Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, dia berkata “Aku tidak bercerita kepada kalian, kecuali cerita itu telah aku dengar langsung dari Rasulullah saw. Kedua telingaku telah mendengarnya sendiri dan telah kusimpan di dalam hatiku pula.”
Hiduplah seseorang yang telah membunuh 99 orang. Dia kemudian ingin bertaubat, lalu dia pun bertanya kepada orang yang dianggap paling pandai di atas bumi ini. Oleh orang tersebut disarankan untuk menemui seseorang, dia pun berangkat untuk menemuinya. Setelah bertemu dengan orang yang dimaksud, dia lalu bertanya, “Aku ini adalah orang yang telah melenyapkan 99 nyawa, apakah aku masih dapat bertaubat?”
“Kamu telah membunuh 99 orang!” kata orang itu kepadanya.
Mendengar jawaban orang yang pandai demikian itu, lalu dihunuslah pedangnya dan orang pandai itu pun meninggal di tangannya, sehingga genaplah 100 orang dibunuhnya.
Demikianlah, dia tetap bertekad untuk taubat dan seseorang menunjukkannya agar datang menemui seseorang yang dianggap terpandai.
Dia pun datang kepadanya dan bertanya, “Aku telah membunuh 100 orang, apakah aku masih dapat bertaubat?”
“Siapa yang dapat menghalangimu dan bertaubat? Tinggalkan kampung halamanmu yang penuh dengan kemaksiatan itu dan pergilah ke desa yang lebih baik (desa yang menjadikanmu rajin beribadah bila tinggal di sana)!”
Dijalankannya saran orang tersebut, tetapi di tengah-tengah jalan ajal pun datang menjemputnya.
Setelah orang itu meninggal, maka berdebatlah malaikat bagian rahmat dan malaikat bagian azab.
“Akulah yang berhak atas dirinya, karena sesaat pun dia tidak pernah durhaka kepadaku!” kata sang iblis.
“Dia telah keluar untuk bertaubat!” bantah malaikat bagian rahmat.
Hamma berkata, “Telah bercerita kepadaku Humaid ath Thawil dari Bakr bin Abdullah Al Muzani dari Abu Rafi’, dia berkata, ‘Allah SWT lalu mengutus malaikat dan mereka pun mengadukan permasalahan tersebut kepadanya.’”
Kembali pada hadis Qatadah, ia berkata, “Malaikat terakhir itu lalu berkata, ‘Lihatlah kedua desa itu, mana jarak yang paling dekat dengan orang ini?’ setelah diamati ternyata dia lebih dekat jaraknya pada desa yang baik itu.
Hasan telah bercerita kepada kami, bahwasanya saat merasa bahwa dirinya akan segera menemui ajalnya, dia pun mempersiapkan diri dengan duduk dan kemudan Allah-lah yang menggeser posisinya hingga ia lebih dekat ke desa yang baik dan menjauhkannya dari desa yang jelek. Karena itu dia pun dianggap sebagai penduduk desa yang baik (yang hendak ditujunya)
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
"Sungguh pada kisah-kisah mereka terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal." (QS Yusuf [12]:111)
Friday, April 13, 2012
Meninggalkan Desa yang Penuh Kezaliman
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra:
Tersebutlah dua desa, yang satu diwarnai suasana yang baik dan yang satunya lagi dipenuhi kezaliman. Kemudian seorang laki-laki penduduk desa yang penuh dengan kezaliman itu pergi meninggalkan desanya menuju ke desa yang baik.
Di tengah perjalanan dia dihadang oleh malaikat pencabut nyawa (Izrail) sebagaimana telah dikehendaki oleh Allah SWT. Terjadilah perselisihan antara Malaikat Izrail dengan setan.
“Demi Allah, selamanya dia tidak pernah mendurhakai aku,” kata setan.
“Orang ini keluar dengan tujuan untuk bertaubat,” sanggah malaikat Izrail.
Karena perdebatan antara keduanya tidak kunjung selesai, akhirnya diputuskan untuk mengukur jarak kelebihan (dari posisi tubuhnya yang rebah di bumi itu) antara desa yang baik dan desa yang penuh kezaliman. Setelah diukur, ternyata posisi tubuhnya condong atau mendekati ke desa yang baik dengan terpaut satu jengkal. Karenanya dosanyapun diampuni oleh Allah SWT.
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Tersebutlah dua desa, yang satu diwarnai suasana yang baik dan yang satunya lagi dipenuhi kezaliman. Kemudian seorang laki-laki penduduk desa yang penuh dengan kezaliman itu pergi meninggalkan desanya menuju ke desa yang baik.
Di tengah perjalanan dia dihadang oleh malaikat pencabut nyawa (Izrail) sebagaimana telah dikehendaki oleh Allah SWT. Terjadilah perselisihan antara Malaikat Izrail dengan setan.
“Demi Allah, selamanya dia tidak pernah mendurhakai aku,” kata setan.
“Orang ini keluar dengan tujuan untuk bertaubat,” sanggah malaikat Izrail.
Karena perdebatan antara keduanya tidak kunjung selesai, akhirnya diputuskan untuk mengukur jarak kelebihan (dari posisi tubuhnya yang rebah di bumi itu) antara desa yang baik dan desa yang penuh kezaliman. Setelah diukur, ternyata posisi tubuhnya condong atau mendekati ke desa yang baik dengan terpaut satu jengkal. Karenanya dosanyapun diampuni oleh Allah SWT.
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Kisah Pertaubatan Seorang Pendurhaka
Diriwayatkan dari Rabi’ah bin Utsman At Taimiy:
Dahulu ada seorang laki-laki yang gemar berbuat kemaksiatan kepada Allah SWT. Namun Allah tetap menghendaki atas dirinya menjadi orang baik dan mau bertaubat. Suatu ketika dia berkata kepada istrinya, “Aku akan mencari syafaat kepada Allah.”
Demikianlah, dia lalu keluar menuju ke sebuah tanah lapang dan di sana berseru, “Wahai langit, berilah aku syafaatmu! Wahai gunung berilah aku syafaatmu! Wahai bumi, berilah aku syafaatmu dan wahai malaikat, berilah aku syafaatmu!”
Karena kehabisan energi, akhirnya orang itu pun jatuh tertelungkup di atas tanah. Allah lalu mengutus seorang malaikat, dan oleh malaikat dia didudukkan dan diusap kepalanya seraya berkata, “Berbahagialah kamu, karena sesungguhnya Allah telah menerima taubatmu.”
“Semoga kamu senantiasa mendapat rahmat dari Allah. Siapa sebenarnya yang telah memberikan syafaat kepadaku dari Allah SWT?” tanya laki-laki itu kepada malaikat.
“Rasa takutmu kepada Allah itulah yang memberi syafaat kepadamu,” jawab sang malaikat.
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Dahulu ada seorang laki-laki yang gemar berbuat kemaksiatan kepada Allah SWT. Namun Allah tetap menghendaki atas dirinya menjadi orang baik dan mau bertaubat. Suatu ketika dia berkata kepada istrinya, “Aku akan mencari syafaat kepada Allah.”
Demikianlah, dia lalu keluar menuju ke sebuah tanah lapang dan di sana berseru, “Wahai langit, berilah aku syafaatmu! Wahai gunung berilah aku syafaatmu! Wahai bumi, berilah aku syafaatmu dan wahai malaikat, berilah aku syafaatmu!”
Karena kehabisan energi, akhirnya orang itu pun jatuh tertelungkup di atas tanah. Allah lalu mengutus seorang malaikat, dan oleh malaikat dia didudukkan dan diusap kepalanya seraya berkata, “Berbahagialah kamu, karena sesungguhnya Allah telah menerima taubatmu.”
“Semoga kamu senantiasa mendapat rahmat dari Allah. Siapa sebenarnya yang telah memberikan syafaat kepadaku dari Allah SWT?” tanya laki-laki itu kepada malaikat.
“Rasa takutmu kepada Allah itulah yang memberi syafaat kepadamu,” jawab sang malaikat.
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Kisah Pertaubatan Dua Laki-Laki dari Bani Israil
Diriwayatkan dari Ka’ab al Ahbar:
Ada dua laki-laki dari kaum Bani Israil yang sama-sama berangkat ke masjid. Salah satu masuk ke dalam masjid, sedang seorang lagi hanya duduk di luar saja seraya berkata, “Orang semacam aku ini tidaklah pantas masuk ke Baitullah (masjid), karena aku telah berbuat maksiat kepada-Nya.”
Karena pengakuannya yang tulus itu, dia pun ditulis sebagai orang yang jujur.
Dan ada lagi seorang laki-laki dari kaum Bani Israil yang melakukan perbuatan dosa, dia pun merasa susah karenanya. Dia lalu berjalan kesana-kemari sambil berkata, “Dengan cara apa Tuhanku dapat rela kepadaku? Dengan cara apa Tuhanku dapat rela kepadaku?”
Dengan perbuatannya itu akhirnya dia ditulis sebagai orang yang jujur.
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Ada dua laki-laki dari kaum Bani Israil yang sama-sama berangkat ke masjid. Salah satu masuk ke dalam masjid, sedang seorang lagi hanya duduk di luar saja seraya berkata, “Orang semacam aku ini tidaklah pantas masuk ke Baitullah (masjid), karena aku telah berbuat maksiat kepada-Nya.”
Karena pengakuannya yang tulus itu, dia pun ditulis sebagai orang yang jujur.
Dan ada lagi seorang laki-laki dari kaum Bani Israil yang melakukan perbuatan dosa, dia pun merasa susah karenanya. Dia lalu berjalan kesana-kemari sambil berkata, “Dengan cara apa Tuhanku dapat rela kepadaku? Dengan cara apa Tuhanku dapat rela kepadaku?”
Dengan perbuatannya itu akhirnya dia ditulis sebagai orang yang jujur.
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Kisah Pertaubatan Pemuda yang Alpa Akan Jatidirinya
Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih:
Dahulu semasa Nabi Musa as, ada seorang pemuda yang suka melampaui batas dan lupa akan jatidirinya. Karena perilaku yang jelek itulah, akhirnya dia diusir oleh penduduk dari tengah-tengah kaum Bani Israil sendiri, hingga mengantarkannya pada reruntuhan sebuah bangunan yang terletak di pintu gerbang suatu daerah. Di tempat inilah dia menghadapi sakaratul maut.
Allah SWT lalu memberikan wahyu kepada Nabi Musa as dengan firman-Nya, “Bahwa salah seorang wali(kekasih)-Ku telah meninggal dunia. Datanglah ke sana, mandikan dan shalatkanlah ia! Katakan kepada orang yang mempunyai banyak dosa agar ia mau menghadiri jenazahnya dan dia akan Aku ampuni segala semua dosanya serta bawalah dia menghadap-Ku agar Aku menempatkannya di tempat yang sesuai!”
Hal ini pun diumumkan oleh Nabi Musa as kepada seluruh kaum Bani Israil, dan demikianlah berbondong-bondong orang datang melawatnya. Ketika mereka telah tiba di tempat tujuan dan mengenal orang yang meninggal dunia itu, maka berkatalah mereka, “Wahai Nabi Allah, dialah orang fasik yang kita usir dahulu!”
Mendengar ucapan kaumnya ini beliau pun terkejut, dan Allah kemudian memberikan wahyu kepada beliau, “Benar kata mereka itu dan merekalah yang menjadi saksinya, hanya saja saat menjelang akhir hayatnya di reruntuhan ini, dia mencoba melihat kanan-kiri, tetapi dia tidak menemukan seorang kerabat pun. Dia hanya melihat bahwa dirinya sebagai sosok yang asing, sendirian dan hina. Dia lalu menengadah dan memohon kepada-Ku, ‘Wahai Tuhanku, seorang hamba dari sekian banyak hamba-Mu ini merasa asing di negeri-Mu. Seandainya aku tahu, bahwa siksaku akan semakin bertambah di wilayah kerajaan-Mu ini dan ampunan-Mu kepadaku semakin berkurang pula, aku tidak akan meminta akhirat kepada-Mu. Padahal aku tidak mempunyai tempat berlindung dan harapan sedikit pun, kecuali hanya kepada Engkau, dan aku telah mendengar ayat yang telah Engkau turunkan, bahwa Engkau telah berfirman ‘Sesungguhnya Aku adalah Maha Pengampun dan Maha Pengasih’ Karenanya, janganlah Engkau sia-siakan harapanku ini!”
“Wahai Musa, apakah bila dia telah berbuat baik kepada-Ku kemudian Aku menolaknya, bukankah dia adalah orang yang asing dalam keadaan yang demikian ini? Dia telah memohon kepada-Ku lantaran Aku sendiri, dan juga telah merendahkan diri di hadapan-Ku. Demi keagungan –Ku, seandainya dia memohonkan ampunan kepada semua orang yang berdoa dari semua penduduk bumi, niscaya karena dia Aku akan memberikan ampunan kepada mereka akibat hinanya pengasingannya. Wahai Musa, Aku adalah Pelindung, Kekasih, Perawat, dan Pengasih orang yang asing!”
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Dahulu semasa Nabi Musa as, ada seorang pemuda yang suka melampaui batas dan lupa akan jatidirinya. Karena perilaku yang jelek itulah, akhirnya dia diusir oleh penduduk dari tengah-tengah kaum Bani Israil sendiri, hingga mengantarkannya pada reruntuhan sebuah bangunan yang terletak di pintu gerbang suatu daerah. Di tempat inilah dia menghadapi sakaratul maut.
Allah SWT lalu memberikan wahyu kepada Nabi Musa as dengan firman-Nya, “Bahwa salah seorang wali(kekasih)-Ku telah meninggal dunia. Datanglah ke sana, mandikan dan shalatkanlah ia! Katakan kepada orang yang mempunyai banyak dosa agar ia mau menghadiri jenazahnya dan dia akan Aku ampuni segala semua dosanya serta bawalah dia menghadap-Ku agar Aku menempatkannya di tempat yang sesuai!”
Hal ini pun diumumkan oleh Nabi Musa as kepada seluruh kaum Bani Israil, dan demikianlah berbondong-bondong orang datang melawatnya. Ketika mereka telah tiba di tempat tujuan dan mengenal orang yang meninggal dunia itu, maka berkatalah mereka, “Wahai Nabi Allah, dialah orang fasik yang kita usir dahulu!”
Mendengar ucapan kaumnya ini beliau pun terkejut, dan Allah kemudian memberikan wahyu kepada beliau, “Benar kata mereka itu dan merekalah yang menjadi saksinya, hanya saja saat menjelang akhir hayatnya di reruntuhan ini, dia mencoba melihat kanan-kiri, tetapi dia tidak menemukan seorang kerabat pun. Dia hanya melihat bahwa dirinya sebagai sosok yang asing, sendirian dan hina. Dia lalu menengadah dan memohon kepada-Ku, ‘Wahai Tuhanku, seorang hamba dari sekian banyak hamba-Mu ini merasa asing di negeri-Mu. Seandainya aku tahu, bahwa siksaku akan semakin bertambah di wilayah kerajaan-Mu ini dan ampunan-Mu kepadaku semakin berkurang pula, aku tidak akan meminta akhirat kepada-Mu. Padahal aku tidak mempunyai tempat berlindung dan harapan sedikit pun, kecuali hanya kepada Engkau, dan aku telah mendengar ayat yang telah Engkau turunkan, bahwa Engkau telah berfirman ‘Sesungguhnya Aku adalah Maha Pengampun dan Maha Pengasih’ Karenanya, janganlah Engkau sia-siakan harapanku ini!”
“Wahai Musa, apakah bila dia telah berbuat baik kepada-Ku kemudian Aku menolaknya, bukankah dia adalah orang yang asing dalam keadaan yang demikian ini? Dia telah memohon kepada-Ku lantaran Aku sendiri, dan juga telah merendahkan diri di hadapan-Ku. Demi keagungan –Ku, seandainya dia memohonkan ampunan kepada semua orang yang berdoa dari semua penduduk bumi, niscaya karena dia Aku akan memberikan ampunan kepada mereka akibat hinanya pengasingannya. Wahai Musa, Aku adalah Pelindung, Kekasih, Perawat, dan Pengasih orang yang asing!”
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Kisah Pertaubatan Hamba yang Durhaka
Diriwayatkan bahwa pada masa Nabi Musa as, kaum Bani Israil pernah tertimpa kemarau panjang, lalu berkumpullah mereka menemui Nabi Musa as seraya berkata, “Wahai Kalimullah, doakanlah kami kepada Tuhanmu agar Dia berkenan menurunkan hujan kepada kami!”
Kemudian berdirilah Nabi Musa as bersama kaumnya dan kemudian berangkatlah bersama mereka menuju ke sebuah tanah lapang. Jumlah mereka ada 30.000 orang atau bahkan lebih.
Setelah tiba di tempat yang dituju, Nabi Musa as pun mulai berdoa, “Tuhanku, berilah kami siraman dengan air hujan-Mu, tebarkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami berkat anak-anak kecil yang masih menyusu, hewan ternak yang sedang merumput dan orang-orang tua yang bungkuk. Sedang langit menambah kekeringan dan matahari semakin bertambah panas.”
Nabi Musa as kemudian melanjutkan doanya, “Tuhanku, bila Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku di sisi-Mu, maka dengan berkat kedudukan Nabi yang ummi, Muhammad saw yang telah Engkau utus di akhir zaman (aku memohon kepada-Mu).”
Allah kemudian memberi wahyu kepada beliau, “Aku tidak meremehkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya kamu di sisi-Ku adalah orang yang mempunyai kedudukan tinggi. Akan tetapi, bersamamu ini ada orang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan selama 60 tahun. Sekarang panggillah semua orang yang ada (dan beritahu mereka) agar orang itu mau keluar dari kelompokmu! Karena itulah Aku melarang (hujan turun) kepada kalian.”
Nabi Musa as lalu berkata lagi, “Wahai Tuhan dan Tuanku. Akulah hamba-Mu yang lemah dan suaraku yang lemah, apalah suaraku ini dapat menjangkau mereka, sedangkan jumlah mereka 70.000 bahkan mungkin lebih?”
Allah pun menurunkan wahyu kepada beliau, “Kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka!”
Nabi Musa as kemudian berdiri dan berseru kepada kaumnya, “Wahai seorang hamba yang durhaka yang telah melakukannya secara terang-terangan kepada Allah sejak 40 tahun yang silam, keluarlah kamu dari kalangan kami, karena engkaulah hujan tidak diturunkan kepada kami!”
Mendengar seruan dari Nabi Musa as itu, seorang yang durhaka itu berdiri sambil menengok kanan-kiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorang pun keluar dari kelompok mereka itu. Dengan demikian, tahulah bahwa dirinyalah yang dimaksud sebagai orang durhaka itu. Dia lalu berkata dalam hati, “Jika aku keluar dari kalangan ini, niscaya terbukalah kejahatanku di kalangan para pembesar kaum Bani Israil, tapi bila aku tetap duduk bersama mereka, pastilah hujan tidak akan turun karena diriku.”
Setelah berkata demikian, laki-laki itu lalu menyembunyikan kepalanya di balik baju dan menyesali semua perbuatannya seraya berdoa, “Wahai Tuhan dan Tuanku, aku telah durhaka kepada-Mu selama 40 tahun dan Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku, dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan penuh ketaatan, maka terimalah (taubat)ku.”
Beberapa saat kemudian tampaklah awan putih mulai berarak-arakan di atas langit dan seiring itu hujan pun turun dengan derasnya bagaikan ditumpahkan begitu saja dari atas langit.
Nabi Musa as lalu berkata, “Wahai Tuhan dan Tuanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada yang keluar (menampakkan dirinya sebagai orang durhaka yang Engkau maksudkan)?”
Allah SWT kemudian berfirman, “Wahai Musa, Aku memberikan hujan ini justru karena orang yang dulunya menyebabkan Aku tidak menurunkan hujan kepada kalian.”
“Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku siapa sebenarnya hamba yang taat itu?” kata Nabi Musa as.
“Wahai Musa, dulu ketika dia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka kejelekannya. Apakah sekarang Aku akan membuka rahasia (aib)nya ketika dia telah taat kepada-Ku? Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu domba. Sekarang haruskah Aku menjadi pengadu domba?” Demikianlah firman-Nya kepada Nabi Musa as.
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Kemudian berdirilah Nabi Musa as bersama kaumnya dan kemudian berangkatlah bersama mereka menuju ke sebuah tanah lapang. Jumlah mereka ada 30.000 orang atau bahkan lebih.
Setelah tiba di tempat yang dituju, Nabi Musa as pun mulai berdoa, “Tuhanku, berilah kami siraman dengan air hujan-Mu, tebarkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami berkat anak-anak kecil yang masih menyusu, hewan ternak yang sedang merumput dan orang-orang tua yang bungkuk. Sedang langit menambah kekeringan dan matahari semakin bertambah panas.”
Nabi Musa as kemudian melanjutkan doanya, “Tuhanku, bila Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku di sisi-Mu, maka dengan berkat kedudukan Nabi yang ummi, Muhammad saw yang telah Engkau utus di akhir zaman (aku memohon kepada-Mu).”
Allah kemudian memberi wahyu kepada beliau, “Aku tidak meremehkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya kamu di sisi-Ku adalah orang yang mempunyai kedudukan tinggi. Akan tetapi, bersamamu ini ada orang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan selama 60 tahun. Sekarang panggillah semua orang yang ada (dan beritahu mereka) agar orang itu mau keluar dari kelompokmu! Karena itulah Aku melarang (hujan turun) kepada kalian.”
Nabi Musa as lalu berkata lagi, “Wahai Tuhan dan Tuanku. Akulah hamba-Mu yang lemah dan suaraku yang lemah, apalah suaraku ini dapat menjangkau mereka, sedangkan jumlah mereka 70.000 bahkan mungkin lebih?”
Allah pun menurunkan wahyu kepada beliau, “Kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka!”
Nabi Musa as kemudian berdiri dan berseru kepada kaumnya, “Wahai seorang hamba yang durhaka yang telah melakukannya secara terang-terangan kepada Allah sejak 40 tahun yang silam, keluarlah kamu dari kalangan kami, karena engkaulah hujan tidak diturunkan kepada kami!”
Mendengar seruan dari Nabi Musa as itu, seorang yang durhaka itu berdiri sambil menengok kanan-kiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorang pun keluar dari kelompok mereka itu. Dengan demikian, tahulah bahwa dirinyalah yang dimaksud sebagai orang durhaka itu. Dia lalu berkata dalam hati, “Jika aku keluar dari kalangan ini, niscaya terbukalah kejahatanku di kalangan para pembesar kaum Bani Israil, tapi bila aku tetap duduk bersama mereka, pastilah hujan tidak akan turun karena diriku.”
Setelah berkata demikian, laki-laki itu lalu menyembunyikan kepalanya di balik baju dan menyesali semua perbuatannya seraya berdoa, “Wahai Tuhan dan Tuanku, aku telah durhaka kepada-Mu selama 40 tahun dan Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku, dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan penuh ketaatan, maka terimalah (taubat)ku.”
Beberapa saat kemudian tampaklah awan putih mulai berarak-arakan di atas langit dan seiring itu hujan pun turun dengan derasnya bagaikan ditumpahkan begitu saja dari atas langit.
Nabi Musa as lalu berkata, “Wahai Tuhan dan Tuanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada yang keluar (menampakkan dirinya sebagai orang durhaka yang Engkau maksudkan)?”
Allah SWT kemudian berfirman, “Wahai Musa, Aku memberikan hujan ini justru karena orang yang dulunya menyebabkan Aku tidak menurunkan hujan kepada kalian.”
“Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku siapa sebenarnya hamba yang taat itu?” kata Nabi Musa as.
“Wahai Musa, dulu ketika dia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka kejelekannya. Apakah sekarang Aku akan membuka rahasia (aib)nya ketika dia telah taat kepada-Ku? Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu domba. Sekarang haruskah Aku menjadi pengadu domba?” Demikianlah firman-Nya kepada Nabi Musa as.
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Kisah Pertaubatan Barkha, Seorang Ahli Ibadat
Diriwayatkan dari Ka’ab:
Pada masa Nabi Musa as, kaum Bani Israil pernah ditimpa bencana kekeringan, mereka pun memohon kepada beliau agar memintakan turunnya hujan kepada Allah. Nabi Musa as lalu berkata kepada mereka, “Keluarlah kalian semua bersamaku ke sebuah bukit!”
Kaum Bani Israil menuruti ajakan Nabi Musa as untuk keluar bersama beliau mendaki ke sebuah gunung. Sesampai di tempat tersebut, berkatalah Nabi Musa as kepada mereka, “Orang yang pernah melakukan dosa hendaklah jangan ada yang ikut bersamaku!”
Mereka semua lalu kembali, kecuali hanya seorang laki-laki buta sebelah matanya yang bernama Barkha Al Abid, yang masih setia mengikuti beliau.
“Apakah kamu tidak mendengar apa yang aku katakan?” kata Nabi Musa as kepadanya.
“Ya, aku mendengarnya” jawab Barkha.
“Apakah kamu tidak pernah melakukan dosa?” tanya beliau kepadanya.
“Aku tidak tahu, kecuali sesuatu yang akan kusebutkan ini. Jika itu memang dianggap sebagai suatu dosa, aku akan kembali,” jawab Barkha.
“Apakah itu?” tanya Nabi Musa as kepadanya.
“Tadi aku lewat di sebuah jalan, dan di seberang jalan tampak sebuah kamar yang terbuka pintunya. Kemudian mataku yang sekarang buta ini sempat memandang sejenak seseorang yang tidak aku kenal. Kepada mataku, aku lalu berkata, ‘Engkau adalah termasuk anggota tubuhku dan engkau telah lancang melakukan kesalahan. Setelah ini engkau tidak boleh bersamaku lagi!’ setelah berkata demikian maka kutusuk mataku dengan jariku sendiri sehingga berakibat kebutaan ini. Jika perbuatan yang demikian ini juga merupakan perbuatan dosa, aku pun akan kembali” jawabnya kepada Nabi Musa as.
“Itu bukan perbuatan dosa,” kata Nabi Musa as kepadanya.
“Sekarang mohonlah hujan wahai Barkha!” perintah beliau kepadanya.
Barkha kemudian berdoa, “Wahai Dzat Yang Suci, wahai Dzat Yang Suci! Tidak ada sesuatu di sisi-Mu yang mustahil. Dan terhadap kebakhilan, Engkau tidak akan memberi pertolongan, lalu apa yang tidak Engkau
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Pada masa Nabi Musa as, kaum Bani Israil pernah ditimpa bencana kekeringan, mereka pun memohon kepada beliau agar memintakan turunnya hujan kepada Allah. Nabi Musa as lalu berkata kepada mereka, “Keluarlah kalian semua bersamaku ke sebuah bukit!”
Kaum Bani Israil menuruti ajakan Nabi Musa as untuk keluar bersama beliau mendaki ke sebuah gunung. Sesampai di tempat tersebut, berkatalah Nabi Musa as kepada mereka, “Orang yang pernah melakukan dosa hendaklah jangan ada yang ikut bersamaku!”
Mereka semua lalu kembali, kecuali hanya seorang laki-laki buta sebelah matanya yang bernama Barkha Al Abid, yang masih setia mengikuti beliau.
“Apakah kamu tidak mendengar apa yang aku katakan?” kata Nabi Musa as kepadanya.
“Ya, aku mendengarnya” jawab Barkha.
“Apakah kamu tidak pernah melakukan dosa?” tanya beliau kepadanya.
“Aku tidak tahu, kecuali sesuatu yang akan kusebutkan ini. Jika itu memang dianggap sebagai suatu dosa, aku akan kembali,” jawab Barkha.
“Apakah itu?” tanya Nabi Musa as kepadanya.
“Tadi aku lewat di sebuah jalan, dan di seberang jalan tampak sebuah kamar yang terbuka pintunya. Kemudian mataku yang sekarang buta ini sempat memandang sejenak seseorang yang tidak aku kenal. Kepada mataku, aku lalu berkata, ‘Engkau adalah termasuk anggota tubuhku dan engkau telah lancang melakukan kesalahan. Setelah ini engkau tidak boleh bersamaku lagi!’ setelah berkata demikian maka kutusuk mataku dengan jariku sendiri sehingga berakibat kebutaan ini. Jika perbuatan yang demikian ini juga merupakan perbuatan dosa, aku pun akan kembali” jawabnya kepada Nabi Musa as.
“Itu bukan perbuatan dosa,” kata Nabi Musa as kepadanya.
“Sekarang mohonlah hujan wahai Barkha!” perintah beliau kepadanya.
Barkha kemudian berdoa, “Wahai Dzat Yang Suci, wahai Dzat Yang Suci! Tidak ada sesuatu di sisi-Mu yang mustahil. Dan terhadap kebakhilan, Engkau tidak akan memberi pertolongan, lalu apa yang tidak Engkau
(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)
Subscribe to:
Posts (Atom)