Thursday, April 4, 2013

Habisnya Jatah Usia Seseorang


Atha’ bin Yasar berkata, “Apabila tiba malam pertengahan bulan Sya’ban, maka suatu lembaran diserahkan kepada malaikat pencabut nyawa, lalu dikatakan, “Cabutlah pada tahun ini orang ada dalam lembaran ini.”

“Tiada suatu hari melainkan malaikat pencabut nyawa menyelidiki setiap rumah sampai tiga kali. Maka barangsiapa mereka yang telah menyempurnakan rezeki dan telah habis ajalnya, maka dicabut nyawanya. Apabila ia dicabut nyawanya, maka keluarganya menghadapinya dengan jeritan dan tangisan. Lalu malaikat pencabut nyawa memegang kayu sisi pintu dan berkata, “Demi Allah, saya tidak memakan rezekinya dan tidak menghilangkan umurnya dan tidak mengurangi ajalnya. Dan sesungguhnya aku akan kembali sehingga aku tidak meninggalkan seorang pun di antara kamu.”[]

Perlakuan Berbeda dari Sang Malaikat Maut


Wahb bin Al Munabbih berkata,
“Ada seorang raja dari raja-raja menghendaki naik kendaraan ke suatu daerah di bumi, lalu ia meminta sepotong pakaian untuk digunakan. Ketika pakaian yang dipilihkan tidak mengagumkannya, maka ia meminta pakaian lain untuk digunakan, dan ia mencoba itu beberapa kali. Begitu pula saat ia meminta binatang kendaraan, ia memilih yang terbaik untuk dikendarai. Maka iblis datang, lalu ia meniup pada lubang hidungnya sekali tiupan, maka ia memenuhi raja itu dengan kesombongan.

Kemudian raja itu berjalan mengendarai kuda-kudanya, dan ia tidak memandang kepada manusia karena sombongnya.
Lalu datang seorang laki-laki yang buruk rupanya, laki-laki itu mengucapkan salam kepadanya. Maka sang raja tidak membalas salam kepadanya, lalu laki-laki itu memegang tali kendali binatang kendaraannya. Maka raja itu berkata, “Lepaskanlah tali kendali itu, sesungguhnya kamu telah mencari perkara!”
Laki-laki itu berkata, “Sesungguhnya saya mempunyai keperluan kepadamu.”
Raja itu berkata, “Sabarlah sehingga saya turun.”
Laki-laki itu berkata, “Tidak! Sekarang saja.” Maka laki-laki itu memaksakan raja di atas tali kendali binatang kendaraannya.
Raja itu berkata, “Sebutkanlah keperluanmu itu.”
Laki-laki itu berkata, “Itu rahasia.” Maka laki-laki itu mendekatkan kepalanya kepada raja dan membisikinya seraya berkata, “Saya adalah malaikat pencabut nyawa.”
Maka berubahlah warna muka raja dan berguncanglah lisannya kemudian dia berkata, “Tinggalkanlah saya sehingga saya kembali kepada keluargaku dan memenuhi keperluanku hingga saya berpisah dengan mereka.”
Malaikat pencabut nyawa berkata, “Tidak, demi Allah. Kamu tidak akan melihat keluargamu dan semua milikmu selama-lamanya.”
Lalu malaikat pencabut nyawa itu mencabut nyawa sang raja. Maka raja itu jatuh seolah-olah ia adalah sepotong kayu.

Kemudian malaikat pencabut nyawa itu pergi, lalu ia menjumpai seorang mukmin. Kemudian ia mengucapkan salam dan orang mukmin itu membalas salamnya. Malaikat itu berkata, “Sesungguhnya saya mempunyai keperluan kepadamu yang saya akan sebutkan pada telingamu.”
Orang mukmin itu berkata, “Sebutkanlah.”
Maka malaikat pencabut nyawa itu membisikinya dan berkata, “Aku adalah malaikat pencabut nyawa.”
Orang mukmin itu berkata, “Selamat datang. Maka demi Allah, tidak ada di bumi orang yang saya sukai perjumpaannya selain denganmu.”
Malaikat pencabut nyawa itu berkata, “Laksanakanlah keperluanmu.”
Orang mukmin itu berkata, “Tidak ada bagiku keperluan yang lebih besar dan lebih saya sukai daripada pertemuan dengan Allah Ta’ala.”
Malaikat pencabut nyawa berkata, “Pilihlah atas keadaan apa yang kamu inginkan saat saya mencabut nyawamu.”
Orang mukmin itu berkata, “Apakah engkau mampu berbuat demikian?”
Malaikat pencabut nyawa berkata, “Ya, saya diperintah dengan demikian.”
Orang mukmin itu berkata, “Tinggalkanlah saya sehingga saya berwudhu dan melakukan shalat, kemudian cabutlah nyawaku saat aku sedang bersujud.”
Maka malaikat pencabut nyawa itu mencabut nyawa orang mukmin saat ia sedang bersujud.[]

Dialog Malaikat Pencabut Nyawa dengan Ibrahim as dan Sulaiman as


Asy’ats bin Aslam berkata,
“Nabi Ibrahim as bertanya kepada malaikat pencabut nyawa dan namanya adalah Izrail dan ia mempunyai dua mata, yang satu di mukanya dan yang lain di kuduknya. Maka ia bertanya, “Hai malaikat pencabut nyawa! Apa yang kamu perbuat apabila ada seorang di timur dan seorang lagi di barat dan terjadi penyakit kolera dan dua barisan perang bertemu, bagaimana kamu melakukan tugasmu?”
Malaikat pencabut nyawa menjawab, “Saya panggil ruh-ruh itu dengan izin Allah, maka ruh-ruh itu diantara dua jari ini.”

Asy’ats terus berkata, “Bumi telah dibentangkan bagi malaikat pencabut nyawa lalu dibiarkan seperti baskom diantara kedua tangannya. Ia mengambil daripadanya apa yang dikehendaki.”

Nabi Sulaiman bin Dawud as bertanya kepada malaikat pencabut nyawa, “Mengapa saya tidak melihat engkau berlaku adil diantara dua manusia. Kamu mengambil ini dan tinggalkan ini.”

Malaikat pencabut nyawa menjawab, “Tidaklah saya tentang yang demikian itu lebih mengerti daripada kamu. Sesungguhnya itu adalah lembaran-lembaran yang dilemparkan kepadaku yang di dalamnya ada nama-nama.”[]

Cincin Berlafazkan Allah


Jabir bin Wida’ah berkata,
“Ada seorang pemuda yang suka berbuat keji, lalu ia hampir mati. Maka ibunya berkata kepadanya, ‘Hai anakku, berwasiatlah dengan sesuatu!’”

Pemuda itu berkata, “Ya, cincinku janganlah engkau membukanya! Sesungguhnya padanya ada sebutan Allah Ta’ala. Maka mudah-mudahan Allah menyayangiku.”

Ketika ia dikebumikan, maka ia diimpikan dalam tidur, lalu ia berkata, “Beritahukanlah kepada ibuku bahwa kalimat itu telah bermanfaat bagiku dan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosaku.”[]

Harapan Seorang Pendosa Di Ujung Maut


Wa’ilah bin Al Asqa’ menemui seorang sakit, lalu ia bertanya,
“Beritahukanlah kepadaku bagaimana sangkaanmu kepada Allah?”
Orang sakit itu menjawab, “Telah ditenggelamkan saya oleh dosa-dosa dan saya mendekati kebinasaan. Tetapi saya mengharapkan rahmat Tuhanku.”

Maka Wa’ilah mengucapkan takbir dan keluarga rumah juga mengucapkan takbir disebabkan takbir Wa’ilah. Wa’ilah berkata, “Allahu Akbar, saya mendengar Rasulullah saw bersabda”

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku menurut sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah ia menyangka kepada-Ku apa yang ia kehendaki”
(HR Ibnu Hibban) []

Harapan Seorang Pemarah


Tsabit Al Bannani berkata, “Ada seorang pemuda yang pemarah dan ia mempunyai ibu yang banyak menasihatinya seraya berkata kepadanya,
‘Hai anakku, sesungguhnya engkau mempunyai hari, maka ingatlah harimu.”

Maka ketika utusan Allah Ta’ala berupa malaikat maut datang menjemputnya, sang ibu menelungkup di atasnya dan ia berkata kepadanya,
“Hai anakku! Saya telah memperingatkanmu atas kejatuhanmu ini dan saya berkata kepadamu, ‘sesungguhnya engkau mempunyai hari’”

Maka pemuda itu berkata, “Hai ibuku, sesungguhnya saya mempunyai Tuhan yang banyak kebaikannya dan sesungguhnya saya mengharapkan agar Dia tidak meniadakanku pada hari itu akan sebagian kebaikan-Nya.”

Tsabit terus berkata, “Maka Allah menyayanginya dengan bagus sangkaannya kepada Tuhannya”[]

Monday, April 1, 2013

Nabi Adam as Menangis Tiga Ratus Tahun


Wahb bin Munabbih telah berkata:

Ketika Allah menurunkan Adam dari surga ke bumi, maka Adam tinggal dengan berurai air mata, lalu Allah Azza wa Jalla melihat kepadanya pada hari yang ketujuh sedang ia dalam keadaan susah, sedih, berduka cita, lagi tertunduk kepalanya.
Allah Ta’ala mewahyukan kepada Adam, “Hai Adam! Apa kesungguhan ini yang Aku lihat padamu?”

Adam menjawab, “Wahai Tuhan! Bencana besar dan kesalahan mengitariku, dan saya dikeluarkan dari negeri malakut Tuhanku, lalu saya menjadi berada di negeri kehinaan setelah berada di negeri kemuliaan, di negeri celaka setelah negeri kesenangan, di negeri bencana setelah negeri sehat wal afiat, di negeri yang hilang setelah negeri yang tetap, dan di negeri kematian dan kebinasaan setelah negeri yang abadi dan kekal. Maka bagaimana saya tidak menangis atas kesalahanku.”

Maka Allah mewahyukan kepada Adam, “Hai Adam! Tidakkah Aku memilihmu bagi diri-Ku, Aku tempatkan kamu di rumah-Ku, Aku khususkan kamu dengan kemuliaan-Ku dan Aku peringatkan kamu akan kemarahan-Ku.
Tidakkah Aku menciptakanmu dengan tangan-Ku dan Aku tiupkan padamu akan ruhku dan Aku suruh para malaikat sujud kepadamu, lalu kau mendurhakai perintah-Ku dan kamu lupa janjimu dan kamu menghadapi kemarahan-Ku.
Maka demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, jikalau bumi dengan orang-orang semuanya seperti kamu, mereka menyembah-Ku dan bertasbih kepada-Ku kemudian mereka durhaka kepada-Ku, niscaya Aku tempatkan mereka pada tempat orang-orang yang durhaka.”

Maka Nabi Adam as menangis ketika itu selama tiga ratus tahun.[]