Friday, March 29, 2013

Ukuran Malaikat Jibril dan Israfil


Rasulullah saw bersabda kepada malaikat Jibril as
”Aku ingin untuk melihat rupamu yang itu rupamu.”
Malaikat Jibril as menajwab, “Engkau tidak sanggup demikian.”
Rasulullah saw terus bersabda,
“Tetapi tampakkanlah kepadaku.”
Maka Jibril menjanjikan kepada Rasulullah saw di maqam Baqi’ pada malam yang terang bulan. Malaikat Jibril datang bersama beliau, lalu Rasulullah saw memandang. Tiba-tiba malaikat Jibril telah menutupi kaki langit, yakni tepi-tepinya.
Maka Rasulullah saw jatuh pingsan, lalu beliau sadar dan malaikat Jibril as telah kembali kepada rupanya yang pertama.
Maka Rasulullah saw bersabda,
“Aku tidak menduga bahwa satu dari makhluk Allah sedemikian itu.”
Malaikat Jibril berkata, “Bagaimana jika engkau melihat malaikat Israfil. Sesungguhnya Arsy di atas bahunya, dan dua kakinya yang tembus di lapisan bumi yang paling bawah. Dan ia menjadi kecil daripada kebesaran Allah sehingga ia menjadi seperti washa, yakni seperti burung pipit yang kecil.

Maka perhatikanlah apa yang menutupi Malaikat Jibril dari kebesaran dan kewibawaan sehingga ia kembali ke batas tersebut. Dan para malaikat lainnya tidaklah seperti itu karena berlebih kurangnya mereka pada makrifat.[]

Bencana Tanda Cinta Allah


Allah Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Musa as,
“Sesungguhnya Aku apabila mencintai seorang hamba, maka Aku mencobanya dengan bencana-bencana yang mana gunung-gunung tidak dapat berdiri karenanya, agar Aku melihat bagaimana benarnya.
Kalau Aku dapatkan ia penyabar, maka Aku jadikan ia kekasih, dan apabila Aku dapatkan ia orang yang gundah gulana dan mengadu kepada makhluk-Ku, maka Aku akan hinakannya dan Aku tidak akan peduli.”

Jadi, diantara tanda-tanda benar adalah menyembunyikan semua bencana dan taat semuanya dan tidak suka bahwa makhuk mengetahuinya.[]

Friday, March 22, 2013

Tuntaskan Pekerjaanmu!


Seseorang pernah berdiri beserta Abu Ubaid At Tutsuri dan ia tengah membajak tanahnya setelah Ashar dari hari Arafah, lalu sebagian temannya dari wali Abdal melewatinya lantas membisikinya dengan sesuatu. Maka Abu Ubaid berkata, “Tidak.”
Lalu teman itu berjalan seperti awan yang mengusap bumi sehingga ia hilang dari mataku. Maka saya bertanya kepada Abu Ubaid, “Apa yang ia katakan kepadamu?”

Abu Ubaid menjawab, “Ia memintaku agar saya menunaikan haji bersamanya, lalu saya menjawab tidak.”
Abu Ubaid kemudian menjelaskan, “Saya tidak mempunyai niat menunaikan ibadah haji dan saya telah berniat bahwa saya akan menyempurnakan tanah ini pada sore hari, sehingga saya takut kalau saya mengerjakan haji maka saya akan menghadapi kutukan Allah Ta’ala karena saya memasukkan dalam sesuatu amal bagi Allah dengan sesuatu selain-Nya. Maka apa yang saya lakukan itu menurut saya lebih besar daripada tujuh puluh kali haji.”

Ikhlas Sumber Kekuatan




Dalam cerita-cerita Bani Israil dikisahkan bahwa seorang Abid (yang ahli ibadah) menyembah Allah dalam masa yang lama, lalu suatu kaum mendatanginya lantas mereka berkata, “Sesungguhnya disini terdapat suatu kaum yang menyembah pohon, tidak menyembah Allah. Maka ia marah, karena demikian itu ia mengambil kapaknya dan ia menuju ke pohon itu lalu memotongnya.

Lalu iblis dalam bentuk seorang syekh menyambutnya lalu bertanya, “Kemana kau hendak pergi? Mudah-mudahan Allah merahmatimu.” Orang abid itu menjawab, “Saya hendak memotong pohon ini.”
Iblis bertanya, “Apa yang terjadi antara dirimu dengan pohon itu sehingga kamu meninggalkan ibadahmu, kesibukanmu dengan dirimu dan kamu mengosongkan diri untuk selain demikian?”
Maka abid menjawab, “Sesungguhnya ini sebagian dari ibadahku.”
Iblis berkata, “Saya tidak akan membiarkanmu memotongnya.”
Lalu iblis memeranginya, lantas abid tersebut menangkapnya dan membuangnya ke tanah dan ia duduk di atas iblis.

Maka iblis lemah, lalu berkata kepadanya, “Apakah kamu mempunyai keputusan tentang sesuatu perkara yang terjadi antara saya dan kamu, yang ia lebih baik dan lebih berguna bagimu.”
Abid itu bertanya, “Apa itu?”
Ibli menjawab, Lepaskanlah saya, sehingga saya berkata kepadamu.”
Lalu abid melepaskannya.

Maka iblis itu berkata kepadanya, “Kamu adalah orang miskin yang tidak memiliki apa-apa. Sesungguhnya kamu adalah beban atas manusia yang menanggungmu dan mungkin kamu ingin melebihi saudara-saudaramu dan membantu tetangga-tetanggamu, kamu kenyang dan tidak memerlukan manusia.”
Abid itu menjawab, “Ya.”

Iblis berkata, “Kembalilah dari urusan ini dan bagimu atasku bahwa saya memberi di dekat kepalamu setiap malam dua dinar, apabila pagi-pagi maka kamu mengambilnya, lalu kamu belanjakan untuk dirimu dan keluargamu dan kamu bersedekah kepada saudara-saudaramu.” Maka demikian itu lebih berguna bagimu dan bagi kaum muslimin daripada memotong pohon ini yang akan ditanami tempatnya. Dan memotongnya tidak mendatangkan bahaya sedikitpun kepada mereka. Dan kamu memotong pohon itu tidak membawa manfaat bagi saudara-saudaramu yang mukmin.”

Maka Abid itu berpikir mengenai apa yang dikatakan iblis dan ia berkata, “Syaikh itu benar. Saya bukan seorang nabi yang mengharuskan saya memotong pohon ini, dan Allah pun tidak menyuruh saya memotongnya sehingga saya durhaka dengan membiarkannya. Dan apa yang ia sebutkan itu lebih banyak manfaatnya.”

Maka iblis berjanji kepadanya untuk menepati janji tersebut dan bersumpah baginya. Lalu Abid itu kembali ke tempat ibadahnya lantas ia bermalam. Maka ketika pagi-pagi, ia melihat dua dinar di dekat kepalanya, lalu ia mengambilnya. Begitu pula keesokan harinya, kemudian pada pagi hari yang ketiga dan seterusnya ia tidak melihat apa-apa.

Maka abid itu marah dan mengambil kapak di atas pundaknya, lalu iblis menyambutnya dalam bentuk seorang syaikh, lalu ia bertanya kepadanya, “Kemana?”
Abid itu menjawab, “saya akan memotong pohon itu.”
Iblis berkata, “Kamu berdusta, demi Allah, kamu tidak mampu berbuat demikian dan tidak ada jalan bagimu kepadanya.”
Lalu sang Abid berusaha menangkap iblis seperti yang ia lakukan pertama kali.
Iblis berkata, “Amat jauh.”
Dengan mudah iblis menangkap dan membantingnya dan iblis duduk di atas dadanya seraya berkata, “Hendaklah kamu menghentikan apa yang hendak kamu lakukan atau saya akan menyembelihmu!”

Si abid melihat bagaimana tiba-tiba tidak ada kemampyan baginya untuk melawan iblis, maka ia berkata, “Wahai syaikh, engkau telah mengalahkanku, maka lepaskanlah aku dan beritahukanlah kepadaku bagaimana engkau dapat mengalahkanku sekarang.”
Iblis menjawab, “Sesungguhnya kamu pertama marah karena Allah dan hatimu adalah akhirat, lalu Allah menundukkanku bagimu, sedangkan kali ini engkau marah karena dirimu dan karena dunia, maka saya dengan mudah bisa mengalahkanmu.”[]

Wednesday, November 21, 2012

Kisah Barakh: Hamba Yang Dikabulkan Doanya

Kisah Barakh: Hamba yang Dikabulkan Doanya

Nabi Musa Kalimullah as disuruh meminta kepada Barakh untuk melakukan shalat istisqa’ (shalat minta hujan) untuk kaum Bani Israil, sesudah mereka tertimpa kemarau selama 7 tahun.

Nabi Musa as keluar untuk mengerjakan shalat istisqa’ untuk mereka, dengan berjumlah 70 ribu orang. Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan wahyu kepada Nabi Musa as, “Bagaimana Aku mengabulkan doa mereka, dimana mereka telah digelapkan oleh dosa-dosanya, hati mereka itu keji. Mereka berdoa kepadaku dengan tidak yakin dan merasa aman dari siksaan-Ku. Pergilah pada salah seorang dari hamba-Ku yang bernama Barakh. Maka katakanlah kepadanya supaya ia keluar untuk melaksanakan shalat istisqa’, sehingga Aku mengabulkan doanya.

Maka Nabi pun bertanya-tanya tentang Barakh, mereka tiada satu pun yang mengenal.
Hingga pada suatu hari Nabi Musa berjalan-jalan di suatu jalan, tiba-tiba seorang hamba hitam telah berada di hadapannya. Dan antara dua mata hamba itu berdebu dari bekas sujud dan di lehernya diikat dengan kain selimut. Maka Nabi Musa as mengetahuinya dengan nur Allah Azza wa Jalla.

Maka Nabi Musa memberi salam kepadanya dan bertanya, “Siapakah namamu?”
Hamba hitam itu menjawab, “Barakh!”
Nabi Musa berkata, “Jadi kamu ini, yang kami cari-cari semenjak beberapa waktu. Bangunlah dan bershalat istisqa’ bersama-sama kami.”

Maka hamba hitam itu bangun. Dan ia mengucapkan di dalam doanya, “Bukankah semua ini dari perbuatan-Mu? Bukankah semua ini dari kesantunan-Mu? Kiranya apakah yang tampak bagi-Mu? Adakah kurang untuk-Mu akan mata air-Mu? Ataukah angin yang melawan kepada perintah-Mu? Atau telah habis apa yang ada pada-Mu? Ataukah karena kerasnya kemarahan-Mu atas orang-orang yang berdosa? Bukankah Engkau Maha Pengampun sebelum Engkau menciptakan orang-orang yang berbuat kesalahan? Telah Engkau ciptakan rahmat dan Engkau telah menyuruh dengan kasih sayang. Ataukah Engkau perlihatkan kepada kami bahwasanya Engkau enggan. Ataukah Engkau khawatir akan luput waktu dimana akan Engkau segerakan siksaan?”

Yang meriwayatkan terus berkata, “Maka senantiasa Barakh pada tempatnya. Sehingga basahlah kaum Bani Israil dengan tetes-tetes hujan. Dan Allah Ta’ala menumbuhkan rumput dalam setengah hari, sehingga datanglah orang-orang penggembala unta.”

Maka kembalilah Barakh, lalu ia dijemput oleh Musa as.
Barakh bertanya, “Bagaimana kamu melihat, ketika saya mengadu kepada Tuhanku? Bagaimana Dia menginsafkan aku?”
Lalu Nabi Musa minta pengertian daripadanya, maka Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepadanya, “Bahwa Barakh menertawakan Aku setiap hari tiga kali.”

(Ihya Ulumuddin, Bab Mahabbah)

Kisah Sang Pembaca Al Quran

Diceritakan dari sebahagian murid (orang yang menuju jalan akhirat), ia berkata, “Saya telah memperoleh kemanisan bermunajah pada permulaan kehendakku berjalan kepada Allah. Maka saya membiasakan membaca Al Quran terus menerus pada siang dan malam hari. Kemudian datanglah kepadaku kemalasan dan terputuslah aku dari membaca Al Quran.

Murid itu kemudian berkata, “Maka saya mendengar suara yang mengatakan dalam tidurku, ‘Jika kamu mengaku-ngaku bahwa kamu mencintai-Ku, mengapa kau putuskan dari membaca kitab-Ku? Apakah kamu tidak memahami apa yang berada di dalamnya dari halusnya cacian-Ku?’

Murid itu kemudian berkata, ‘maka saya terjaga dari tidur dan telah terserap dalam hatiku akan kecintaan kepada Al Quran, lalu saya membiasakan kembali untuk membaca Al Quran seperti yang sudah-sudah.”

(Dari Kitab Ihya Ulumuddin Bab Mahabbah)

Anugerah Dalam Bencana


Masruq berkata;
“Adalah seorang lelaki di desa mempunyai seekor anjing, seekor keledai dan seekor ayam jantan. Ayam jantan membangunkan mereka untuk melaksanakan shalat. Keledai membawakan air untuk mereka dan membawakan tempat perkemahannya dan anjing yang menjaganya.

Maka datanglah musang menyambar ayam jantan itu. Maka mereka bersusah hati karenanya. Dan di desa itu ada seorang lelaki shalih, lalu ia berkata, “Semoga yang demikian itu lebih baik untuknya.”
Kemudian datanglah seekor serigala merobek-robek perut keledai dan membunuhnya. Mereka bersusah hati karenanya.
Lelaki yang shalih itu kembali berkata, “Semoga yang demikian itu lebih baik untuknya.”
Kemudian sesudah itu tertimpalah anjing pada kebinasaan.
Lelaki shalih berkata, “Mungkin yang demikian itu lebih baik untuknya.”

Kemudian pada suatu pagi hari, mereka melihat, bahwa orang-orang di sekitar mereka ditawan. Dan hanya ia saja yang tidak ditawan.

Masruq berkata, “Sesungguhnya mereka itu ditawan karena pada mereka ada suara anjing, keledai dan ayam jantan. Maka barangsiapa yang mengetahui akan kesamaran lemah-lembutnya Allah Ta’ala, niscaya ia ridha dengan perbuatan-Nya dalam segala hal.

(Dari Ihya Ulumuddin, Bab Mahabbah)