusia tujuh tahun. Sepeninggal sang suami beban kehidupan menjadi kian berat karena selain harus menutup utang akibat biaya perawatannya, sumber mata pencaharian pun menjadi jauh berkurang karena hanya mengandalkan sang ibu yang menawarkan jasa cuci dan setrika keliling. Hingga pada suatu hari sang ibu tahu bahwa sang penagih utang akan datang dan menyita seluruh aset yang mereka miliki. Dalam suasana duka ia kemudian menyelamatkan satu-satunya benda berharga miliknya berupa cincin berlian peninggalan ibunya yang berencana ia turunkan kepada anaknya. Maka ia menemukan sebuah jaket usang peninggalan suami dan menyembunyikan cincin berlian itu dalam jahitan yang baru ia buat.

Malang tak dapat ditolak, tidak lama setelah sang ayah menghadap Sang Pencipta kemudian sang ibu pun menyusulnya, tanpa sempat memberi tahu kepada anak tunggalnya perihal cincin berlian yang ia sembunyikan di lipatan saku jaket usang ayahnya.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak lelaki itu bekerja keras memenuhi kebutuhan hidupnya. Kadang ia menjadi kuli di pasar dan tidak jarang mencari tambahan dengan memilah-milah barang yang ia bisa jual di tempat pembuangan sampah umum. Hingga suatu hari ia mendapat pekerjaan harian untuk menebang beberapa pohon di hutan. Karena hutan itu terletak di dataran yang agak tinggi maka ia membawa jaket almarhum ayahnya tercinta yang merupakan satu-satunya barang kenangan dari orang tuanya. Saat ia dengan gesit mengayunkan lengannya untuk menebang pohon tiba-tiba jaketnya tersangkut di salah satu ranting pohon dan merobek bagian saku tempat di mana sang ibunda menyembunyikan cincin berlian warisan orang tuanya dahulu.

Si anak lelaki yang sudah menjadi pemuda itu kemudian membawa cincin itu ke toko emas terdekat dan terkaget-kaget akan harga taksiran yang sang pemilik toko emas katakan. Akhirnya sejak saat itu sang pemuda mulai hidup berkecukupan.

===

Sumber kebahagiaan ada di dalam diri kita masing-masing, dia tidak pernah jauh juga tak sukar untuk diraih, hanya dibutuhkan kesadaran dan pengakuan jujur dari kita bahwa ia selalu ada. Karena kebahagiaan itu adalah sesuatu yang kita bawa saat kita terlahir ke dunia ini. Oleh karenanya kita sebenarnya kaya bahkan ketika kita seringkali merasa berkekurangan.

Cincin berlian dalam cerita di atas adalah simbol suatu hal yang ada di dalam diri kita masing-masing, sesuatu yang diberikan dan dibawa saat kita terlahir ke dunia. Semua orang tidak terkecuali memiliki harta karunnya masing-masing, sesuatu yang harus terungkap di dalam kehidupan dunia yang singkat ini. Supaya kita tidak merugi dan menjadi miskin di sini dan alam berikutnya.

(Adaptasi dari Kisah Zen: The Threadbare Coat)

Akhlak Rasulullah Menghadapi Penghinaan

Malam itu si perempuan gelisah memikirkan sebuah rencana yang bisa memuaskan keinginan balas dendam akan seseorang yang ia anggap mencemarkan sesembahannya, sesuatu yang ia puja dan sanjung mati-matian.
Menjelang dini hari, rencana itu matang sudah. Si perempuan mengais-ais bak sampah dan mengumpulkan sekian banyak barang yang telah membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap. Ia tahu pagi ini orang itu biasanya akan berjalan melintasi depan rumahnya. Tujuannya satu, ingin memancing kemarahannya sedemikian rupa sehingga orang-orang bisa tahu orang macam apa dia.
Tak lama kemudian, orang yang sang perempuan nantikan datang berjalan melalui depan rumahnya dan sang perempuan melempar semua sampah bau dan kotor itu dari atap rumahnya sehingga mengotori kepala dan badan orang yang dibencinya itu. Sang perempuan tertawa puas karena rencananya berjalan lancar, namun untuk waktu yang tak lama karena orang tersebut hanya diam sebentar untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanannya.
Kecewa karena merasa gagal memancing kemarahan orang itu yang dengan harapan membuat wibawanya jatuh di hadapan orang banyak, esok paginya sang perempuan menyiapkan sekumpulan sampah yang lebih dahsyat baunya dan sangat kotor, barangkali dengannya orang yang ia benci itu akan terpancing kemarahannya.
Menjelang pagi, di waktu yang sama orang itu kembali melintas depan rumahnya yang memungkinkan sang perempuan melancarkan aksi busuknya. Namun malang, sang perempuan harus kembali menelan ludah kekecewaan karena orang itu kembali diam sejenak mencoba membersihkan sampah yang melekat di kepala dan badannya sebisanya untuk kemudian kembali berjalan.
Sebenarnya orang ini bisa saja mengambil rute lain dan menghindari aksi pelecehan yang dilakukan oleh perempuan itu. Namun hatinya terlalu penyayang untuk bisa mengecewakannya. Maka ia mengambil jalan yang sama juga pada waktu yang sama. Namun di luar dugaan tidak ada yang terjadi. Maka orang itu mencoba mengetuk pintu rumah sang perempuan.
"Siapakah itu? Aku terlalu sakit untuk bisa membukakan pintu." Terdengar suara parau sang perempuan dari dalam rumah.
"Ini aku, Muhammad Rasulullah. Aku datang untuk menjengukmu."
Jantung sang perempuan tiba-tiba berdegup kencang, rasa takut dan bersalah menerkamnya untuk sesaat, ia khawatir orang itu datang untuk membalas dendam. Namun semua pikiran buruknya itu luluh dengan nada suara yang terdengar penuh kasih dari orang yang sangat dibencinya itu. Maka akhirnya ia mengizinkan Rasulullah masuk.
Rasulullah melangkah masuk dan menemukan seorang perempuan tua yang menggigil oleh demam tinggi dan lemah tubuhnya hingga tak dapat beranjak dari tempat tidurnya. Ia melihat gelas yang kosong tergeletak di sampingnya dan dengan sigap mengisinya dengan air untuk kemudian diberikan kepada sang perempuan. Tidak hanya itu sang baginda rasul membantu membersihkan dan merapikan tempat tinggal sang perempuan bahkan hingga berhari-hari sampai sang perempuan pulih kekuatannya.
Demikianlah akhlak Rasulullah menghadapi orang yang berbuat buruk kepadanya.
(Adaptasi dan terjemahan dari "The Garbage Thrower")

Tuesday, December 15, 2015

Kepandaian Yang Tersia-sia

Alkisah, seorang Arab Badawi bermaksud menjual sekarung gandum ke pasar. Berulangkali ia mencoba meletakkan karung itu di atas punggung unta, dan berulangkali ia gagal. Ketika ia hampir putus asa, terlintas pada pikirannya pemecahan yang sederhana. Ia mengambil satu karung lagi dan mengisinya dengan pasir. Ia merasa lega ketika dua karung tersebut bergantung dengan seimbang pada kendaraannya dan bersegera ia berangkat ke pasar.
Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang asing yang berpakaian compang camping dan bertelanjang kaki. Ia diajak oleh orang asing itu berhenti sejenak, beristirahat, dan berbincang-bincang. Sebentar saja orang Badawi itu menyadari bahwa yang mengajaknya berbincang itu adalah orang yang banyak pengetahuan. Ia sangat terkesan karenanya.
Tiba-tiba orang asing itu menyaksikan dua karung yang bergantung pada punggung unta. “Bapak, katakan apa yang bapak angkut itu. Kelihatannya sangat berat,” Tanya orang asing itu. “Salah satu karung berisi gandum yang akan saya jual ke pasar. Satu lagi karung berisi pasir untuk menyeimbangkan keduanya pada punggung unta,” Jawab orang Badawi. Sambil tertawa, orang pintar itu memberi nasihat, “Mengapa tidak ambil setengah dari karung yang satu dan memindahkannya ke karung yang lain. Dengan begitu, unta itu menanggung beban yang lebih ringan dan ia dapat berjalan lebih cepat.”
Orang Badawi takjub, ia tidak pernah berpikir secerdas itu. Tetapi sejenak kemudian, ketakjubannya berubah menjadi kebingungan. Ia berkata, “Anda memang pintar, tapi dengan segala kepintaran ini, mengapa anda bergelandangan seperti ini, tidak punya pekerjaan dan bahkan tidak memiliki sepatu. Seharusnya kepandaian anda dapat mengubah tembaga menjadi emas dan menjadikan anda kaya”.
Orang pandai itu menarik napas panjang, “Jangankan sepatu, hari ini saja saya tidak memiliki uang sepeser pun untuk makan malam saya. Setiap hari saya berjalan dengan kaki telanjang untuk mengemis sekerat atau dua kerat roti”. “Lalu apa yang anda peroleh dengan seluruh kepandaian dan kecerdikan itu?”, Kata Orang Badawi. “Dari semua pelajaran dan pemikiran, saya hanya memperoleh sakit kepala dan khayalan hampa. Percayalah, semua ini hanya candaan bagiku, bukan keberuntungan”, jawab orang asing itu.
Orang Badawi itu berdiri, melepaskan tali unta, dan siap-siap untuk pergi. Kepada orang pandai yang kelaparan itu ia memberi nasihat, “Hai, orang yang tersesat. Menjauhlah dariku karena aku khawatir kemalanganmu akan menular padaku. Bawalah semua kepandaian itu sejauh-jauhnya dariku. Sekiranya dengan ilmu itu kau ambil suatu jalan, maka aku akan mengambil jalan yang lainnya. Sekarung gandum dan sekarung pasir boleh jadi berat, tetapi lebih baik daripada kepandaian yang tersia-siakan. Anda boleh menjadi pandai, tapi kepandaian Anda itu hanya menjadi kutukan. Saya boleh jadi bodoh, tetapi kebodohan saya mendatangkan berkah, karena walau pun saya tidak pandai, tetapi hati saya dipenuhi rahmat-Nya dan jiwa saya berbakti kepada-Nya.”
(Maulana Jalaluddin Rumi)

Saturday, November 22, 2014

Cerita Konfusius dan Yan Hui Muridnya


Yan Hui adalah murid kesayangan Konfusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat. Pembeli berteriak : “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata : “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi.”
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Konfusius. Benar atau salah Konfusius yang berhak mengatakan.”
Yan Hui : “Baik, jika Konfusius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain : “Kalau Konfusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”
Yan Hui : “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.”
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Konfusius. Setelah Konfusius tahu duduk persoalannya, Konfusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia.”
Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Konfusius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas. Walaupun Yan Hui menerima penilaian Konfusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Konfusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan
keluarga. Konfusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Konfusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasihat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.”
Yan Hui menjawab, “Baiklah,” lalu berangkat pulang.
Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat Konfusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.
“Apakah saya akan membunuh orang?”
Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Konfusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.
Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Konfusius, berlutut dan berkata : “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”
Konfusius berkata : “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.
Yan Hui berkata : “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”
Jawab Konfusius : “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar-benar malu.” Sejak itu, kemanapun Konfusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Tuesday, October 7, 2014

Menyembunyikan Kepahitan

Di riwayatkan suatu ketika ada seorang lelaki Fakir dari Ahli suffah mendatangi Rasulullah dengan membawa cawan yang di penuhi oleh buah Anggur, di hadiahkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Rasulullah mengambil cawan itu kemudian memulai memakannya
Rasulullah memakan Anggur pertama kemudian beliau tersenyum....
Rasulullah memakan buah anggur kedua beliaupun tersenyum lagi.
Lelaki Fakir tersebut serasa Hampir terbang karena saking gembiranya.
Sedangkan Para sahabat menunggu, sebab sudah merupakan kebiasaan Rasulullah akan mengajak para sahabat bergabung bersama Rasulullah dalam setiap hadiah yang di berikan kepada beliau.
Rasulullah memakan Anggur satu persatu sambil tersenyum, demi Ayah dan ibu ku sampai Habislah buah anggur yang ada dalam cawan itu.
Para Sahabat memandangnya Keheranan.
Giranglah si lelaki fakir tersebut dengan kegirangan tak terhingga. kemudian ia pergi.
Lalu bertanyalah salah seorang Sahabat. "Wahai Rasulullah, Kenapa engkau tidak mengajak kami bergabung makan bersama mu?
Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam tersenyum, lalu menjawab :
Sungguh kalian telah melihat si lelaki fakir sangat kegirangan dengan cawan yang berisi buah Anggur itu.
Sesungguhnya manakala aku mencicipi buah Anggur tersebut, Aku rasakan Pahit rasanya.
Jadi aku tidak mengajak kalian untuk makan bersama, sebab aku khawatir kalian akan menampakkan rasa pahit di wajah kalian sehingga dapat merusak kegembiraan si lelaki fakir tersebut.
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظيم
Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang mulia.
Pelajaran yg berharga...