Tuesday, April 10, 2012

Kisah Pertaubatan Kaum Nabi Yunus as

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ketika Nabi Yunus as merasa berputus asa atas iman kaumnya, berdoalah beliau kepada Tuhan, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah membangkang dan mereka hanya melakukan kekafiran. Oleh sebab itu, turunkanlah siksa-Mu kepada mereka!”

Allah SWT pun kemudian menurunkan wahyu kepada beliau, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan azab kepada mereka.”

Kemudian keluarlah Nabi Yunus as kepada kaumnya dan memberikan ancaman kepada mereka, bahwa tiga hari lagi akan turun azab Allah. Beliau kemudian meninggalkan wilayah tersebut bersama istri dan kedua putranya yang masih kecil. Beliau berjalan terus sampai akhirnya pada sebuah bukit. Lalu mendakinya sambil mengarahkan pandangan kepada penduduk Ninawa (sebuah kota yangterletak di sebelah barat laut wilayah Irak) dan menanti datangnya azab Allah.

Dan Allah pun kemudian mengutus malaikat Jibril as dengan firman-Nya, “Pergilah kamu kepada malaikat Malik si penjaga neraka dan katakan kepadanya agar mengeluarkan angin panas neraka Jahannam sebesar biji jelai, lalu perintahkan kepadanya agar dia membawa dan menebarkannya di kota Ninawa dan menanti datangnya azab Allah.”

Maka berangkatlah malaikat Jibril menemui malaikat Malik dan segera pula menyampaikan apa yang telah diperintahkan oleh Tuhannya itu. Pada akhirnya kaum Nabi Yunus as pun merasakan siksaan ketika azab itu benar-benar diturunkan sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan oleh Nabi Yunus as kepada mereka.

Abu Al Jalad berkata, Ketika siksa itu telah diturunkan kepada kaum Nabi Yunus as, kepala mereka pusing dan pandangannya seketika menjadi gelap.

Ibnu Abbas berkata, Mereka merasa yakin bahwa siksaan Allah pastilah segera ditimpakan atas mereka, barulah mereka menyadari sebenarnya Nabi Yunus telah berkata benar kepada mereka. Akhirnya mereka pun pergi mencari beliau kesana kemari, akan tetapi tiada kunjung menemukan beliau. Karena gagal menemukan Nabi Yunus as, mereka sepakat untuk bersama-sama menghadap Allah dan bertaubat kepada-Nya.

Akhirnya mereka pergi menuju ke sebuah tempat yang bernama ‘anak bukit debu’ dan ‘anak bukit taubat’.
Dinamakan dengan ‘anak bukit debu’ karena kaum laki-laki, wanita dan para hamab sahaya semuanya telah meninggalkan perkampungannya dengan membawa hewan ternak dan piaraannya. Mereka pisahkan antara ibu yang sedang menyusui dan anaknya, hewan ternak dan anak-anaknya, sedang kepala mereka ditaburi debu dan di bawah telapak kaki diletakkan duri. Ada yang mengenakan pakaian tenun kasar, ada pula yang mengenakan pakaian wool. Mereka kemudian memohon pertolongan kepada Allah diiringi jerit tangis memilukan sambil tetap berdoa. Karenanya, Allah SWT Maha Mengetahui akan kebenaran ucapan mereka.

Para malaikat lalu berkata, “Wahai Tuhanku, rahmat-Mu telah mencakup segala sesuatu. Mereka anak cucu Adam yang dewasa telah Engkau siksa. Lalau bagaimana mereka yang masih kecil dan hewan ternaknya?”

Mendengar keluhan para malaikat ini Allah SWT berfirman, “Wahai Jibril, hilangkan siksa itu dari mereka, sekarang Aku telah menerima taubat mereka.”

Allah SWT berfirman, “Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Nabi Yunus? Tatkala mereka (kaum Nabi Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu.” (QS Yunus: 98)

Diriwayatkan dari Abu Jalad; Ketika siksa Allah telah ditimpakan kepada kaum Nabi Yunus, kepala mereka pun menjadi pening dan penglihatannya gelap. Mereka yang masih berpikiran sehat lalu pergi menemui salah satu ulama yang masih hidup kala itu. Mereka berkata, “Kepada kami telah turun suatu azab sebagaimana yang engkau lihat sendiri. Oleh karena itu, ajarilah kami sebuah doa. Semoga dengan doa itu Allah SWT berkenan menghilangkan siksa-Nya kepada kami.”

“Baca saja doa ini, ‘Wahai Dzat yang selalu hidup yang tidak akan mati. Wahai Dzat Yang Hidup yang menghidupkan orang-orang yang telah mati. Wahai Dzat Yang Hidup yang tiada Tuhan selain Engkau” Dan akhirnya Allah menghilangkan azab itu dari mereka. (HR Ahmad)

Diriwayatkan dari Al Hasan; Ketika Nabi Yunus as telah diselamatkan oleh Allah SWT dari perut ikan paus, beliau kembali pulang dan di tengah-tengah perjalanan bertemulah beliau dengan salah seorang kaumnya yang sedang menggembala kambing. Nabi Yunus as lalu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau wahai hamba Allah?”
“Saya adalah salah seorang dari kaum Nabi Yunus bin Matta,” jawab penggembala itu.
“Apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh Yunus?” tanya beliau kepada si penggembala kambing itu.
“Saya tidak tahu bagaimana keadaan beliau sekarang. Yang saya tahu, beliau adalah orang terbaik dan paling jujur. Beliau telah memberitahu kepada kami akan datangnya siksa Allah, dan ternyata siksa itu terjadi sebagaimana ucapan beliau. Kami pun kemudian bertaubat kepada Allah dan diterima-Nya. Sekarang kami sedang mencari beliau, namun belum juga menemukannya. Kami kehilangan jejak beliau dan tidak pernah mendengar beritanya sama sekali,” kata si penggembala itu.
“Apakah kamu mempunyai susu?” tanya Nabi Yunus as kepadanya.
“Tidak, demi Dzat yang telah memberi kemuliaan kepada Yunus, sejak Yunus meninggalkan kami, langit pun enggan menurunkan air hujan dan bumi pun tidak mau menumbuhkan rerumputan,” jawabnya.
“Bukankah kamu telah bersumpah dengan Tuhan Yunus?” tanya beliau.
“Memang, kami tidak pernah bersumpah kecuali hanya kepada Tuhan Yunus. Barangsiapa di negeri kita ini bersumpah kepada selain Tuhan Yunus, niscaya dia akan dirobek mulutnya sampai tengkuknya,” jawab si penggembala.
“Kapan kau mulai melakukan hal itu?” tanya Nabi Yunus.
“Sejak Allah menghilangkan siksa-Nya dari kami,” jawabnya.
“Berilah aku seekor kambing,” pinta beliau.

Nabi Yunus as pun diberi seekor induk kambing yang telah menyapih anaknya dan oleh beliau diusap-usapnya perut kambing itu seraya berkata “Keluarlah air susumu atas ijin Allah!” Sesaat kemudian air susu kambing itu lalu keluar dengan derasnya, beliau pun memerasnya hingga cukup untuk diminum mereka berdua. Setelah menghabiskan minumannya, si penggembala kambing itu berkata, “Bila Yunus itu masih hidup, niscaya engkaulah orangnya.”

“Akulah sebenarnya Yunus itu. Sekarang kembalilah kepada kaummu dan tolong sampaikan salamku kepada mereka,” pinta Nabi Yunus as.

Sesungguhnya seorang raja telah berkata, “Barangsiapa datang kepadaku dan memberitahukan bahwa dirinya telah melihat Yunus yang disertai dengan bukti-bukti, maka aku akan meletakkan jabatanku sebagai raja dan akan kuberikan kedudukanku itu kepadanya.” Aku sekarang telah bertemu dengan Yunus, akan tetapi aku tidak berani menyampaikan berita ini kepadanya tanpa bukti yang jelas, karena aku khawatir jika dikatakan kepadaku, ‘Kamu berkata demikian, barangkali hanya ingin diangkat menjadi raja dan karenanya kamu pun berani berdusta.’ Padahal saat ini barangsiapa berkata dusta, pasti akan dibunuh, sedangkan Anda (Nabi Yunus as) adalah orang terhormat di mata mereka. Sekarang Anda hendak menyuruhku datang menemui mereka dengan membawa kebohongan yang akhirnya dirikulah yang dihukum mati, “ jawab si penggembala kambing.

“Kambing yang kamu minum air susunya inilah yang menjadi saksimu,” kata beliau.
Saat beliau berkata demikian itu, Nabi Yunus as sedang bersandar pada sebuah batu besar, dan pada batu tersebut beliau berkata, “Saya minta supaya kamu ikut menjadi saksinya.”

Ibnu Sam’an berkata; Nabi Yunus as berkata kepada sang penggembala kambing, “Berangkatlah kamu kepada kaummu dan tolong sampaikanlah salamku kepadanya juga beritahukan kepada mereka bahwa dirimu telah bertemu denganku.”

Si penggembala kambing itu pun pulang dan memberitahukan kepada kaumnya tentang pertemuannya dengan Nabi Yunus as tetapi tiada yang mempercayai kata-katanya. Saat batu besar dan kambing miliknya menyampaikan kesaksiannya, menangislah mereka atas cerita tentang Nabi Yunus as yang telah disampaikannya tadi. Namun sayangnya, mereka tidak menyaksikannya sendiri. Kepada si penggembala kambing mereka berkata, “Apabila kamu benar-benar telah bertemu dengan Nabi Yunus as, sesungguhnya kamulah orang yang akan kami pilih sebagai pemimpin kami!”

Setelah berkata demikian, mereka lalu melantik si penggembala kambing itu sebagai raja mereka, seraya berkata, “Di kalangan kita ini tidak ada seorang pun yang berkedudukan lebih tinggi darimu. Setelah engkau bertemu dengan Yunus utusan Allah, sedikit pun kami tidak akan berani membantah apa yang menjadi perintahmu.”

Inilah akhir masa kehidupan Nabi Yunus as dan perawi hadis ini mengatakan bahwa sang penggembala kambing akhirnya menjadi raja mereka dan berkuasa selama 40 tahun.

(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment