Thursday, April 5, 2012

Kisah Pertaubatan Nabi Sulaiman as

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Nabi Sulaiman as adalah seorang yang suka berperang, beliau melakukan peperangan di laut dan di darat. Suatu ketika beliau mendengar bahwa di seberang lautan di sebuah jazirah ada seorang raja. Beliau pun berangkat menuju jazirah tersebut dengan berkendaraan angin yang diikuti oleh balatentara yang terdiri dari tentara jin dan manusia. Setelah sampai ke tempat tujuan yang dimaksud, beliau pun melancarkan serangan hingga sang raja tersebut terbunuh, dan berhasil menahan seluruh penghuni kerajaan. Beliau juga memboyong seorang gadis cantik yang kecantikan dan keindahannya belum pernah beliau saksikan sebelumnya, dialah putri raja yang terbunuh itu. Nabi Sulaiman as akhirnya memutuskan untuk mengambilnya sebagai seorang istri. Nabi Sulaiman as menemukan padanya sesuatu yang tidak ditemukannya pada seorang pun yang lain, demikian juga kadar kecintaan beliau terhadapnya melebihi kepada para istri lainnya.

Suatu hari saat Nabi Sulaiman as datang menemuinya, istrinya itu berkata, “Aku teringat akan ayahku, kerajaan dan peristiwa yang menimpanya, jika Anda berkenan sudilah kiranya memerintahkan sebagian setan untuk membuat patung ayahku di rumah ini, sehingga setiap pagi dan sore aku dapat menatapnya, dengan harapan hal tersebut dapat menghilangkan kesusahan dan hatiku menjadi tenang kembali!”

Mendengar permintaan sang istri ini, Nabi Sulaiman as lalu memerintahkan Sakhr Al-Marid agar membuat patung sosok ayah sang istri. Dan hasilnya sungguh di luar dugaan, bahkan tidak seorang pun menyangka bahwa patung itu tidak bernyawa, karena nyaris sempurna seperti ayah sang istri. Maka, diletakkanlah patung tersebut di sudut rumah. Sang istri lalu menghiasi patung itu dengan mengenakan pakaian padanya, sehingga patung itu sama seperti keadaan ayahnya semula.

Ketika Nabi Sulaiman as sedang keluar rumah, sang istri itu segera mendatangi patung tersebut bersama para dayang. Kemudian ditaburkannya wewangian, selanjutnya sang istri bersujud di hadapan patung ayahnya yang diikuti oleh dayang-dayangnya. Sementara itu, Nabi Sulaiman sendiri tidak mengetahui atas apa yang dilakukan sang istri hingga hal itu berlangsung sampai 40 hari.

Berita tentang apa yang dilakukan oleh sang istri beserta para dayang itu akhirnya terdengar juga oleh semua orang dan sampai juga kepada Ashif bin Barkhaya.

Ashif bin Barkhaya adalah sahabat karib Nabi Sulaiman as. Pada suatu hari Ashif bin Barkhaya datang menghadap Nabi Sulaiman as dan berkata, “Wahai Nabi Allah! Sungguh aku amat senang berada pada suatu tempat di mana pada tempat itu aku dapat mengingat kembali kisah para Nabi terdahulu dan aku dapat memujinya sesuai dengan pengetahuanku tentang mereka.”

Mendengar penuturan Ashif bin Barkhaya itu Nabi Sulaiman as lalu mengumpulkan orang-orang, dan Ashif pun berdiri untuk mengisahkan tentang para Nabi Allah terdahulu. Ashif memuji setiap nabi sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya, juga menyebutkan keutamaan Allah yang diberikan kepada mereka. Akhirnya kisah-kisah yang disampaikannya itu sampai juga kepada kisah tentang pribadi Nabi Sulaiman as. Ashif pun menyebutkan keutamaannya dan anugerah Allah yang telah diberikan kepadanya semasa beliau muda, kemudian Ashif diam, tidak melanjutkan ceritanya. Nabi Sulaiman as pun marah, lalu masuk ke dalam kediaman beliau. Beliau pun memerintahkan agar memanggil Ashif. Setelah Ashif datang menghadap, beliau bersabda, “Wahai Ashif, kamu telah menyebutkan kisah para Nabi terdahulu dan kamu telah memujinya sesuai dengan pengetahuanmu tentang mereka pada setiap periodenya. Akan tetapi ketika kamu menyebutkan kisahku dan kamu juga telah memujiku dengan adanya kebajikan yang aku lakukan ketika aku belia, namun kamu tidak melanjutkan kisahku saat aku menginjak usia lanjut! Aku sebenarnya yang telah kulakukan ketika aku telah menginjak usia lanjut ini?”

“Engkau telah melakukan sesuatu yang baru, yakni di dalam rumahmu ini ada yang menyembah selain Allah di bawah pimpinan seorang wanita,” jawab Ashif bin Barkhaya.

“Di rumahku?” tanya Nabi Sulaiman as.
“Betul, di rumahmu!” Jawab Ashif meyakinkan.
“Inna lillaahi wa inna ilahi raaji’uun! Aku baru tahu sekarang. Aku yakin bahwa apa yang kamu katakan itu karena ada yang telah memberi tahu kepadamu,” jawab Nabi Sulaiman as.

Nabi Sulaiman as lalu pulang ke rumah beliau dan menghancurkan patung tersebut serta menghukum sang istri beserta semua dayangnya yang ikut menyembah patung. Beliau kemudian meminta agar diambilkan pakaian bersih untuk dikenakannya, lalu keluar menuju ke sebuah tanah lapang. Di sana beliau menghamparkan abu, lalu bersimpuh di atasnya menghadap kepada Tuhannya untuk memohon ampunan. Dengan merendahkan diri sambil menangis serta memohon ampun kepada Allah, ia berkata, “Wahai Tuhanku, cobaan apa yang sebenarnya telah Engkau timpakan kepada keluarga Nabi Daud as, dimana mereka telah menyembah selain Engkau? Di rumah keluarga mereka telah disembah selain Engkau!”

Nabi Sulaiman as tetap bertahan dengan apa yang dilakukannya itu hingga hari menjelang sore, setelah itu barulah beliau pulang ke rumah. Pada saat itu beliau mempunyai dayang bernama Aminah. Adalah Nabi Sulaiman as ketika beliau hendak buang air besar atau menunaikan hajat dengan salah seorang istri beliau, senantiasa melepas cincinnya dan menitipkan kepada Aminah. Beliau selalu memakai cincin tersebut dalam keadaan suci. Allah telah menjadikan (kekuatan) kerajaan beliau pada cincin tersebut.

Wahb berkata, “Suatu ketika Nabi Sulaiman hendak mengambil air wudhu, beliau lalu menyerahkan cincin tersebut kepada Aminah. Tiba-tiba datanglah Sakhr Al-Marid mendahului Nabi Sulaiman as masuk ke tempat wudhu, Nabi Sulaiman as sendiri masuk ke kamar kecil untuk buang air. Ketika beliau masih berada di kamar kecil, si setan (Sakhr Al Marid) keluar dengan merubah bentuknya seperti Nabi Sulaiman sambil mengkibas-kibaskan jenggotnya dan air wudhu dan sedikit pun tidak ada yang menduga bila dia bukanlah Nabi Sulaiman. Sulaiman palsu itu pun kemudian berkata, “Mana cincinku, wahai Aminah!”

Aminah pun memberikannya dan sama sekali tidak menduga bila orang yang meminta cincin itu bukanlah Nabi Sulaiman as. Setelah menerima cincicn tersebut, Sulaiman palsu kemudian mengenakannya di jarinya dan pergi berlalu menuju singgasana Nabi Sulaiman as. Di atas singgasana itu Sulaiman palsu dikelilingi oleh sekawanan burung, jin dan manusia.

Setelah selesai menunaikan hajat, Nabi Sulaiman as keluar dan berkata kepada Aminah, “Mana cincinku?”
“Siapakah engkau ini?” tanya Aminah.
“Aku adalah Sulaiman bin Daud,” jawab Nabi Sulaiman as.

Saat beliau berkata demikian, keadaan Nabi Sulaiman as sudah berubah dari keadaan semula dan hilang pula kewibawaannya.
Mendengar jawaban Aminah itu, sadarlah Nabi Sulaiman bahwa beliau telah melakukan kesalahan.

Al Hasan berkata, “Kemudian pergilah Nabi Sulaiman as meninggalkan istananya karena khawatir atas diri pribadinya dan hanya dengan mengenakan baju gamis dan selembar kain sarung tanpa alas kaki dan songkok. Akhirnya sampailah beliau ke sebuah pintu rumah di jalan raya pada saat beliau merasakan kepayahan karena lapar, haus dan sangat kepanasan. Beliau pun mengetuk pintu tersebut dan keluarlah seorang wanita seraya berkata, “Apa tujuan Anda datang kemari?”

“Aku ingin bertamu sebentar. Anda saksikan sendiri, aku sedang kepanasan. Kedua belah kakiku terbakar dan aku sangat kelaparan dan kehausan,” jawab Nabi Sulaiman as.

“Suamiku sedang tidak ada di rumah,” kata wanita itu. “Aku tidak bisa menerima tamu laki-laki asing. Oleh karenanya, silahkan Anda istirahat dulu di kebun, di sana tersedia air dan buah-buahan, Anda boleh memakan buah-buahan yang ada di dalamnya dan mandi di sana. Jika suami saya telah datang, akan saya mintakan ijin kepada Anda untuk menerimamu. Bila suami saya mengijinkannya, Anda boleh bertamu dan bila tidak, Anda telah mendapatkan rezeki dari Allah (karena telah memakan buah-buahan dan mandi) dan Anda boleh pergi.”

Nabi Sulaiman as pun pergi ke kebun dan mandi. Sesudah mandi, Nabi Sulaiman as merebahkan diri hingga beliau tertidur. Namun ada lalat yang mengganggunya. Tiba-tiba datanglah seekor ular hitam menggigit sebatang ranting pohon kayu wangi (raihanah) dari kebun tersebut. Dengan sebatang ranting itu, ular hitam tadi mengusir lalat-lalat tersebut dari Nabi Sulaiman as. Hal ini terus berlangsung hingga datanglah suami wanita itu, dan berceritalah sang istri kepada suaminya perihal adanya seorang tamu asing.

Mendengar cerita dari sang istri, suami wanita itu lalu datang menemui Nabi Sulaiman as. Setelah dia melihat ada seekor ular dan apa yang dilakukannya terhadap diri Nabi Sulaiman as dipanggilnya sang istri seraya berkata, “Kemarilah dan lihatlah keajaiban ini!”

Mendengar panggilan sang suami, si wanita pun datang dan melihat apa yang sedang terjadi, lalu keduanya menghampiri Nabi Sulaiman dan membangunkannya. Mereka pun berkata kepada beliau, “Wahai anak muda, ini adalah rumah kami, kami tidak akan melakukan sesuatu yang memberatkanmu. Inilah putriku akan kujodohkan kepadamu.” Putri mereka itu seorang wanita yang sangat cantik. Dan akhirnya Nabi Sulaiman pun menikah dengan putri mereka itu, serta tinggal bersama mereka selama tiga hari.

Setelah genap tiga hari Nabi Sulaiman as hidup bersama mereka, beliau kemudian berkata, “Aku harus pergi untuk mencari pekerjaan demi kepentingan diriku sendiri dan juga istriku.”

Setelah berkata demikian, maka Nabi Sulaiman as pun pergi untuk menemui orang-orang yang biasa berburu, kepada mereka beliau kemudian bertanya, “Apakah Anda sekalian masih membutuhkan tenaga seseorang yang dapat membantu Anda semua, sehingga dari hasil buruan Anda itu dapat memberikan sedikit upah kepadanya dan semoga Allah akan memberikan rezeki-Nya kepada Anda semuanya!”

“Kami sekarang sudah tidak berburu lagi dan kini pun kami tidak mempunyai sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu,” jawab para pemburu itu.

Mendengar jawaban dari mereka, Nabi Sulaiman pun meninggalkan mereka dan menemui pemburu-pemburu lainnya untuk menyampaikan maksud yang sama. Mereka menjawab, “Tentu dengan senang hati, kami bisa membantumu dengan apa yang ada pada kami.”

Nabi Sulaiman as kemudian tingga bersama mereka dan setiap malam beliau datang menemui sang istri sambil membawa hasil buruan. Hingga akhirnya orang-orang mengingkari keputusan Sulaiman (palsu) dan tindakannya. Ketika si jahat (Sakhr Al-Marid) mengetahui bahwa semua orang telah mengenalinya, dia pun pergi meninggalkan istana dan membuang cincin tersebut ke laut.

Al Hasan berkata, “Sakhr Al Marid telah membawa cincin Nabi Sulaiman as selama 40 hari.”
Dikisahkan pula bahwa Sakhr Al Marid telah menduduki kursi singgasana Nabi Sulaiman as, dan dia dikelilingi oleh bangsa jin, manusia dan setan. Dia dapat menguasai segala sesuatu yang dulu menjadi kekuasaan Nabi Sulaiman as, kecuali hanya istri-istri Nabi Sulaiman yang tidak dapat dikuasainya. Ketika itu, Nabi Sulaiman as pergi mengembara dan mengetuk pintu dari rumah ke rumah, bahkan pernah berdiri di depan pintu rumah sepasang suami istri, seraya berkata kepada mereka, “Berilah aku makan, aku adalah Sulaiman bin Daud!” Akan tetapi sang pemilik rumah tidak memberinya, bahkan mereka mengusir beliau dan berkata, “Apa yang membuatmu hingga berani berdusta kepada Sulaiman? Sedangkan beliau kini sedang duduk di atas singgasananya.”

Nabi Sulaiman as terus berjalan hingga akhirnya sekujur tubuh beliau merasa letih dan payah, cobaan semakin hebat. Setelah genap 40 hari maka berkatalah Ashif, “Wahai orang-orang Bani Israil, apakah kalian dapat merasakan perbedaan kebijaksanaan yang diberlakukan oleh putra Daud?”
“Ya!” jawab mereka.

Ketika itu Ashif bermaksud hendak menemui si jahat, tetapi dia (Sakhr Al-Marid) telah terlebih dahulu melemparkan cincinnya ke dasar laut. Bersamaan dengan dilemparkannya cincin tersebut, datanglah seekor ikan dan segera menelannya. Ketika cincin tersebut tertelan dalam perut ikan itu, maka perutnya seakan-akan terbakar karena pancaran sinar cincin itu. Ikan itu kemudian berenang menuju ke bagian air yang agak dangkal, dan akhirnya masuk ke dalam jaring para pemburu yang menjadi rombongan Nabi Sulaiman as.

Hari menjelang sore, mereka pun membagi ikan hasil tangkapan mereka, Nabi Sulaiman mendapatkan bagian ikan (yang menelan cincin beliau). Sesampainya di rumah Nabi Sulaiman memerintahkan kepada istri beliau agar memasaknya. Saat membedah perut ikan itu, seketika rumah mereka bersinar terang karena cincin tersebut, dan segera dipanggilnya Nabi Sulaiman dan diperlihatkannya cincin itu kepada beliau.

Beliau pun kemudian meminta cincin itu untuk dikenakannya kembali, dan bersujudlah beliau kepada Allah SWT seraya berdoa, “Tuhanku, hanya untuk-Mu lah segala puji atas berlalunya ujian-Mu dan kebaikan-Mu dan kebaikan-Mu atas keluarga Daud. Tuhanku, Engkau telah memberikan beberapa nikmat kepada mereka (keluarga Daud) dan Engkau juga telah memberikan Al Kitab, kebijaksanaan dan kenabian. Hanya untuk-Mu lah segala puji. Tuhanku! Engkau berbuat murah kepada yang besar dan mengasihi kepada yang kecil. Hanya untuk-Mu lah segala puji. Nikmat-Mu telah tampak dan tidak akan samar lagi dan nikmat itu begitu banyak sehingga tidak terhitung. Hanya untuk-Mu lah segala puji. Tuhanku! Aku mohon Engkau berkenan menyempurnakan nikmat-Mu kepadaku serta ampunilah dosaku yang telah lewat dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang pun sesudahku nanti.”

Inilah yang dimaksud dengan firman Allah, “Sesungguhnya kami telah menguji Silaiman dan Kami jadikan (ia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit) kemudian dia bertobat.” (QS Shaad: 34)

Dan diriwayatkan pula dari Ikrimah, bahwasanya Nabi Sulaiman as ketika telah mendapat kembali kerajaannya, maka beliau pun memerintahkan agar membawa semua penghuni rumah itu dan mempersilahkan mereka semua duduk di tengah-tengah kerajaannya. Beliau tidak pernah mendapatkan wanita itu sebelum Allah mengembalikan kerajaan kepadanya kembali.

(Ibnu Qudamah Al Maqdisy. Mereka yang kembali, ragam kisah taubatan nashuha. Penerbit Risalah Gusti. Surabaya. 1999)

1 comment:

  1. apa bandung bondowoso itu nabi sulaiman????
    ada kemiripan,,,, jika pun rekayasa mungkin yang nyebarin punya silsilah yahudi ya

    ReplyDelete