Saturday, March 30, 2013

Ibadah Seorang Buta


Diriwayatkan dari Ujrah (seorang wanita Basrah) bahwa ia menghidupkan malam dengan beribadah dan ia adalah orang buta.
Maka apabila di waktu sahur, ia menyeru dengan suaranya yang menyedihkan, 

“Kepada-Mu orang-orang ahli beribadah memotong kegelapan malam. Mereka berlomba kepada rahmat-Mu dan karunia ampun-Mu, tidak dengan selain-Mu, agar Engkau menjadikanku dalam golongan orang-orang shaleh dan agar Engkau mengangkat aku di sisi-Mu dalam surga Illiyyin pada derajat orang-orang yang mendekatkan diri. Maka Engkau adalah yang paling penyayang di antara para penyayang dan paling Agung di antara orang-orang yang agung dan paling Pemurah di antara orang-orang yang pemurah. Wahai Tuhan Yang Pemurah!”

Kemudian ia jatuh tersungkur dengan keadaan bersujud dan ia senantiasa berdoa dan menangis sampai fajar.[]

Petuah Seorang Tua


Ketika saya berjalan di suatu perjalanan, tiba-tiba saya tertarik untuk beristirahat di bawah sebuah pohon. Tiba-tiba seorang tua mendatangiku dan berkata, “Hai manusia! Bangunlah karena sesungguhnya kematian itu tidak mati!”
Kemudian ia pergi ke arah depan, lalu saya mengikutinya, lantas saya mendengar ia membaca ayat

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”
(QS Ali Imran: 185)

Lalu saya berkata, “Dan apa yang terjadi sesudah kematian?”
Maka orang itu berkata, “Barangsiapa yang yakin dengan apa yang terjadi sesudah kematian, niscaya ia menyingsingkan kain kewaspadaan dan tidak ada baginya tempat di dunia.”
Kemudian orang itu berdoa, “Wahai Dzat yang bagi wajah-Nya bersungguh-sungguhlah semua wajah, putihkanlah wajahku dengan memandang kepada wajah-Mu dan penuhilah hatiku dengan kecintaan kepada-Mu, dan selamatkanlah saya dari kehinaan pencelaan besok di sisi-Mu. Sesungguhnya telah datang dariku rasa malu dengan-Mu dan telah tiba bagiku waktu kembali dari berpaling dari-Mu.”
Kemudian orang itu berkata, “Jikalau tidak ada kemurahan-Mu, niscaya tidak lapang bagiku ajalku dan jikalau tidak ada kemaafan-Mu, niscaya tidak terhampar pada apa yang di sisi-Mu akan cita-citaku.”
Kemudian ia berlalu dan meninggalkanku.[]

Kesungguhan Doa Aisyah ra


Al Qasim bin Muhammad berkata,
Di pagi hari saya mulai dengan menemui ‘Aisyah ra untuk memberi salam kepadanya.
Suatu hari saya pergi kepadanya dan ia sedang mengerjakan shalat dhuhur, ia membaca ayat

“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka” (QS Ath Thur: 27)

Dan ‘Aisyah menangis dan mengulang-ulangi ayat tersebut. Lalu saya berdiri hingga jemu dan ia masih seperti itu.
Ketika saya melihat itu, maka saya pergi ke pasar. Kemudian saya kembali dari pasar setelah membeli segala keperluanku, ia masih mengulang-ulangi ayat tersebut sambil menangis dan berdoa.[]

Friday, March 29, 2013

Menepati Cita-cita


Telah diriwayatkan dari Anas bahwa pamannya yaitu Annas bin An Nadhr tidak mengikuti perang Badar beserta Rasulullah saw. Lalu yang demikian itu membuat berat hatinya, ia berkata, “Tempat gugurnya orang yang mati syahid yang diikuti oleh Rasulullah saw dan saya tidak hadir padanya. Demi Allah, jikalau Allah memperlihatkan kepadaku tempat gugurnya orang yang mati syahid beserta Rasulullah, niscaya Allah akan melihat apa yang saya perbuat.”

Lalu Annas bin An Nadhr menyaksikan peperangan Uhud pada tahun berikutnya, lantas ia disambut oleh Sa’ad bin Muadz seraya berkata, “Hai Abu Amr! Kemana?”
Annas bin Nadhr menjawab, “Aduhai bau sorga di depan Uhud.”

Lalu Annas bin Nadhr berperang hingga terbunuh dan dijumpai pada tubuhnya delapan puluh lebih luka dari lemaran panah, pukulan dan tusukan. Saudara perempuannya, yaitu Bintum Nadhr berkata, “Saya tidak mengenal saudaraku kecuali dengan jari-jarinya.”
Maka turunlah ayat ini:
Ada orang-orang yang menetapi apa yang mereka telah janjikan kepada Allah
(QS Al Ahzab:23)

Ukuran Malaikat Jibril dan Israfil


Rasulullah saw bersabda kepada malaikat Jibril as
”Aku ingin untuk melihat rupamu yang itu rupamu.”
Malaikat Jibril as menajwab, “Engkau tidak sanggup demikian.”
Rasulullah saw terus bersabda,
“Tetapi tampakkanlah kepadaku.”
Maka Jibril menjanjikan kepada Rasulullah saw di maqam Baqi’ pada malam yang terang bulan. Malaikat Jibril datang bersama beliau, lalu Rasulullah saw memandang. Tiba-tiba malaikat Jibril telah menutupi kaki langit, yakni tepi-tepinya.
Maka Rasulullah saw jatuh pingsan, lalu beliau sadar dan malaikat Jibril as telah kembali kepada rupanya yang pertama.
Maka Rasulullah saw bersabda,
“Aku tidak menduga bahwa satu dari makhluk Allah sedemikian itu.”
Malaikat Jibril berkata, “Bagaimana jika engkau melihat malaikat Israfil. Sesungguhnya Arsy di atas bahunya, dan dua kakinya yang tembus di lapisan bumi yang paling bawah. Dan ia menjadi kecil daripada kebesaran Allah sehingga ia menjadi seperti washa, yakni seperti burung pipit yang kecil.

Maka perhatikanlah apa yang menutupi Malaikat Jibril dari kebesaran dan kewibawaan sehingga ia kembali ke batas tersebut. Dan para malaikat lainnya tidaklah seperti itu karena berlebih kurangnya mereka pada makrifat.[]

Bencana Tanda Cinta Allah


Allah Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Musa as,
“Sesungguhnya Aku apabila mencintai seorang hamba, maka Aku mencobanya dengan bencana-bencana yang mana gunung-gunung tidak dapat berdiri karenanya, agar Aku melihat bagaimana benarnya.
Kalau Aku dapatkan ia penyabar, maka Aku jadikan ia kekasih, dan apabila Aku dapatkan ia orang yang gundah gulana dan mengadu kepada makhluk-Ku, maka Aku akan hinakannya dan Aku tidak akan peduli.”

Jadi, diantara tanda-tanda benar adalah menyembunyikan semua bencana dan taat semuanya dan tidak suka bahwa makhuk mengetahuinya.[]

Friday, March 22, 2013

Tuntaskan Pekerjaanmu!


Seseorang pernah berdiri beserta Abu Ubaid At Tutsuri dan ia tengah membajak tanahnya setelah Ashar dari hari Arafah, lalu sebagian temannya dari wali Abdal melewatinya lantas membisikinya dengan sesuatu. Maka Abu Ubaid berkata, “Tidak.”
Lalu teman itu berjalan seperti awan yang mengusap bumi sehingga ia hilang dari mataku. Maka saya bertanya kepada Abu Ubaid, “Apa yang ia katakan kepadamu?”

Abu Ubaid menjawab, “Ia memintaku agar saya menunaikan haji bersamanya, lalu saya menjawab tidak.”
Abu Ubaid kemudian menjelaskan, “Saya tidak mempunyai niat menunaikan ibadah haji dan saya telah berniat bahwa saya akan menyempurnakan tanah ini pada sore hari, sehingga saya takut kalau saya mengerjakan haji maka saya akan menghadapi kutukan Allah Ta’ala karena saya memasukkan dalam sesuatu amal bagi Allah dengan sesuatu selain-Nya. Maka apa yang saya lakukan itu menurut saya lebih besar daripada tujuh puluh kali haji.”