Thursday, April 5, 2012

Kisah Pertaubatan Nabi Yunus as

Diriwayatkan dari Hasan, bahwasanya Nabi Yunus as pernah bersama seorang Nabi dari Nabi kaum Bani Israil. Allah SWT lalu memberikan wahyu kepada Nabi tersebut, “Utuslah Yunus kepada penduduk Ninawa agar dia memberikan peringatan akan siksa-Ku.” (Ninawa adalah sebuah desa yang mempunyai jalan tembus sampai ke negeri Irak).

Hasan berkata, “Yunus pun dengan terpaksa akhirnya berangkat juga. Beliau adalah seorang laki-laki yang keras dan suka dan sering marah.”

Hasan berkata pula, “Nabi Yunus as mendatangi mereka seraya memberikan peringatan dan menakut-nakutinya. Akan tetapi mereka selalu mendustakan dan menolak nasihat beliau, bahkan melempari Nabi Yunus as dan mengusirnya. Beliau akhirnya meninggalkan mereka.

Kemudian berkatalah seorang Nabi Bani Israil tadi, “Kembalilah kamu kepada kaummu!” Mendengar perintah itu, Nabi Yunus pun kembali lagi kepada kaumnya, namun mereka melempari batu dan mengusir beliau.

Nabi Bani Israil tadi berkata lagi, “Kembalilah kamu kepada kaummu!” Nabi Yunus as lalu kembali lagi dan mereka pun tetap mendustakannya dan bahkan mengancam akan menyiksanya seraya berkata, “Kamu ini pembohong!”

Ketika para penduduk Niwana telah mendustakannya, kafir kepada Allah dan mengingkari kitab-Nya, maka saat itu pula Nabi Yunus as berdoa kepada Allah, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah membangkang dan kafir, oleh karenanya turunkanlah siksa-Mu kepada mereka.”

Allah lalu memberikan wahyu kepada beliau “Aku akan segera menurunkan azab kepada kaummu.”

Hasan berkata, Nabi Yunus pun kemudian keluar dari mereka seraya menjanjikan akan datangnya azab Allah setelah tiga hari. Beliau juga mengajak keluar semua keluarga beliau untuk berangkat menuju sebuah gunung sambil melihat keadaan penduduk Niwana dan menanti datangnya azab.

Setelah tiga hari, maka datanglah azab Allah kepada mereka, dan Nabi Yunus as beserta keluarga beliau sempat menyaksikannya. Akhirnya kaum itu bertaubat kepada Allah dan Allah pun menghilangkan azab tersebut terhadap mereka.

Ketika beliau mengetahui akan hilangnya azab Allah, tiba-tiba datanglah iblis dan berkata, “Wahai Yunus, jika kau kembali lagi kepada kaummu, mereka akan mencurigai dan mendustakanmu lagi!”

Mendengar penuturan Iblis itu, Yunus as lalu pergi dengan membawa amarah kepada kaumnya. Nabi Yunus as terus berjalan hingga sampailah beliau di tepi Sungai Tigris. Beliau pun menumpang sebuah perahu. Saat perahu telah berjalan menyusuri sungai, di tengah-tengah perjalanan perahu sarat penumpang itu terhenti, karena Allah telah memerintahkannya, “Berhentilah kamu!” Saat berhenti, perahu itu pun oleng ke kanan dan ke kiri, lalu berkatalah sebagian dari para penumpangnya, “Kenapa perahu ini?” Yang lainnya menjawab “Kami tidak tahu!” Nabi Yunus lalu berkata, “Aku tahu!”

Mereka bertanya, “Kenapa dengan perahu ini?” Nabi Yunus berkata, “Di dalam perahu ini ada seseorang yang lari dari Tuhannya. Dengan demikian, perahu ini mustahil tenang kembali bila kalian tidak melemparkan orang itu ke dalam air (sungai).”

Mereka bertanya lagi, “Siapakah dia?” Nabi Yunus as menjawab, “Sayalah orangnya.” Mereka telah mengenal Nabi Yunus.

Maka mereka pun berkata, “Jika yang dimaksud adalah dirimu sendiri, maka kami tidak akan melemparkanmu. Demi Allah, kami justru tidak mengharap selamat dari perahu ini, kecuali dengan pertolongan-Mu!”

Nabi Yunus as pun berkata,”Sekarang buatlah undian, siapa nanti yang keluar undiannya, maka lemparkanlah dia ke dalam air!”

Akhirnya mereka pun membuat undian dan dari hasil undian mereka yang keluar adalah Nabi Yunus as. Akan tetapi mereka tidak mau melemparkan beliau ke dalam air.

Beliau berkata lagi, “Undilah untuk kedua kalinya!” Mereka lalu mengadakan undian untuk kedua kalinya dan ternyata yang keluar adalah nama Nabi Yunus kembali.
Mereka kemudian melaksanakan undian untuk ketiga kalinya. Nabi Yunus as lalu berkata, “Lemparkanlah aku ke dalam air!”

Pada riwayat lain, beliau berkata, “Wahai kaumku, ceburkanlah aku ke dalam air dan selamatkanlah diri kalian!” Setelah beliau berkata demikian, berdirilah kaum Nabi Yunus, lalu mereka memanggul beliau bagaikan orang yang memendam rasa kasih sayang kepada beliau. Nabi Yunus as lalu berkata, “Bawalah aku ke bagian depan perahu!”

Mendengar permintaan beliau ini mereka pun segera melaksanakannya. Setelah tiba di tempat yang dimaksud dan mereka hendak melemparkan beliau, tiba-tiba seekor ikan paus datang dengan membuka mulutnya. Mengetahui hal itu Nabi Yunus berkata, “Wahai kaumku, kembalikan aku ke bagian belakang perahu!”

Mendengar perkataan beliau, mereka pun melaksanakannya. Ketika mereka telah dekat dengan tempat yang dimaksud dan bersiap-siap melemparkan Nabi Yunus, tiba-tiba beliau telah dijemput oleh seekor ikan paus yang menganga mulutnya.

Setelah tahu apa yang ada dalam perut ikan paus dan betapa menakutkan binatang itu, beliau pun berkata, “Wahai kaumku, kembalikanlah aku ke tengah-tengah perahu!” Mereka pun melaksanakan permintaan beliau, dan setelah sampai di tengah-tengah perahu, ternyata Nabi Yunus as telah disambut oleh ikan paus tadi. Beliau kemudian berkata, “Kembalikanlah aku ke sisi yang lain!” Ikan paus itu lalu menyongsongnya kembali dengan mulut yang menganga siap menelan beliau. Nabi Yunus as berkata, “Lemparkanlah aku dan selamatkanlah diri kalian dan ingatlah bahwa tidak ada keselamatan kecuali dari Allah!”

Mereka akhirnya melemparkan Nabi Yunus as yang seketika itu pula tubuh beliau ditelan oleh ikan paus, sebelum mencapai air. Dan ikan paus itu pun kembali menyelam ke dalam air.

Hasan mengatakan, ikan paus itu kemudian berlalu dengan membawa Nabi Yunus as ke suatu tempat kediamannya di dalam lautan, lalu lebih jauh lagi menuju ke dasar laut. Setelah sampai di sana, ikan yang di dalam perutnya tinggal Nabi Yunus as itu berputar-putar mengelilingi lautan selama 40 hari, sehingga Nabi Yunus as dapat mendengar bebatuan dan semua jenis ikan membaca tasbih.

Nabi Yunus as kemudian ikut pula membaca tasbih, tahlil dan menyucikan Allah. Dalam doanya Yunus as berkata, “Tuhanku, di langitlah tempat semayam-Mu dan bumilah tempat kekuasaan dan keajaiban-Mu. Tuhanku, dari pegununganlah Engkau telah mencampakkan aku, di beberapa negerilah Engkau telah memperjalankan aku dan dalam tiga kegelapanlah Engkau telah menahan aku. Tuhanku, Engkau telah menahan aku dalam suatu penjara di mana sebelumnya belum ada seorang pun yang dipenjara seperti aku. Tuhanku, Engkau telah menyiksa aku dengan suatu siksaan dimana sebelumnya belum ada seorang pun yang disiksa seperti aku.”

Setelah 40 hari dan Allah pun menurunkan mendung.
“Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al Anbiya’:87)

Tangis Nabi Yunus as itu kemudian didengar dan suaranya dikenali oleh para malaikat, dan karena tangisan itu pula para malaikat ikut menangis demikian juga langit, bumi dan ikan-ikan ikut menangis.

Allah yang bersifat Maha Perkasa (Jabbaar) kemudian berfirman, “Wahai para malaikat-Ku, mengapa kalian semua menangis?”
Para malaikat itu pun menjawab, “Tuhan kami, karena ada suara yang kami kenali sayup-sayup dan mengharukan, terdengar dari suatu tempat yang aneh.”

Allah lalu berfirman, “Itulah hamba-Ku Yunus. Dia telah mendurhakai Aku, maka Aku menahannya dalam perut ikan paus yang ada di dalam lautan.”

Para malaikat lalu berkata, “Wahai Tuhanku, dia adalah hamba yang saleh, dimana amal shalehnya begitu banyak sekali naik ke atas langit di waktu siang dan malamnya.”

Ibnu Abbas berkata, Allah SWT pun berfirman ‘Memang benar.’
Ditambahkan oleh Ibnu Abbas, para malaikat langit dan bumi kemudian memberi syafaat kepadanya. Dan Allah mengutus malaikat Jibril as seraya berfirman, “Temuilah ikan paus yang telah menahan Yunus di perutnya dan katakan kepadanya bahwa Aku mempunyai suatu kepentingan dengan hamba-Ku itu. Perintahkanlah kepadanya agar ia segera berangkat kembali menuju ke tempat dimana ia menelan Yunus dahulu dan perintahkanlah pula agar ia mengeluarkan Yunus di sana!”

Malaikat Jibril as pun berangkat menemui ikan paus dan kemudian memberitahukan maksud kedatangannya. Setelah mendengar penuturan Jibril as, berangkatlah si ikan paus itu dengan membawa Nabi Yunus as, seraya berkata, “Wahai Tuhanku, aku merasa tenang di dalam lautan karena tasbihnya hamba-Mu, demikian pula semua hewan yang ada di lautan ini. Aku sekarang telah menjadi yang terbersih karenanya dan aku telah menjadikan perutku sebagai tempat shalat baginya untuk menyucikan Engkau, sehingga aku dan lautan yang ada di sekelilingku menjadi bersih juga. Sekarang apakah Engkau akan mengeluarkan dia dari perutku setelah sekian lama kami merasakan ketenangan bersamanya?”

Allah SWT berfirman, “Sekarang Aku telah mengampuni kesalahannya dan Aku telah mengasihinya. Karena itu, keluarkanlah dia!”

Dikatakan pula oleh Hasan, ikan paus itu lalu berenang ke suatu tempat di mana ia dahulu menelan Nabi Yunus as, yakni sebuah perairan tepatnya di tepian Sungai Tigris. Setelah sampai di tempat tujuan, malaikat Jibril lalu mendekatinya dan mendekatkan bibirnya ke mulut ikan paus seraya berkata, “Assalaamu’alaikum wahai Yunus, Tuhan Yang Maha Agung membacakan salam untukmu.”

Nabi Yunus as menjawab, “Selamat datang wahai suara yang selama ini aku khawatirkan tidak akan mendengarnya selama-lamanya. Selamat datang wahai suara yang selama ini kuharapkan selalu dekat dengan Tuhanku.”

Malaikat Jibril berkata kepada ikan paus, “Keluarkanlah Yunus dengan izin Allah Yang Maha Pengasih!”

Ikan paus tersebut kemudian mengeluarkan Nabi Yunus dari dalam perutnya sebagaimana anak burung yang baru ditetaskan tanpa memiliki bulu sedikit pun, dan Jibril pun kemudian mendekapnya.

Allah SWT kemudian menumbuhkan semacam pohon labu. Pohon itu sangat rindang sehingga dapat dipergunakan untuk berteduh. Cabang-cabang pohon itu diperintahkan-Nya agar dapat menyusui beliau sebagaimana halnya seorang balita.

Kepada Yunus as, Allah mengutus seekor kambing hutan betina yang deras air susunya dan kemudian kambing itu pun mendatangi beliau yang saat itu bagaikan anak burung yang masih kecil. Kambing hitam itu lalu menderum dan mengarahkan puting susunya ke mulut Nabi Yunus as. Beliau pun menyusunya sampai kenyang sebagaimana halnya anak kecil. Jika sudah kenyang beliau pun melepaskannya.

Kambing hutan betina itu berkali-kali datang kepada Nabi Yunus as hingga fisik beliau kembali pulih seperti sediakala, sebelum berada di perut ikan paus.

Beberapa orang melintasi Nabi Yunus dan memberikan pakaian kepada beliau. Suatu hari, ketika beliau sedang tidur, Allah memberikan wahyu kepada matahari agar membakar pohon milik Yunus as dan sang mentari pun menghanguskannya. Terik sang mentari pun menyengat tubuh Nabi Yunus as.

Nabi Yunus as pun berkata, “Tuhanku, Engkau telah menyelamatkan aku dari beberapa kegelapan. Engkau telah memberikan rezeki kepadaku sebatang pohon, di mana pohon itu dulu aku pergunakan untuk berteduh, tetapi sekarang Engkau telah membakarnya. Apakah Engkau telah mengharamkan kepadaku wahai Tuhanku?” Dan Nabi Yunus pun menangislah.

Malaikat Jibril as datang kepadanya seraya berkata, “Hai Yunus, sesungguhnya Allah telah berfirman, ‘Apakah engkau yang telah menanam pohon itu ataukah engkau yang menumbuhkannya?’
Nabi Yunus as menjawab, “Memang bukan aku.”

Jibril lalu berkata, “Engkau menangis ketika engkau mengetahui bahwa Allah telah memberikan pohon itu kepadamu, lalu bagaimana engkau tega mendoakan buruk 120.000 jiwa yang ingin engkau hancurkan?”

Ibnu Abbas berkata, kepada Yunus as, Jibril berkata, “Adakah engkau menangisi sebatang pohon yang telah ditumbuhkan Allah untukmu, dan engkau tidak menangisi seratus ribu jiwa bahkan lebih yang engkau kehendaki kehancuran mereka dalam suatu hari?” Pada saat itulah Nabi Yunus sadar akan dosanya. Beliau kemudian memohon ampun kepada Tuhannya dan Tuhan pun mengampuninya.

Diriwayatkan dari Az Zuhri, “Setelah kondisi fisik Nabi Yunus as kembali normal, beliau pun meninggalkan pohon tempatnya berteduh itu berjalan menyusuri jalan berliku hingga menghantarkan kepada seorang pengrajin guci.

Nabi Yunus bertanya, “Wahai hamba Allah, apakah pekerjaan Anda?”
Pengrajin guci itu menjawab, “Aku membuat guci dan menjualnya. Dari pekerjaan inilah aku mencari rezeki Allah.”

Allah kemudian memberikan wahyu kepada Nabi Yunus as agar mengatakan kepada sang pengrajin guci itu agar memecahkan guci buatannya. Karena mendapatkan firman Allah demikian itu, beliau pun mengatakannya. Si pengrajin guci pun marah seraya berkata, “Anda adalah orang yang jahat, Anda menyuruhku berbuat kerusakan, dan menyuruhku menghancurkan sendiri apa yang telah kubuat dan kuharapkan hasilnya!”

Kemudian Allah memberikan wahyu kepada Nabi Yunus as, “Lihatlah pengrajin guci ini, betapa dia amat marah ketika engkau menyuruhnya menghancurkan guci yang telah dibuatnya. Dan kamu sendiri telah meminta kepada-Ku agar menghancurkan kaummu! Apa yang menjadi keberatanmu memperbaiki kaummu yang berjumlah 120.000 itu?”

Allah SWT berfirman pula, “Maka, sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah – yakni termasuk orang-orang yang mendirikan shalat sebelum datangnya bencana (musibah) atas dirinya – niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS Ash Shaffat:143-144)

Ibnu Abbas berkata, “Barangsiapa mau mengingat Allah dalam keadaan lapang, Allah pun akan selalu mengingatnya dalam keadaan kesempitan dan Allah akan mengabulkan doanya. Dan barangsiapa lupa kepada Allah dalam keadaan lapang dan hanya mengingat-Nya dalam keadaan susah semata, Allah pun tidak akan mengabulkan doanya.”

Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nuun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al Anbiya’:87)

Allah SWT berfirman pula, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS Al Anbiya’: 88)

Maksud firman Allah SWT ini, “Demikian itulah Aku berbuat kepada orang-orang yang saleh jika mereka terjerumus dalam suatu kesalahan. Mereka lalu bertaubat kepada-Ku dan Aku pun menerima taubat mereka.”

Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw pernah bersabda, “Saudaraku Yunus as pernah berdoa dengan doa ini dalam keadaan yang sangat gelap, lalu Allah memberikan keselamatan kepadanya. Oleh karenanya, tidak seorang mukmin pun yang sedang dirundung kesusahan mau berdoa dengan doa ini, kecuali Allah SWT akan menghilangkan kesusahannya. Sesungguhnya doa ini adalah janji Allah, tidak akan diingkari.”

(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment