Friday, April 13, 2012

Kisah Pertaubatan Hamba yang Durhaka

Diriwayatkan bahwa pada masa Nabi Musa as, kaum Bani Israil pernah tertimpa kemarau panjang, lalu berkumpullah mereka menemui Nabi Musa as seraya berkata, “Wahai Kalimullah, doakanlah kami kepada Tuhanmu agar Dia berkenan menurunkan hujan kepada kami!”

Kemudian berdirilah Nabi Musa as bersama kaumnya dan kemudian berangkatlah bersama mereka menuju ke sebuah tanah lapang. Jumlah mereka ada 30.000 orang atau bahkan lebih.

Setelah tiba di tempat yang dituju, Nabi Musa as pun mulai berdoa, “Tuhanku, berilah kami siraman dengan air hujan-Mu, tebarkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami berkat anak-anak kecil yang masih menyusu, hewan ternak yang sedang merumput dan orang-orang tua yang bungkuk. Sedang langit menambah kekeringan dan matahari semakin bertambah panas.”

Nabi Musa as kemudian melanjutkan doanya, “Tuhanku, bila Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku di sisi-Mu, maka dengan berkat kedudukan Nabi yang ummi, Muhammad saw yang telah Engkau utus di akhir zaman (aku memohon kepada-Mu).”

Allah kemudian memberi wahyu kepada beliau, “Aku tidak meremehkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya kamu di sisi-Ku adalah orang yang mempunyai kedudukan tinggi. Akan tetapi, bersamamu ini ada orang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan selama 60 tahun. Sekarang panggillah semua orang yang ada (dan beritahu mereka) agar orang itu mau keluar dari kelompokmu! Karena itulah Aku melarang (hujan turun) kepada kalian.”

Nabi Musa as lalu berkata lagi, “Wahai Tuhan dan Tuanku. Akulah hamba-Mu yang lemah dan suaraku yang lemah, apalah suaraku ini dapat menjangkau mereka, sedangkan jumlah mereka 70.000 bahkan mungkin lebih?”

Allah pun menurunkan wahyu kepada beliau, “Kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka!”

Nabi Musa as kemudian berdiri dan berseru kepada kaumnya, “Wahai seorang hamba yang durhaka yang telah melakukannya secara terang-terangan kepada Allah sejak 40 tahun yang silam, keluarlah kamu dari kalangan kami, karena engkaulah hujan tidak diturunkan kepada kami!”

Mendengar seruan dari Nabi Musa as itu, seorang yang durhaka itu berdiri sambil menengok kanan-kiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorang pun keluar dari kelompok mereka itu. Dengan demikian, tahulah bahwa dirinyalah yang dimaksud sebagai orang durhaka itu. Dia lalu berkata dalam hati, “Jika aku keluar dari kalangan ini, niscaya terbukalah kejahatanku di kalangan para pembesar kaum Bani Israil, tapi bila aku tetap duduk bersama mereka, pastilah hujan tidak akan turun karena diriku.”

Setelah berkata demikian, laki-laki itu lalu menyembunyikan kepalanya di balik baju dan menyesali semua perbuatannya seraya berdoa, “Wahai Tuhan dan Tuanku, aku telah durhaka kepada-Mu selama 40 tahun dan Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku, dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan penuh ketaatan, maka terimalah (taubat)ku.”

Beberapa saat kemudian tampaklah awan putih mulai berarak-arakan di atas langit dan seiring itu hujan pun turun dengan derasnya bagaikan ditumpahkan begitu saja dari atas langit.

Nabi Musa as lalu berkata, “Wahai Tuhan dan Tuanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada yang keluar (menampakkan dirinya sebagai orang durhaka yang Engkau maksudkan)?”

Allah SWT kemudian berfirman, “Wahai Musa, Aku memberikan hujan ini justru karena orang yang dulunya menyebabkan Aku tidak menurunkan hujan kepada kalian.”

“Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku siapa sebenarnya hamba yang taat itu?” kata Nabi Musa as.

“Wahai Musa, dulu ketika dia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka kejelekannya. Apakah sekarang Aku akan membuka rahasia (aib)nya ketika dia telah taat kepada-Ku? Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu domba. Sekarang haruskah Aku menjadi pengadu domba?” Demikianlah firman-Nya kepada Nabi Musa as.

(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment